Kanal24, Malang – Kompetisi antarperguruan tinggi tidak lagi hanya soal akreditasi atau reputasi institusi. Dalam beberapa tahun terakhir, capaian mahasiswa di berbagai ajang justru menjadi indikator yang semakin menentukan posisi sebuah kampus di tingkat nasional.
Di tengah dinamika tersebut, Universitas Brawijaya (UB) mencatat capaian signifikan. Berdasarkan data Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, UB menempati peringkat ketiga nasional dalam kategori prestasi mahasiswa hingga April 2026.
Posisi ini menempatkan UB di jajaran teratas, bersanding dengan sejumlah perguruan tinggi besar seperti Universitas Gadjah Mada dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Capaian tersebut merupakan akumulasi dari berbagai kompetisi yang diikuti mahasiswa, mulai dari tingkat nasional hingga internasional.
Kepala UPT Pengembangan Talenta Mahasiswa UB, Prof. Dr. Eng. Abu Bakar Sambah, S.Pi., M.T., menyebut capaian ini tidak lepas dari perubahan pendekatan dalam pembinaan mahasiswa.
“UPT Pengembangan Talenta Mahasiswa berfungsi sebagai training center bagi mahasiswa. Kami tidak hanya mengirimkan mahasiswa untuk lomba, tetapi kami siapkan melalui klasterisasi minat dan bakat, mulai dari penalaran, robotik, hingga seni dan olahraga,” ujarnya.
Menurutnya, UB secara konsisten mengikuti 23 bidang lomba wajib yang dikelola Balai Pengembangan Talenta Indonesia (BPTI/Belmawa), termasuk PIMNAS, ONMIPA, hingga kompetisi teknologi seperti Kontes Robot Indonesia. Konsistensi tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga posisi di level nasional.

Dari Prestasi ke Portofolio Mahasiswa
Selain mendorong capaian kompetisi, UB juga tengah memperkuat sistem pengakuan aktivitas non-akademik melalui program Satuan Kegiatan Mahasiswa (SKM). Sistem ini dirancang untuk mendokumentasikan berbagai aktivitas mahasiswa sebagai bagian dari rekam jejak kompetensi.
Melalui SKM, keterlibatan mahasiswa dalam organisasi, kepanitiaan, hingga prestasi lomba akan tercatat dan terintegrasi dalam portofolio non-akademik.
“Sertifikat SKM ini akan membangun portofolio diri mahasiswa. Kami ingin lulusan UB tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga memiliki soft skill yang terverifikasi, sehingga mereka lebih kompetitif dan cepat terserap di dunia kerja,” jelasnya.
Pendekatan ini menunjukkan pergeseran orientasi pendidikan tinggi yang tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga kesiapan lulusan menghadapi kebutuhan industri.
Menjaga Konsistensi di Tengah Kompetisi
Meski telah berada di posisi tiga besar, tantangan bagi UB tidak berhenti pada capaian tersebut. Konsistensi menjadi faktor kunci untuk mempertahankan bahkan meningkatkan posisi di tengah persaingan yang semakin ketat.
Prof. Abu Bakar menekankan bahwa keberhasilan dalam kompetisi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan intelektual, tetapi juga ketelitian dan kepatuhan terhadap aturan.
“Harapan kami, seluruh sivitas akademika terus berkolaborasi membangun atmosfer prestasi ini. Kepada mahasiswa, jangan ragu untuk mencoba. Ikutilah organisasi, lomba, kepanitiaan, atau kegiatan kewirausahaan. Semua proses ini adalah investasi untuk masa depan dan reputasi universitas kita,” pungkasnya.
Capaian ini menjadi penanda bahwa strategi pembinaan yang terarah dapat berdampak langsung pada posisi institusi. Di sisi lain, hal ini juga menjadi pengingat bahwa prestasi mahasiswa kini menjadi wajah kompetisi perguruan tinggi di tingkat nasional.(Din)














