Kanal24, Malang – Industri plastik nasional kini berada di titik genting setelah pasokan bahan baku tersendat akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran memicu gangguan distribusi global, membuat pelaku industri di Indonesia harus menghadapi tekanan berlapis—dari kelangkaan bahan baku hingga lonjakan biaya produksi.
Dampak paling terasa datang dari terganggunya jalur distribusi utama, terutama setelah penutupan Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital pengiriman nafta, bahan baku utama plastik. Kondisi ini memaksa pelaku industri mencari sumber alternatif dari wilayah lain seperti Afrika dan Amerika, namun dengan konsekuensi biaya logistik yang jauh lebih mahal dan waktu pengiriman yang melonjak drastis.
Baca juga:
Harga LPG Nonsubsidi Naik, UMKM Kuliner Putar Strategi Bertahan
Jika sebelumnya pengiriman bahan baku dari Timur Tengah hanya memakan waktu sekitar dua pekan, kini bisa molor hingga lebih dari satu bulan. Di sisi lain, kebutuhan industri justru meningkat seiring ekspansi kapasitas produksi dalam negeri, menciptakan tekanan ganda yang sulit dihindari.
Situasi ini membuat pelaku usaha tak punya banyak pilihan selain masuk ke fase “bertahan hidup”. Risiko keterlambatan pasokan, fluktuasi harga, hingga beban biaya yang terus membengkak menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi setiap hari.
Tak hanya industri plastik, efek domino juga menghantam sektor makanan dan minuman. Kelangkaan bahan kemasan berbasis plastik membuat rantai produksi terganggu. Tanpa kemasan, produk tak bisa dipasarkan, sehingga mengancam keberlangsungan bisnis secara keseluruhan.
Untuk menyiasati kondisi ini, pelaku industri mulai melirik bahan baku alternatif seperti kondensat dan LPG. Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya mulus karena masih terganjal regulasi, termasuk kebijakan bea masuk yang dinilai belum mendukung penggunaan bahan substitusi secara optimal.
Di tengah tekanan tersebut, tantangan lain muncul dari sisi pembiayaan. Banyak pemasok kini meminta pembayaran di muka, memaksa perusahaan mengatur ulang strategi keuangan agar tetap bisa mengamankan pasokan bahan baku di tengah ketidakpastian global.
Kondisi ini menegaskan satu hal: konflik global tak hanya berdampak pada energi, tetapi juga merembet hingga ke industri hilir seperti plastik—yang selama ini menjadi tulang punggung berbagai sektor ekonomi di Indonesia. (nid)














