Kanal24, Malang – Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (UB) menerima kunjungan benchmarking dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) dalam kegiatan “Benchmarking Closed House dan Entrepreneur Teaching Center”, Rabu (15/4/2026), di Ruang Sidang Utama Lt.6 Fapet UB. Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk berbagi praktik terbaik dalam pengelolaan kandang modern dan penguatan kompetensi mahasiswa.
Dekan FKH UNAIR, Prof. Dr. Lilik Maslachah, drh., M.Kes., menegaskan bahwa benchmarking ini penting untuk mendorong pengembangan fasilitas serupa di institusinya. “Kami ingin belajar bagaimana close house dan entrepreneur training center ini bisa memberikan impact bagi mahasiswa, kemudian bagi tridarma kami,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, rencana pembangunan fasilitas close house di UNAIR sebenarnya telah digagas sejak lama, namun belum terealisasi karena keterbatasan lahan. “Ada satu permasalahan yaitu lahan yang belum kami miliki, karena dekat sekali dengan pemukiman. Dengan saya hadir di sini ingin tahu bagaimana close house ini tidak berdampak bau, polusi, atau hal lain terhadap lingkungan,” jelasnya. Menurutnya, aspek keberlanjutan lingkungan menjadi pertimbangan utama dalam pengembangan fasilitas tersebut.
Baca juga:
Dana Abadi UB Jajaki Kerja Sama Investasi Trimegah

Lebih lanjut, Prof. Lilik menekankan pentingnya kolaborasi antara bidang kedokteran hewan dan peternakan dalam mendukung pendekatan One Health. Ia menyebut hubungan historis kedua fakultas sebagai fondasi kuat kerja sama. “Isu-isu lingkungan, penyakit, dan kesehatan dapat ditangani secara lebih terintegrasi melalui kolaborasi ini,” katanya. Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini berpotensi memperkaya kurikulum dan meningkatkan kesiapan mahasiswa menghadapi perkembangan teknologi di dunia kerja.
Sementara itu, Dekan Fapet UB, Prof. Dr. Ir. Muhammad Halim Natsir, MS., IPU., ASEAN Eng., menilai kegiatan benchmarking ini sebagai bagian dari upaya sinergi antarperguruan tinggi. Ia menjelaskan bahwa UB telah lebih dulu mengembangkan fasilitas serupa melalui dukungan industri. “Sejak tahun 2020 kami sudah mendapatkan hibah dari Charoen Pokphand, baik itu berupa kandang close house maupun fasilitas toko. UNAIR pada hari ini ingin mengembangkan hal yang sama,” ungkapnya.

Prof. Halim menambahkan, kerja sama antara kedua fakultas tidak hanya terbatas pada aspek fasilitas, tetapi juga akan diperluas ke bidang akademik dan penelitian. “Kerja sama ini tidak hanya terbatas pada pengelolaan kandang, tetapi juga kolaborasi penulisan jurnal, penelitian, dan program akademik lainnya,” ujarnya. Ia juga melihat potensi kolaborasi internasional, mengingat FKH UNAIR memiliki jumlah mahasiswa asing yang cukup signifikan.
Menurutnya, keberadaan close house dan Entrepreneur Training Center memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas lulusan. “Tujuan utamanya adalah meningkatkan kompetensi lulusan agar mampu bersaing di dunia kerja. Mahasiswa perlu memahami sistem close house karena ini merupakan standar kandang modern saat ini,” tegasnya.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya penguatan soft skills mahasiswa di tengah tantangan generasi digital. “Melalui Entrepreneur Training Center, mahasiswa dilatih untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat. Pengalaman praktik ini penting untuk melatih kemampuan komunikasi, sehingga mereka lebih siap menghadapi dunia kerja,” pungkasnya. (cay/qrn)













