Kanal24, Malang – Arus minyak melalui Selat Hormuz kembali mencatat lonjakan di tengah ketegangan Amerika Serikat dan Iran yang masih membayangi jalur perdagangan energi dunia. Sebanyak sekitar 17 juta barel minyak mentah dilaporkan melewati jalur strategis tersebut pada Senin, menjadi volume tertinggi sejak perang Iran menyebabkan aktivitas pelayaran di kawasan itu terganggu.
Informasi tersebut disampaikan Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright pada Selasa (01/09/2026). Angka tersebut menjadi perhatian karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama pengiriman minyak dunia. Peningkatan volume menunjukkan bahwa sebagian aktivitas perdagangan energi mulai bergerak kembali, meski situasi keamanan di kawasan masih belum sepenuhnya stabil.
Baca juga:
Ekonomi Iran Tertekan, Rial Anjlok dan Ekspor Minyak Terganggu
Arus Minyak Mulai Kembali Meningkat
Kenaikan volume pengiriman minyak melalui Selat Hormuz menjadi perkembangan penting bagi pasar energi global. Selat yang berada di antara Iran dan Oman tersebut menjadi jalur strategis bagi kapal-kapal yang membawa minyak dari kawasan Teluk Persia menuju pasar internasional.
Catatan 17 juta barel pada Senin menjadi volume tertinggi sejak perang Iran menyebabkan penurunan aktivitas di jalur tersebut. Kondisi ini memberikan sinyal bahwa lalu lintas energi masih dapat berlangsung meskipun risiko geopolitik tetap tinggi.
Namun, peningkatan volume tersebut belum berarti aktivitas pelayaran telah kembali normal. Data pelacakan kapal menunjukkan lalu lintas kapal komoditas di Selat Hormuz masih mengalami penurunan. Pada Selasa, hanya empat kapal komoditas yang terpantau melintas, dibandingkan rata-rata sekitar 13 kapal dalam periode 10 hari sebelumnya.
Perbedaan antara tingginya volume minyak dan rendahnya jumlah kapal menunjukkan bahwa aktivitas pengiriman dapat dipengaruhi oleh jenis kapal, kapasitas muatan, serta pola pelayaran. Selain itu, data pelacakan juga memiliki keterbatasan karena sebagian kapal dapat mematikan sistem transponder selama perjalanan.
Ketegangan Iran dan AS Tekan Pasar Minyak
Perkembangan arus minyak tersebut terjadi ketika ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat. Serangkaian serangan dan aksi balasan dalam beberapa hari terakhir menimbulkan kekhawatiran baru terhadap keamanan jalur perdagangan di kawasan Teluk.
Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena sebelum konflik, jalur tersebut menangani hampir seperlima pengiriman minyak dunia. Gangguan berkepanjangan di kawasan ini berpotensi memengaruhi pasokan energi dan meningkatkan ketidakpastian harga minyak.
Pasar minyak pun merespons perkembangan tersebut. Harga minyak mentah Brent ditutup naik sekitar satu persen pada perdagangan Rabu (02/09/2026), mencapai US$95,63 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 0,9 persen menjadi US$91,01 per barel. Kenaikan tersebut terjadi ketika pelaku pasar kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan akibat konflik AS-Iran.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa meskipun pengiriman minyak melalui Hormuz meningkat, pasar masih melihat risiko geopolitik sebagai faktor penting dalam menentukan harga energi.
Pasokan Global Masih Dibayangi Risiko
Selain aktivitas di Selat Hormuz, sejumlah negara produsen minyak juga melakukan penyesuaian untuk menjaga ketersediaan pasokan global. Irak, misalnya, meningkatkan ekspor minyaknya pada Agustus menjadi sekitar 2,34 juta barel per hari, naik dari sekitar 1,35 juta barel per hari pada Juli.
Peningkatan ekspor Irak membantu menambah pasokan minyak ke pasar internasional ketika jalur perdagangan di kawasan Teluk menghadapi ketidakpastian. Namun, angka tersebut masih berada di bawah tingkat ekspor sebelum perang yang mencapai hampir 3,7 juta barel per hari.
Di sisi lain, gangguan terhadap ekspor Iran masih menjadi persoalan tersendiri. Data industri menunjukkan pengiriman minyak mentah Iran mengalami penurunan tajam akibat pembatasan pergerakan kapal. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa dampak konflik tidak hanya berkaitan dengan keamanan pelayaran, tetapi juga menyentuh kemampuan negara produsen dalam mempertahankan ekspor energi.
Bagi pasar global, meningkatnya kembali arus minyak melalui Hormuz menjadi kabar yang relatif positif karena menunjukkan bahwa jalur tersebut masih dapat digunakan untuk mengangkut energi dalam jumlah besar. Namun, kondisi keamanan yang berubah cepat membuat pemulihan tersebut belum dapat dianggap sepenuhnya stabil.
Dengan harga minyak yang masih berada di level tinggi dan lalu lintas kapal yang belum kembali ke rata-rata sebelum konflik, perkembangan di Selat Hormuz akan tetap menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar energi dunia. Setiap perubahan situasi keamanan di kawasan berpotensi kembali memengaruhi distribusi minyak sekaligus pergerakan harga energi global.(ffn)













