Kanal24, Malang – Di tengah lonjakan kebutuhan talenta Artificial Intelligence (AI) yang kian mendesak di berbagai sektor, kolaborasi antara kampus dan pemerintah mulai bergerak dari sekadar wacana menuju implementasi langsung. Universitas Brawijaya (UB) bersama Kementerian Komunikasi dan Digital kembali menggelar Workshop 2 Artificial Intelligence Teaching Factory (AITF) di Auditorium Lt.2 Fakultas Ilmu Komputer UB, Kamis (16/4/2026).
Program ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran, tetapi juga laboratorium pengembangan solusi berbasis kasus riil—mulai dari persoalan data kemiskinan hingga desain kebijakan sosial. Melalui pendekatan teaching factory, mahasiswa didorong tidak sekadar memahami teknologi AI, tetapi mampu menerjemahkan kebutuhan nyata menjadi inovasi yang aplikatif dan berdampak.
Dekan Fakultas Ilmu Komputer UB, Ir. Tri Astoto Kurniawan, menjelaskan bahwa workshop ini merupakan kelanjutan dari program AI Factory batch kedua yang sebelumnya telah dimulai pada Maret lalu.
Baca Juga :
Dekan FILKOM UB Soroti Etika Digital di Tengah Meningkatnya Akses Data
“Ini adalah workshop kedua dari program AI Factory yang diselenggarakan atas kerjasama antara Komdigi lebih tepatnya adalah Pusat Pengembangan Talenta Digital Komdigi dengan Universitas Brawijaya.” ujarnya. Ia menambahkan, “Workshop ini dalam rangka melakukan koordinasi dan konsolidasi progres yang sudah dicapai sampai dengan tahapan ini.”
Pada batch kedua ini, mahasiswa dihadapkan pada tantangan yang lebih kompleks dengan melibatkan Kementerian Sosial sebagai pemilik use case. Topik yang diangkat berkaitan dengan data kemiskinan dan program Sekolah Rakyat. “Tantangannya lebih besar karena melibatkan pihak ketiga, tidak hanya Komdigi dan UB saja, tapi juga dengan Kemensos.” kata Tri Astoto.

Menurutnya, pemahaman terhadap masalah menjadi kunci utama sebelum merancang solusi berbasis AI. Ia menekankan pentingnya mahasiswa memahami konteks dan kebutuhan dari pemilik kasus.
“Yang penting dari workshop ini adalah mereka bisa menangkap domain masalahnya apa, masalahnya seperti apa, kendalanya seperti apa.” jelasnya. Ia juga mengingatkan bahwa inovasi harus berdampak nyata. “ solusi yang baik adalah yang menyelesaikan masalah dan digunakan. Kalau tidak digunakan ya nanti sayang.” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik UB, Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP, menilai kegiatan ini strategis dalam mencetak talenta AI unggul. “Kita harapkan nanti mereka menjadi talenta-talenta yang memiliki kapasitas yang luar biasa dalam memanfaatkan tools AI untuk pengembangan kariernya di masa depan.” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa mahasiswa diharapkan mampu melakukan analisis, prediksi, hingga menyusun skenario kebijakan berbasis data.
Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP, juga menegaskan bahwa kebutuhan talenta AI di Indonesia masih sangat besar dan mencakup hampir seluruh sektor. “Semua sektor membutuhkan, semua kementerian membutuhkan, semua aspek dari desa hingga pusat membutuhkan” ujarnya. Keterlibatan industri dan pemerintah dalam menyediakan kasus nyata dinilai penting agar mahasiswa dapat mengasah kemampuan secara aplikatif dan relevan.
Di sisi lain, UB terus memperkuat dukungan infrastruktur riset berbasis AI, termasuk melalui penggunaan superkomputer. Namun, tingginya kebutuhan riset membuat fasilitas yang ada mulai mencapai batas kapasitas. “Bahkan super komputer kita dua juga sudah mulai jenuh. Kita sudah butuh lagi karena saking banyaknya riset-riset berbasis AI yang membutuhkan dukungan super komputer.” pungkasnya. (ger/yor)














