Kanal24, Malang – Mengubah sampah menjadi pakan lobster bukan sekadar upaya mengurangi limbah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi sektor perikanan. Melalui riset kolaboratif, Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan formulasi pakan lobster berbahan magot yang dibudidayakan menggunakan limbah organik. Inovasi ini menghubungkan persoalan sampah dengan kebutuhan pakan dalam budidaya lobster melalui pendekatan ekonomi sirkular.
Pengembangan tersebut dibahas dalam Workshop CIRCULOBS 2026: From Organic Waste to Sustainable Lobster Feed. BRIN-Koneksi Research Project (Australia-Indonesia) Entittled “Sustainable Lobster Feed Inovation: A Circular Economy Approach Integrating Hermetia illucens and Mytilopsis adamsi from Organic Waste.” di Ruang Arjuna 3, lantai 1, Swiss-Belinn Malang, Senin (19/10/2026). Kolaborasi UB, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta Griffith University, Australia, ini diarahkan untuk menyempurnakan formulasi pakan, memetakan tantangan penerapan di lapangan, dan membuka peluang hilirisasi hasil riset. Meski prototipe telah tersedia, tim peneliti masih perlu mengoptimalkan produk agar sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan lobster dan dapat dimanfaatkan secara lebih luas.
Baca juga:
Dosen FH UB Tekankan Pentingnya Mengenali Diri untuk Jaga Kesehatan Mental
Limbah Organik Jadi Bahan Baku Pakan Lobster
Kepala UPT Green Campus UB, Prof. Sri Suhartini, S.T.P., M.Env.Mgt., Ph.D., PGCert, IPM, menjelaskan bahwa lokakarya tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan peneliti dengan pemangku kepentingan yang terlibat dalam rantai pengembangan pakan lobster. Pesertanya mencakup perwakilan pemerintah daerah, pelaku budidaya magot, serta pelaku usaha perikanan.

Menurut Sri, masukan dari berbagai pihak diperlukan untuk memahami tantangan sekaligus peluang pemanfaatan magot sebagai bahan pengganti tepung ikan dalam formulasi pakan lobster, baik lobster laut maupun lobster air tawar. Melalui diskusi tersebut, tim peneliti ingin membangun jejaring yang menghubungkan pengelolaan sampah organik, budidaya magot, pengembangan pakan, hingga pemanfaatannya dalam sektor perikanan.
Peneliti BRIN, Sunarti Sinaga, S.Si., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa pengembangan pakan alternatif berangkat dari tantangan budidaya lobster yang membutuhkan asupan nutrisi tinggi, terutama protein dan mineral. Di sisi lain, ketersediaan pakan yang sesuai masih menjadi persoalan bagi pembudidaya.

Selama ini, ikan rucah menjadi salah satu pilihan pakan. Namun, kualitas nutrisinya perlu diperhatikan. Sementara itu, kerang juga digunakan sebagai sumber pakan, tetapi ketersediaannya terbatas. Kondisi tersebut mendorong peneliti mengembangkan formulasi pakan alternatif dengan memanfaatkan magot yang dibudidayakan dari limbah organik rumah tangga maupun industri.
Melalui pendekatan ini, sampah organik tidak hanya dipandang sebagai residu yang perlu dikelola. Bahan tersebut berpotensi menjadi sumber daya untuk menghasilkan bahan baku pakan yang memiliki nilai ekonomi.
Prototipe Pakan Masih Perlu Dioptimalkan
Sri mengungkapkan bahwa tim peneliti telah mengembangkan prototipe pakan dalam bentuk pasta dan pelet kering. Meski demikian, pengembangan produk belum selesai. Tim masih membutuhkan masukan dari pemangku kepentingan untuk menilai peluang penerapan dan menentukan langkah pengembangan berikutnya.
Evaluasi tersebut mencakup analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman atau SWOT. Hasilnya diharapkan membantu tim menyusun jejaring kerja dan memetakan jalur hilirisasi agar produk riset berpeluang digunakan di luar lingkungan penelitian.
Tantangan lain terletak pada biaya, fasilitas, sumber daya manusia, serta kesinambungan rantai pasok dari hulu hingga hilir. Karena itu, pengembangan pakan tidak cukup hanya menghasilkan formulasi yang memenuhi kebutuhan nutrisi lobster. Produk juga harus mempertimbangkan kemampuan pembudidaya dalam memperoleh dan menggunakannya.
Sunarti menambahkan bahwa pembudidaya perlu memiliki pilihan pakan yang sesuai dengan kebutuhan budidaya. Magot berpotensi menjadi salah satu alternatif, tetapi produk yang dikembangkan tetap perlu diuji dan dioptimalkan agar mampu mendukung pertumbuhan lobster.
Dengan demikian, keberhasilan riset tidak hanya diukur dari tersedianya prototipe atau publikasi ilmiah. Produk perlu menjawab kebutuhan pengguna di lapangan, termasuk dari sisi kualitas, ketersediaan, dan keterjangkauan biaya.
Kolaborasi UB–Griffith Perkuat Riset Sirkular
Kolaborasi CIRCULOBS melibatkan peneliti dari Indonesia dan Australia. Profesor Teknik Lingkungan dari Griffith University, Prof. Prasad Kaparaju, Ph.D., menjelaskan bahwa Griffith menjadi peneliti utama dari pihak Australia, sedangkan BRIN memimpin dari pihak Indonesia.

Dalam proyek ini, Griffith berperan dalam pengelolaan dan koordinasi riset, pemetaan pemangku kepentingan, serta pengembangan pemantauan pertumbuhan lobster menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Pemantauan tersebut diarahkan untuk melihat pertumbuhan lobster ketika diberi formulasi pakan yang berbeda, termasuk yang menggunakan magot.
Prasad juga merencanakan kunjungan akademik ke UB selama tiga bulan, yakni April hingga Juni 2027. Kunjungan tersebut diharapkan memperkuat hubungan antarlembaga, membuka pertukaran peneliti, serta memberi kesempatan kepada mahasiswa doktoral untuk mengikuti kegiatan riset di Griffith University.
Kolaborasi ini turut membuka ruang pengembangan riset lain yang berkaitan dengan pengelolaan limbah terintegrasi, ekonomi sirkular, dan bioteknologi lingkungan. Dengan kerja sama lintas lembaga, pengolahan sampah organik diharapkan dapat dikembangkan menjadi bagian dari sistem produksi yang lebih berkelanjutan.
Pada akhirnya, CIRCULOBS tidak hanya berupaya mengembangkan bahan pakan alternatif. Riset ini juga menguji bagaimana pengelolaan sampah, inovasi teknologi, dan kebutuhan sektor perikanan dapat dihubungkan dalam satu rantai pemanfaatan. Tahap penting berikutnya adalah memastikan formulasi yang dihasilkan efektif, terjangkau, dan sesuai dengan kebutuhan pembudidaya lobster.(ern)













