KANAL24, Malang – Minat terhadap urban farming di Kota Malang sendiri tercatat melonjak, dengan lebih dari 115 kelompok aktif hingga tahun 2025. Fenomena ini merupakan respons masyarakat atas tantangan penyusutan lahan pertanian produktif akibat laju pembangunan kota. Namun, tim pengabdian UB mengidentifikasi adanya inefisiensi krusial: mayoritas pengelolaan lahan masih bersifat manual, sehingga kurang efisien dalam hal manajemen waktu dan konsumsi air. Kesenjangan inilah yang dijawab melalui pengembangan solusi presisi berbasis Internet of Things (IoT).
“Kami melihat antusias masyarakat untuk urban farming belum di imbangi dengan pengelolaan yang efisien dan memanfaatkan teknologi,” kata Dosen FT UB Eka Maulana, S.T,.M.T.,M.Eng.
Hal inilah yang menjadi perhatian Eka bersama mahasiswanya melalui program pengabdian masyarakat bertajuk “Tech for Farm” telah sukses diimplementasikan di Kelurahan Tlogomas, Malang. Inisiatif ini, yang berfokus pada penguatan ekonomi lokal melalui edukasi urban farming terintegrasi.
Eka Maulana, S.T., M.T., M.Eng., beserta tim dosen dan mahasiswa dari Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB). Program ini menjadi bukti nyata komitmen FT UB dalam menerapkan inovasi teknologi untuk pemberdayaan masyarakat dan ketahanan pangan.
Gerak cepat Eka dan tim memilih Taman TOGA Ngguyangan yang dikelola oleh PKK RT 06 RW 02 Tlogomas sebagai area implementasi sistem “Tech for Farm”. Selama periode Juli hingga September 2025, tim memasang sistem terintegrasi yang bekerja secara otonom. Berbasis data real-time, teknologi ini mampu mengatur irigasi tanaman, pengisian volume kolam, hingga pembuangan air keruh secara otomatis. Arsitektur teknis sistem ini ditenagai oleh mikrokontroler ESP32, yang mengolah data dari sensor kelembaban tanah, sensor ketinggian air, dan sensor TDS untuk kemudian menggerakkan modul pompa via jaringan IoT.

“Tech for Farm ini mengatur sirkulasi air hingga pembuangan secara otomatis. Dalam urban farming air memegang peranan penting,” lanjut Eka.
Dampak positif program tidak hanya bersifat teknis. Antusiasme masyarakat lokal terbukti sangat tinggi, ditandai dengan lonjakan partisipasi warga aktif sebesar 40%. Tim mencatat, jumlah kelompok pengelola inti yang terlibat dalam pendampingan bertumbuh dari tiga orang di awal program menjadi enam orang di sesi akhir. Capaian ini menunjukkan bahwa transfer pengetahuan melalui pelatihan dan pendampingan intensif telah berhasil melampaui sekadar instalasi perangkat.
Inisiatif “Tech for Farm” ini selaras dengan agenda Pemerintah Kota Malang dalam akselerasi Indeks Kota Pintar (IKP), khususnya pada pilar pemanfaatan teknologi di sektor pertanian urban dan pengelolaan ruang terbuka hijau. Program ini diharapkan dapat berfungsi sebagai model percontohan (showcase) nasional tentang bagaimana aplikasi IoT dapat secara praktis mendukung ketahanan pangan sekaligus memberdayakan ekonomi masyarakat di kawasan perkotaan.
Pihak Fakultas Teknik UB menegaskan bahwa program ini adalah bagian dari komitmen institusional yang lebih besar. Fakultas akan terus mendorong lahirnya inovasi aplikatif berbasis teknologi sebagai kontribusi nyata terhadap pembangunan berkelanjutan dan pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs).(sdk)















Comments 1