Kanal24, Malang – Bagi sebagian orang, sampah menjadi akhir dari sebuah penggunaan. Namun bagi Kelompok 28 Program Mahasiswa Membangun Mitra (3M) Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya, sampah justru menjadi awal dari sebuah perubahan. Melalui inovasi dan pendampingan, limbah rumah tangga di Kelurahan Kotalama, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, diolah menjadi produk bernilai guna dan bernilai ekonomi.
Tidak sekadar memberikan edukasi, mahasiswa FTAB UB menghadirkan solusi berbasis teknologi tepat guna untuk mengubah cara pandang warga terhadap limbah. Melalui kegiatan yang berlangsung pada 26–30 Juni di Balai RW 03 Kelurahan Kotalama, program ini mengajak warga menerapkan konsep ekonomi sirkular agar sampah dapat dimanfaatkan kembali secara berkelanjutan.
Baca Juga:
Mahasiswa FBD 13 Edukasi PKK Soal AI dan Hoaks
Edukasi Limbah Dorong Ekonomi Sirkular Kotalama
Permasalahan sampah organik masih menjadi tantangan di kawasan perkotaan, termasuk Kelurahan Kotalama, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Sisa makanan rumah tangga yang belum terkelola secara optimal serta limbah minyak jelantah yang masih dibuang sembarangan berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan, bau tidak sedap, hingga gangguan kesehatan.

Melihat kondisi tersebut, Kelompok 28 Program Mahasiswa Membangun Mitra (3M) FTAB UB menghadirkan program pemberdayaan berbasis inovasi lingkungan. Kegiatan ini berada di bawah bimbingan Tunjung Mahatmanto, STP., M.Si., Ph.D. dan Hendrix Yulis Setyawan, S.T.P., M.Si., Ph.D.
Program tersebut melibatkan mahasiswa Kelompok 28, dosen pembimbing, dosen anggota, perangkat Kelurahan Kotalama, serta warga setempat. Melalui pendekatan edukatif, mahasiswa memperkenalkan bahwa limbah bukan sekadar bahan buangan, tetapi sumber daya yang dapat diolah kembali untuk mendukung penerapan SDG 12 (Responsible Consumption and Production).
Selama pelaksanaan kegiatan, peserta mendapatkan berbagai materi mulai dari keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam penggunaan alat Teknologi Tepat Guna (TTG), pemilahan sampah rumah tangga, pemanfaatan air lindi menjadi pupuk hidroponik, hingga pembuatan pupuk organik cair berbahan kasgot dan air cucian beras.
Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan konsep circular economy, pemanfaatan maggot sebagai pakan ikan, penggunaan kasgot sebagai media tanam, pengembangan kemasan produk, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana pemasaran digital.
Jelantah Rumah Tangga Disulap Jadi Lilin Aromaterapi
Salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam kegiatan ini adalah pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi bernilai ekonomi. Langkah tersebut menjadi upaya untuk meningkatkan kesadaran warga terhadap dampak penggunaan minyak jelantah secara berulang maupun pembuangan limbah secara langsung ke lingkungan.
Hendrix Yulis Setyawan, Ph.D. selaku dosen pembimbing menjelaskan bahwa pemanfaatan minyak jelantah menjadi produk baru menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular berbasis rumah tangga.
“Salah satu fokus utama kegiatan ini adalah sosialisasi mengenai bahaya penggunaan minyak jelantah secara berulang terhadap kesehatan serta dampaknya apabila dibuang langsung ke lingkungan. Selain itu, masyarakat juga diperkenalkan pada pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi sebagai produk bernilai ekonomi,” jelasnya.
Melalui kegiatan tersebut, warga tidak hanya memahami dampak limbah terhadap lingkungan, tetapi juga memperoleh keterampilan praktis untuk mengolah bahan sisa menjadi produk dengan nilai tambah.
Teknologi SOLID Percepat Pengolahan Sampah Organik
Puncak kegiatan ditandai dengan sosialisasi penggunaan alat SOLID (Shredding Organic Litter with Integrated Dewatering), sebuah inovasi Teknologi Tepat Guna yang berfungsi mencacah sekaligus mengurangi kadar air sampah organik sebelum dimanfaatkan sebagai pakan maggot.
Teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi proses biokonversi, mempercepat pengolahan limbah organik, serta mendukung terwujudnya SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui pengelolaan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Salah satu perwakilan Kelurahan Kotalama menyampaikan apresiasi terhadap program 3M FTAB UB. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan manfaat nyata karena warga memperoleh pengetahuan baru dalam mengolah limbah menjadi produk yang lebih bermanfaat.
“Terima kasih untuk Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem UB dengan program 3M. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi warga kami karena limbah dapat diolah menjadi berbagai produk seperti pupuk hidroponik, pupuk organik cair, penggunaan kasgot hingga pembuatan lilin aromaterapi berbahan minyak jelantah,” ujarnya.
Melalui sosialisasi interaktif, penyuluhan, demonstrasi teknologi, serta pembagian booklet dan leaflet edukatif, warga Kelurahan Kotalama tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Program Kelompok 28 3M FTAB UB menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat mampu menghadirkan solusi nyata dalam pengelolaan limbah sekaligus membangun budaya peduli lingkungan yang berkelanjutan. (gal)













