Kanal24
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Login
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
No Result
View All Result
Kanal24
No Result
View All Result

Oleh-oleh Haji itu Bernama Perubahan (Ishlah)

Dinia by Dinia
June 2, 2026
in Perspektif
0
Oleh-oleh Haji itu Bernama Perubahan (Ishlah)

Dr. Akhmad Muwafik Saleh, Pembimbing Ibadah Haji KBIHU UB 2026 (Ist.)

2
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Dr. Akhmad Muwafik Saleh*
(Dosen UB – Pembimbing Ibadah Haji KBIHU UB – Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar Tlogomas Malang)

Sudah menjadi rahasia umum bahwa jamaah haji Indonesia selain memiliki perilaku yang santun selama di Tanah Suci, juga memiliki perilaku konsumtif yang tinggi. Sehingga wajar apabila di Arab Saudi, para pedagangnya banyak yang bisa berbahasa Indonesia. Jamaah haji kita selalu membanjiri toko-toko yang ada di sekitar hotel tempat mereka menginap, bahkan pasar dadakan pagi selalu ramai apabila di situ merupakan wilayah penginapan jamaah haji Indonesia. Dan barang yang paling banyak mereka minati adalah segala macam jenis oleh-oleh yang akan mereka bawa pulang ke tanah air. Sehingga tidak jarang koper yang mereka bawa saat berangkat ke Tanah Suci, pulangnya bisa “hamil” bahkan “beranak”, karena sangat banyaknya oleh-oleh yang mereka bawa.

Namun menariknya, apabila kita telusuri sejarah, pada awal tahun 1900-an mereka yang berhaji ke Tanah Suci membawa oleh-oleh berupa kitab dan pemikiran. Sehingga setibanya di tanah air, mereka yang berhaji selalu membawa perubahan yang signifikan bagi masyarakat dan bangsanya. Sebutlah beberapa nama seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, H Samanhudi, Tuanku Imam Bonjol, Buya Hamka, KH Agus Salim, dan beberapa nama yang lain. Semua mereka menggerakkan perubahan atas bangsa ini setelah mereka menunaikan ibadah haji. Artinya, oleh-oleh yang mereka bawa bukanlah suvenir, boneka unta ataupun parfum minyak wangi, sebagaimana kebiasaan para jamaah haji Indonesia di akhir-akhir ini. Oleh-oleh yang mereka bawa dari Tanah Suci jauh lebih bermakna bagi masyarakat sekitar, yaitu berupa kepedulian sosial dan perubahan signifikan bagi bangsa Indonesia. Jika dahulu satu dua orang yang berhaji dapat memberikan pengaruh yang luar biasa bagi perubahan di masyarakat dan bangsanya, lalu bagaimana jika 221.000 orang yang berhaji? (2026).

Lalu, bagaimana dengan jamaah haji kita saat ini? Mungkin tidak perlu terlalu idealis seperti pada masa perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Cukup mereka membawa satu saja oleh-oleh yang dapat dibawa pulang ke tanah air, yaitu “semangat perubahan”. Karena sejatinya seluruh rangkaian ibadah haji adalah mendorong munculnya perubahan pada diri seseorang, sebagai modal dasar dalam melakukan perubahan yang lebih besar bagi masyarakat dan bangsanya. Harusnya para hujjaj menjadi penggerak perubahan, bukan pelancong spiritual.

Sebagaimana dalam semua rangkaian ibadah haji yang dimulai dari miqat, thawaf, sa’i (pada haji tamattu’), tarwiyah, wuquf di Arafah, Muzdalifah, Mina, lempar jumrah, tahallul hingga thawaf ifadhah. Semua ini memiliki pesan spiritual pada masing-masingnya yang berujung pada perubahan dan perbaikan diri (ishlah).

Jamaah Haji KBIHU Universitas Brawijaya (Ist.)

Mari kita perhatikan pesan dari setiap aktivitas haji itu.

Pertama, miqat. Memberikan pesan tentang pentingnya niat yang kuat di dalam memulai sesuatu serta komitmen untuk menjaga diri dari segala tindakan buruk dan sia-sia, menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain, menjauhi segala tindakan yang dapat merugikan orang. Semua ini harus dimulai dari niat yang kuat dan disiplin yang tinggi dalam menjaga komitmen kebaikan itu.

Kedua, thawaf. Mengajarkan arti kesetaraan manusia di hadapan Allah bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh pangkat, kekayaan, maupun status. Semua melebur tanpa batas dan hanyalah takwa yang membedakannya. Hal ini akan diperoleh manakala menjadikan Allah sebagai poros atau titik sentral dari segala niat, keputusan, dan tindakan.

Ketiga, sa’i. Mengajarkan bahwa setiap kita memiliki tanggung jawab, dan pemenuhan tanggung jawab itu haruslah dengan upaya tindakan nyata yang sungguh-sungguh. Namun tetaplah patut diingat, keberhasilan itu sejatinya bukanlah hasil usaha kita semata, melainkan karena kasih sayang Allah.

Keempat, tarwiyah. Mengajarkan perlunya persiapan yang matang dalam melakukan sesuatu. Karena keberhasilan sebuah tujuan haruslah direncanakan, dipersiapkan, dan disimulasikan.

Kelima, wuquf di Arafah. Mengajarkan pentingnya mengenali diri, jujur pada diri sendiri, melakukan evaluasi diri dan muhasabah, kemudian membangun komitmen perubahan ke arah yang lebih baik (ishlah).

Keenam, mabit di Mina. Mengajarkan tentang kesediaan menanggalkan kenyamanan dan menyatu dalam kesederhanaan, solidaritas, toleransi, serta kebersamaan tanpa sekat-sekat aksesori duniawi. Jabatan, kekayaan, dan status semuanya berupaya menghilangkan egoisme personal dan menyatu dalam penghambaan. Di sini kita dilatih untuk mengendalikan amarah dan emosi.

Jamaah Haji KBIHU Universitas Brawijaya (Ist.)

Ketujuh, lempar jumrah. Sebuah deklarasi perang melawan ego dan hawa nafsu. Melempar setan yang bersemayam dalam diri kita berupa keserakahan, kesombongan, keegoisan, dan nafsu serakah. Untuk selanjutnya, sepulang dari haji, kita bertekad untuk “merajam” dan membuang jauh-jauh sifat buruk tersebut dari kehidupan sehari-hari.

Kedelapan, tahallul (mencukur rambut). Melambangkan pembersihan masa lalu. Seperti bayi yang baru lahir yang biasanya dicukur rambutnya, jemaah yang melakukan tahallul sedang merontokkan dosa-dosa dan kesalahan masa lalunya. Ini adalah simbolisasi konkret bahwa ia memulai lembaran hidup yang baru, bersih, dan suci. Membuang perilaku buruknya di masa lalu dan memulai dengan komitmen baru untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Nilai-nilai inilah yang seharusnya menjadi oleh-oleh yang dibawa pulang oleh para jamaah haji ke tanah air, yaitu menjadi pribadi yang baru dan lebih baik. Seseorang yang ketaatannya kepada Allah semakin meningkat serta memiliki kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama (wa tawashau bil haq wa tawashau bis shabri).

Jika 221.000 jamaah haji (2026) mampu membawa pulang oleh-oleh berupa “pembelajaran sikap” selama di Tanah Suci dari seluruh rangkaian ibadah haji tersebut dalam kehidupan nyata kesehariannya masing-masing di tanah air, maka tentulah dengan sendirinya negeri ini akan berubah menuju kebaikan yang penuh cahaya hidayah. Menjadi negeri baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Insya Allah.

*) Dr. Akhmad Muwafik Saleh
Penulis adalah Dosen UB – Pembimbing Ibadah Haji KBIHU UB – Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar Tlogomas Malang

Post Views: 23
Tags: Dr Akhmad Muwafik Salehhaji mabruribadah hajiinspirasi hajiislah dirijamaah haji indonesiakbihu universitas brawijayaoleh oleh hajiperubahan dirirefleksi haji
Previous Post

Influencer Tak Bisa Dapat PPh Final UMKM, Menkeu Sebut Bukan Lapangan Kerja

Next Post

Dari Lukisan Gua hingga Proyeksi Cahaya, Bagaimana Seni Terus Berevolusi?

Dinia

Dinia

Next Post
Dari Lukisan Gua hingga Proyeksi Cahaya, Bagaimana Seni Terus Berevolusi?

Dari Lukisan Gua hingga Proyeksi Cahaya, Bagaimana Seni Terus Berevolusi?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
oval layer

5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

August 25, 2024
ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

August 4, 2023
Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

February 22, 2025
Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

August 3, 2023
Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

39
Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

8
Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

7
Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

7
Dari Lukisan Gua hingga Proyeksi Cahaya, Bagaimana Seni Terus Berevolusi?

Dari Lukisan Gua hingga Proyeksi Cahaya, Bagaimana Seni Terus Berevolusi?

June 2, 2026
Oleh-oleh Haji itu Bernama Perubahan (Ishlah)

Oleh-oleh Haji itu Bernama Perubahan (Ishlah)

June 2, 2026
Influencer Tak Bisa Dapat PPh Final UMKM, Menkeu Sebut Bukan Lapangan Kerja

Influencer Tak Bisa Dapat PPh Final UMKM, Menkeu Sebut Bukan Lapangan Kerja

June 2, 2026
Harga Sawit Anjlok, Petani Swadaya Jadi Korban Utama Gejolak Tata Niaga

Harga Sawit Anjlok, Petani Swadaya Jadi Korban Utama Gejolak Tata Niaga

June 2, 2026

Popular Stories

  • oval layer

    5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AYAT-AYAT KREATIVITAS DAN INOVASI PELAYANAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
UB Radio 107.5 FM
107.5 FM
Tap to Play
  • Berita
  • Tentang Kanal24
  • Layanan
  • Pedoman Media Siber
Copyright Kanal24.com 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Berita Terkiniā€Ž
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan

Copyright Kanal24.com 2025