Kanal24, Malang – Pemerintah memastikan ketersediaan pangan nasional dalam kondisi aman menjelang potensi dampak fenomena El Nino yang diprediksi cukup ekstrem. Sejumlah komoditas strategis bahkan diproyeksikan mengalami surplus hingga Mei 2026.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman menyampaikan bahwa berdasarkan neraca pangan nasional, komoditas seperti jagung, gula konsumsi, telur ayam, hingga daging ayam berada dalam kondisi surplus. Hal ini dinilai menjadi modal penting dalam menghadapi tekanan perubahan iklim dan dinamika global.
“Tantangan pangan semakin kompleks, dipengaruhi oleh dinamika geopolitik serta perubahan iklim. Namun, berdasarkan proyeksi neraca pangan nasional hingga Mei 2026, pangan strategis nasional berada pada kondisi surplus dan relatif aman,” ujar Amran dalam Rapat Kerja di Gedung DPR, Selasa (07/04/2026).
Baca juga:
Kemnaker Buka Pembinaan K3 Gratis Bagi 2.100 Peserta
Secara rinci, pemerintah memproyeksikan surplus gula konsumsi mencapai 632 ribu ton. Angka ini berasal dari estimasi ketersediaan sebesar 1,81 juta ton, sementara kebutuhan nasional diperkirakan sekitar 1,18 juta ton.
Untuk komoditas daging ayam, surplus diprediksi mencapai 837 ribu ton, dengan proyeksi suplai sebesar 2,52 juta ton dan kebutuhan sekitar 1,68 juta ton. Sementara itu, telur ayam juga menunjukkan kondisi positif dengan proyeksi surplus sebesar 423 ribu ton dari total ketersediaan 3,16 juta ton dan kebutuhan 2,73 juta ton.
Jagung menjadi komoditas dengan surplus terbesar. Pemerintah memperkirakan kelebihan pasokan mencapai 4,35 juta ton, dari total produksi 11,49 juta ton dibandingkan kebutuhan sebesar 7,13 juta ton.
Dengan capaian tersebut, pemerintah optimistis stok pangan nasional mampu menopang kebutuhan masyarakat di tengah ancaman El Nino yang kerap memicu kekeringan berkepanjangan. Fenomena yang dijuluki “El Nino Godzilla” ini diperkirakan membawa dampak signifikan terhadap sektor pertanian, terutama pada produksi pangan.
Meski demikian, pemerintah menegaskan telah memiliki pengalaman dalam menghadapi kondisi serupa. Sejumlah langkah antisipatif juga terus dilakukan, termasuk penguatan cadangan pangan dan optimalisasi produksi dalam negeri.
Selain ketersediaan pasokan, aspek stabilitas harga juga menjadi perhatian. Amran menyebut harga sejumlah komoditas pangan cenderung stabil pasca Ramadan dan Idulfitri.
Berdasarkan data pemantauan, harga beras medium, beras SPHP, kedelai, dan bawang putih pada periode akhir Maret hingga awal April 2026 berada dalam kondisi terkendali, bahkan rata-rata berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Acuan Penjualan (HAP).
Sementara itu, harga cabai merah keriting juga relatif stabil dengan posisi di bawah HET. Kondisi ini menunjukkan upaya pengendalian harga pangan berjalan efektif di tengah fluktuasi permintaan musiman.
“Secara umum, harga pangan terkendali. Di saat bulan puasa, beberapa harga komoditas berada di atas HET tapi terkendali, dan inflasi pangan pun menunjukkan penurunan menjadi 1,58 persen di Maret 2026,” kata Amran.
Kondisi surplus dan stabilitas harga ini dinilai menjadi indikator positif bagi ketahanan pangan nasional. Pemerintah berharap tren tersebut dapat terus dijaga, terutama dalam menghadapi ketidakpastian iklim global dan potensi gangguan rantai pasok.
Ke depan, penguatan sektor produksi, distribusi, serta cadangan pangan akan menjadi kunci untuk memastikan ketersediaan tetap terjaga. Dengan demikian, masyarakat diharapkan tidak perlu khawatir terhadap potensi kekurangan pangan, meskipun menghadapi tantangan El Nino dalam beberapa bulan mendatang. (nid)














