Kanal24, Malang – Upaya mendorong pembelajaran peternakan berstandar global diwujudkan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya melalui International Summer Course Program yang resmi digelar di Ruang Sidang Utama Lantai 6, Senin (20/4/2026), dengan menghadirkan mahasiswa dan akademisi lintas negara dalam satu forum kolaboratif.
Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Peternakan UB, Ir. Rizki Prafitri, S.Pt., M.A., Ph.D., menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memberikan pengalaman akademik yang lebih luas dibandingkan perkuliahan reguler. “Kalau perkuliahan reguler biasanya kita hanya mendapatkan informasi dari dosen Fakultas Peternakan sendiri. Saat ini kita sharing materi dengan dosen-dosen dari universitas lain juga dari Central Philippine University,” ujarnya.
Baca juga:
AITF Batch 2 UB Genjot Talenta AI Pecahkan Masalah Sosial

Menurutnya, kolaborasi lintas negara menjadi nilai utama dalam program ini karena mahasiswa dapat memahami perbandingan praktik peternakan di berbagai wilayah. “Sehingga kita bisa compare bagaimana yang terjadi di negara lain, bagaimana terjadi di Indonesia dan kita bisa melihat praktik-praktik baik yang dilakukan juga oleh negara lain,” jelasnya.
Ketua penyelenggara, Danung Nur Adli, S.Pt., M.Sc., M.Pt., menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari strategi Fakultas Peternakan UB dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang berorientasi global. “Program Summer Course ini merupakan salah satu upaya strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang berorientasi global,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada teori di dalam kelas, tetapi juga memberikan pengalaman langsung kepada peserta. “Mereka tidak hanya berada di kelas, tetapi juga akan mendapatkan berbagai case study, kemudian berkunjung ke lapang melihat berbagai masalah yang ada dan menganalisa,” katanya.
Selain itu, peserta juga dijadwalkan mengunjungi Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari untuk melihat langsung praktik di lapangan. Hal ini diharapkan mampu memberikan pemahaman komprehensif terkait pengelolaan peternakan di negara tropis, khususnya Indonesia.
Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan mahasiswa internasional dalam kegiatan ini. Salah satunya, Hezron Aus Cabungcal dari Central Philippine University, Filipina, mengaku tertarik mempelajari sistem pertanian di Indonesia. “Saya sangat tertarik dengan pertanian dan penasaran bagaimana sistem pertanian berjalan di negara lain seperti di Indonesia,” ujarnya.
Ia juga menilai program ini membuka peluang besar untuk kolaborasi lintas negara dalam menghadapi tantangan global. “Kita bisa melakukan kolaborasi, jika Filipina dan Indonesia sama-sama memiliki masalah, maka kita bisa mencari solusi bersama,” tambahnya.
Lebih lanjut, Hezron mengungkapkan kesan positif selama mengikuti kegiatan di Universitas Brawijaya. “Saya sangat senang berada di Universitas Brawijaya karena saya mendapatkan banyak teman dan masyarakat Indonesia sangat ramah,” katanya.
Melalui kegiatan ini, Universitas Brawijaya menunjukkan komitmennya dalam membangun jejaring internasional dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang peternakan. Program ini diharapkan mampu melahirkan kolaborasi nyata serta inovasi yang berdampak bagi pengembangan sektor peternakan di tingkat global. (cay)














