KANAL24, Malang – Pertemuan Presiden Prabowo bersama Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri pada Kamis 19 Maret 2026 menjadi atensi publik ditengah banyaknya isu geopolitik hingga resistensi publik di dalam negeri.
Menurut Pakar Komunikasi Politik UB Dr. Verdy Firmantoro pertemuan kedua tokoh tersebut memiliki arti penting dari sisi komunikasi politik.
“Ini bukan pertemuan biasa namun dari sisi komunikasi politik ini dapat menurunkan tensi politik domestik,” kata Verdy melalui pesan singkatnya.
Pertemuan ini mengandung dua pesan utama, menenangkan elite politik dan memberi sinyal ke publik bahwa situasi tetap terkendali. Stabilitas di tingkat elite menjadi penting, karena dalam banyak kasus, persepsi stabilitas nasional sangat ditentukan oleh relasi antar-elite.

Lebih lanjut, menurut Verdy yang juga Dosen Fisip UB, Pertemuan ini tidak terjadi secara kebetulan tapi selalu ada kepentingan. Apalagi pertemuan ini terjadi pasca di tengah dinamika publik yang cenderung kritis, mulai dari munculnya aksi teror atau intimidasi terhadap aktivis, kritik terhadap program pemerintah dan beberapa pembantu presiden (menteri), polemik keikutsertaan dalam forum seperti Board of Peace sampai meningkatnya sikap skeptis di masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan opini publik sedang menguat dan tidak bisa diabaikan.
“Dalam situasi seperti ini, langkah komunikasi politik menjadi krusial untuk mengelola persepsi,” lanjut Verdy.
Timing pertemuan menjelang Idul Fitri bukan kebetulan. Dalam kultur politik Indonesia, momentum ini sarat dengan makna seperti harmoni sosial, rekonsiliasi dan silaturahmi. Pertemuan elite dalam konteks ini menjadi simbol politik rekonsiliasi.
“Dari sisi waktu, pertemuan ini juga bagus jelang Idul Fitri dengan harapan tentunya dapat berdampak positif bagi politik domestik,” pungkas Verdy. (sdk)













