Kanal24, Malang – Nilai tukar Rupiah masih berada dalam tekanan pada perdagangan Selasa (5/5/2026). Pergerakan mata uang nasional belum menunjukkan tanda penguatan yang stabil, melanjutkan tren pelemahan yang terjadi sejak akhir April.
Berdasarkan data Bank Indonesia melalui kurs referensi JISDOR terakhir pada Senin (4/5/2026), Rupiah tercatat berada di level Rp17.368 per dolar Amerika Serikat. Di pasar spot, Rupiah ditutup lebih lemah di kisaran Rp17.394 per dolar AS.
Pergerakan tersebut menempatkan Rupiah dalam fase volatil, dengan rentang pergerakan harian yang masih lebar. Untuk perdagangan hari ini, pelaku pasar memperkirakan Rupiah bergerak di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.450 per dolar AS.
Tekanan terhadap Rupiah tidak berdiri sendiri. Dari sisi global, penguatan dolar AS masih didorong oleh ketidakpastian geopolitik serta pergeseran preferensi investor ke aset aman. Kondisi ini membuat aliran modal cenderung keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di sisi domestik, sejumlah indikator mulai memberi sinyal perlambatan. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia tercatat berada di level 49,1 pada April 2026, masuk ke zona kontraksi. Angka ini menunjukkan aktivitas industri mengalami penurunan setelah sebelumnya berada dalam fase ekspansi.
Selain itu, faktor musiman seperti periode pembagian dividen juga turut mendorong arus dana keluar, menambah tekanan terhadap nilai tukar.
Meski demikian, Bank Indonesia menegaskan stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas melalui kebijakan moneter dan intervensi di pasar. Namun kondisi saat ini menunjukkan tekanan terhadap Rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga terkait dengan daya tahan ekonomi domestik.
Situasi ini menempatkan Rupiah dalam posisi yang sensitif. Di satu sisi, stabilitas dijaga melalui kebijakan. Di sisi lain, indikator ekonomi menunjukkan ruang penguatan masih terbatas dalam jangka pendek.
Pergerakan ke depan akan sangat bergantung pada respons kebijakan serta perkembangan global. Selama tekanan eksternal dan sinyal perlambatan domestik belum mereda, Rupiah diperkirakan masih bergerak dalam fase volatil tanpa arah penguatan yang kuat.(Din)














