Oleh: Sumi Lestari *
Fenomena meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa di Malang dalam beberapa waktu terakhir bukan sekadar deretan angka yang mengkhawatirkan. Fenomena ini adalah sinyal darurat yang menandai rapuhnya kesehatan mental generasi muda, terutama mereka yang sedang berada dalam fase transisi kehidupan. Di balik wajah-wajah yang tampak “baik-baik saja”, tersembunyi tekanan psikologis yang kian menumpuk tanpa kanal pelampiasan yang memadai.
Data global menunjukkan bahwa bunuh diri merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi pada kelompok usia muda. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa bunuh diri menjadi penyebab kematian keempat pada usia 15–29 tahun. Dalam konteks Indonesia, meski data spesifik sering kali tidak terlaporkan secara komprehensif, tren peningkatan kasus dan percobaan bunuh diri di kalangan mahasiswa mulai menjadi perhatian serius berbagai institusi pendidikan.

Akumulasi Tekanan dan Kebuntuan Psikologis
Dalam perspektif psikologi, tindakan bunuh diri jarang terjadi secara tiba-tiba. Ia merupakan puncak dari akumulasi tekanan yang tidak terselesaikan. Kondisi ini dikenal sebagai psychological distress, yakni situasi ketika individu merasa tidak lagi memiliki kapasitas untuk menghadapi problematika hidupnya. Pada titik ini, kebuntuan menjadi pengalaman dominan—sebuah kondisi di mana semua jalan keluar tampak tertutup.
Mahasiswa, sebagai kelompok usia yang sedang mengalami transisi menuju kemandirian, berada dalam posisi yang sangat rentan. Mereka dituntut untuk berprestasi, menentukan arah masa depan, sekaligus beradaptasi dengan lingkungan sosial yang baru. Tuntutan ini sering kali tidak diimbangi dengan kesiapan psikologis yang memadai.
Lebih jauh, tekanan tersebut tidak berdiri sendiri. Ia hadir sebagai akumulasi dari berbagai faktor yang saling berkelindan—mulai dari persoalan akademik, relasi sosial, hingga kondisi keluarga. Ketika semua faktor ini hadir secara bersamaan, risiko munculnya keputusasaan menjadi semakin besar.
Rapuhnya Dukungan Keluarga dan Relasi Sosial
Salah satu faktor dominan yang kerap luput dari perhatian adalah kondisi keluarga. Relasi keluarga yang tidak harmonis, komunikasi yang tersendat, serta pola asuh yang cenderung otoriter menciptakan ruang kosong dalam kebutuhan emosional mahasiswa. Dalam situasi ini, mahasiswa kehilangan support system utama yang seharusnya menjadi tempat kembali saat menghadapi tekanan.
Di sisi lain, relasi dengan teman sebaya juga tidak selalu menjadi solusi. Adaptasi sosial yang tidak berjalan mulus, pengalaman penolakan, hingga perasaan tidak diterima dalam lingkungan pertemanan dapat memperparah rasa kesepian (loneliness). Perasaan ini bukan sekadar kondisi emosional biasa, melainkan faktor risiko serius yang berkorelasi dengan munculnya ide bunuh diri.
Fenomena ini diperkuat oleh gaya hidup generasi muda saat ini yang cenderung menutup diri ketika menghadapi masalah. Alih-alih mencari bantuan, banyak mahasiswa memilih menarik diri (withdrawal) karena takut terhadap stigma, penilaian negatif, atau bahkan perundungan. Akibatnya, masalah tidak pernah benar-benar terselesaikan, melainkan terus menumpuk hingga mencapai titik kritis.
Tanda-Tanda yang Sering Terabaikan
Ironisnya, banyak individu yang berada dalam kondisi rentan justru tampak “normal” di permukaan. Mereka tetap beraktivitas seperti biasa, bahkan terlihat ceria. Namun, perubahan kecil sebenarnya dapat menjadi indikator penting jika dicermati dengan empati.
Perubahan perilaku seperti menjadi lebih murung, menarik diri dari lingkungan sosial, penurunan kehadiran di kelas, hingga perubahan drastis dalam performa akademik merupakan sinyal yang tidak boleh diabaikan. Dalam banyak kasus, teman sebaya menjadi pihak yang paling mungkin mengenali perubahan ini lebih awal.
Sayangnya, sensitivitas terhadap tanda-tanda tersebut masih rendah. Lingkungan kampus sering kali lebih fokus pada capaian akademik dibandingkan kesejahteraan psikologis mahasiswa. Padahal, deteksi dini melalui relasi sosial yang suportif dapat menjadi langkah krusial dalam mencegah tragedi.
Kampus sebagai Ruang Aman: Antara Harapan dan Realitas
Berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Brawijaya, sebenarnya telah mengembangkan layanan konseling dan dukungan kesehatan mental. Kehadiran subdirektorat khusus, layanan konseling gratis, hingga pelatihan psychological first aid (PFA) bagi dosen dan tenaga kependidikan merupakan langkah progresif yang patut diapresiasi.
Namun, tantangan utamanya terletak pada aksesibilitas dan keberanian mahasiswa untuk memanfaatkan layanan tersebut. Stigma terhadap kesehatan mental masih menjadi penghalang utama. Banyak mahasiswa merasa ragu untuk mencari bantuan karena takut dianggap lemah atau “bermasalah”.
Di sinilah pentingnya pendekatan yang lebih proaktif. Kampus tidak cukup hanya menyediakan layanan, tetapi juga harus membangun budaya yang menormalisasi pencarian bantuan. Literasi kesehatan mental perlu diperkuat, tidak hanya sebagai pengetahuan, tetapi sebagai praktik keseharian.
Menumbuhkan Empati sebagai Strategi Pencegahan
Pada akhirnya, upaya pencegahan tidak bisa hanya bergantung pada institusi. Ia harus menjadi gerakan kolektif yang melibatkan seluruh elemen kampus—mahasiswa, dosen, hingga tenaga kependidikan. Empati menjadi kunci utama dalam membangun lingkungan yang aman secara psikologis.
Menyapa teman yang terlihat berbeda, mendengarkan tanpa menghakimi, serta berani menawarkan bantuan sederhana dapat menjadi langkah kecil dengan dampak besar. Dalam banyak kasus, kehadiran satu orang yang peduli dapat mengubah keputusan seseorang di titik paling kritis dalam hidupnya.
Mengurai Sunyi, Menjaga Harapan
Maraknya kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa adalah cerminan dari krisis yang lebih dalam—krisis makna, koneksi, dan dukungan. Ia tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan parsial atau reaktif semata.
Kita perlu melihatnya sebagai panggilan untuk membangun ulang ekosistem kampus yang lebih manusiawi. Kampus tidak hanya sebagai ruang belajar, tetapi juga sebagai ruang tumbuh yang aman secara emosional.
Pada akhirnya, setiap mahasiswa perlu diyakinkan bahwa mereka tidak sendiri. Bahwa selalu ada ruang untuk bercerita, selalu ada tangan yang siap meraih, dan selalu ada harapan—bahkan di saat yang paling gelap sekalipun.
*) Dr. Sumi Lestari, S.Psi., M.Si.,
Pakar Psikologi UB, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kewirausahaan Mahasiswa FISIP UB














