Kanal24, Malang – Krisis air perlahan bergerak dari persoalan lingkungan menjadi tantangan besar yang menyentuh banyak aspek kehidupan, mulai dari perubahan iklim, hilangnya mata air, banjir, hingga ketahanan kota di masa depan. Di tengah kondisi tersebut, perguruan tinggi mulai didorong tidak lagi berhenti sebagai ruang akademik, tetapi hadir sebagai pusat pengetahuan yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Kesadaran itu yang mulai dibangun Universitas Brawijaya (UB) melalui rangkaian World Water Week 2026 dan Guest Lecture bertajuk Water for All People: Science, Policy, and Inclusive Action dalam peringatan Hari Air Sedunia 2026, Senin (11/5/2026). Dalam agenda tersebut, UB menggandeng UNESCO, Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, serta UNESCO Regional Office Jakarta untuk memperkuat isu keberlanjutan air melalui pendidikan, riset, dan gerakan kampus berdampak.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama, dan Internasionalisasi Universitas Brawijaya, Prof. Andi Kurniawan, S.Pi., M.Eng., D.Sc., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Air Sedunia yang sebelumnya tertunda karena momentum Idulfitri.
“Dalam rangkaian kerja sama ini, Universitas Brawijaya dipercaya untuk menerjemahkan ringkasan eksekutif laporan PBB tentang perkembangan air dunia atau World Water Development Report 2026,” ujarnya.
Menurutnya, hasil terjemahan tersebut telah dikirim ke Paris dan diluncurkan bersama versi bahasa resmi UNESCO lainnya pada 19 Maret lalu. Bagi UB, keterlibatan tersebut bukan sekadar simbol kerja sama internasional, tetapi bagian dari upaya memperluas kampanye kesadaran air dan membangun kolaborasi berkelanjutan dengan UNESCO.

Isu Air Mulai Didorong Masuk Kurikulum
Prof. Andi menjelaskan bahwa UB saat ini mengangkat tema sustainable ecohydrological approach for coastal resources management sebagai salah satu fokus keunggulan komparatif kampus yang akan terus dikembangkan melalui program Globalizing UB.
Tema tersebut nantinya akan diintegrasikan dalam berbagai agenda green campus, riset, hingga pembelajaran mahasiswa. Salah satu langkah utama yang didorong UB ialah memasukkan isu lingkungan dan keberlanjutan air ke dalam civic literacy dan kurikulum pembelajaran.
“Hari ini kita membutuhkan level baru dari pendidikan kewarganegaraan atau civic literacy. Kesadaran terhadap lingkungan dan aspek global itu sudah menjadi keharusan untuk masuk ke civic literacy,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa isu air tidak lagi dipandang sebagai persoalan yang berdiri sendiri, tetapi harus menjadi bagian terintegrasi dalam sistem pendidikan tinggi.
Menurut Prof. Andi, pendekatan tersebut juga menjadi bentuk konkret penerjemahan konsep kampus berdampak yang saat ini didorong pemerintah. Kampus dinilai perlu membawa kekuatan ilmu pengetahuan untuk menjawab problem nyata di masyarakat.
“Krisis air tentu menjadi tantangan besar di Malang Raya. Ada banyak problem lingkungan air mulai dari banjir sampai kehilangan mata air dan ini bagian dari kontribusi Universitas Brawijaya untuk merespons persoalan itu secara lebih terstruktur,” katanya.
Living Laboratory dan Kolaborasi Lingkungan
UB saat ini juga telah menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Batu, Pemerintah Kabupaten Malang, Pemerintah Kota Malang, hingga sejumlah perusahaan untuk mendukung isu keberlanjutan air melalui program CSR, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
Dalam implementasinya, berbagai persoalan lingkungan tersebut mulai didorong menjadi bagian dari pendekatan living laboratory melalui metode Outcome Based Education (OBE), case project, hingga project based learning.
“Permasalahan-permasalahan ini dijadikan sebagai hal yang didiskusikan oleh mahasiswa dan dosen untuk mencari solusi-solusi yang ada,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan UNESCO Regional Office Jakarta, Dr. Engin Koncagul, mengapresiasi langkah UB yang dinilai aktif mengambil peran dalam isu pengelolaan sumber daya air dan kesetaraan gender di sektor air.
Ia menyebut UB menjadi salah satu universitas di Indonesia yang mengambil inisiatif menerjemahkan laporan global UNESCO tentang sumber daya air tawar dunia ke dalam Bahasa Indonesia.
“Ini menunjukkan peran aktif Universitas Brawijaya dalam pengelolaan sumber daya air dan kesetaraan gender di sektor air,” katanya.
Di sisi lain, Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO juga menilai langkah UB sebagai bentuk keberanian kampus dalam membawa isu-isu global masuk ke dalam gerakan akademik dan program internal universitas.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada agenda seremonial, tetapi mampu memperkuat posisi perguruan tinggi sebagai ruang lahirnya solusi lingkungan yang berdampak langsung bagi masyarakat dan masa depan kota.(Din)














