Kanal24, Jakarta – Kenaikan harga LPG nonsubsidi kembali menekan pelaku usaha, khususnya sektor kuliner. Sejak 18 April 2026, penyesuaian harga gas ukuran 5,5 kg dan 12 kg membuat biaya operasional UMKM dan restoran meningkat signifikan, memaksa pelaku usaha memutar strategi agar tetap bertahan.
PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga LPG nonsubsidi hingga sekitar 18–19 persen. Untuk wilayah Jawa dan Bali, harga LPG 12 kg kini berada di kisaran Rp228 ribu per tabung dari sebelumnya Rp192 ribu. Sementara LPG 5,5 kg naik dari sekitar Rp90 ribu menjadi Rp107 ribu per tabung.
Kebijakan ini merupakan bagian dari penyesuaian terhadap harga energi global yang terus bergejolak, termasuk dampak dinamika geopolitik yang memengaruhi harga minyak dunia.
Baca juga:
Selain Hormuz, Ini Jalur Minyak yang Kuasai Dunia
Pelaku Usaha Kena Dampak Langsung
Kenaikan harga LPG nonsubsidi langsung dirasakan pelaku usaha kuliner. Gas menjadi salah satu komponen utama dalam proses produksi, sehingga lonjakan harga otomatis meningkatkan biaya operasional.
Sejumlah pelaku usaha mengaku terkejut dengan kenaikan yang mencapai puluhan ribu rupiah per tabung. Kondisi ini membuat mereka harus menghitung ulang biaya produksi agar usaha tetap berjalan tanpa kehilangan pelanggan.
Tak sedikit pelaku usaha memilih menahan harga jual menu demi menjaga daya beli konsumen yang belum sepenuhnya pulih. Namun, langkah ini membuat margin keuntungan semakin tergerus.
Putar Otak: Efisiensi hingga Tekan Laba
Menghadapi tekanan biaya, berbagai strategi dilakukan. Mulai dari efisiensi penggunaan gas, pengurangan porsi keuntungan, hingga menyesuaikan skala produksi.
Asosiasi UMKM menilai, kenaikan harga LPG ini berpotensi menjadi beban tambahan yang cukup berat, terutama bagi usaha menengah di sektor restoran. Bahkan, sebagian pelaku usaha memilih mengurangi margin laba demi menjaga volume penjualan tetap stabil.
Di sisi lain, ada kekhawatiran kenaikan harga energi ini akan berdampak lanjutan terhadap harga makanan di pasaran, yang pada akhirnya bisa menekan permintaan.
Potensi Efek Domino ke Ekonomi
Pengamat ekonomi menilai dampak kenaikan LPG nonsubsidi memang lebih terasa pada kelompok menengah dan pelaku usaha. Meski begitu, efek lanjutan tetap perlu diwaspadai, terutama potensi inflasi di sektor makanan dan jasa.
Selain itu, ada risiko pergeseran konsumsi ke LPG bersubsidi 3 kg jika tekanan biaya semakin besar. Hal ini dikhawatirkan mengganggu distribusi subsidi yang seharusnya tepat sasaran.
Di tengah situasi ini, pelaku usaha kuliner berada di posisi dilematis: menaikkan harga berisiko kehilangan pelanggan, sementara menahan harga berarti harus siap dengan margin yang semakin tipis.
Kenaikan LPG nonsubsidi bukan sekadar soal energi—ini tentang bagaimana UMKM bertahan di tengah biaya yang terus naik. (nid)














