Kanal24
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Login
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
No Result
View All Result
Kanal24
No Result
View All Result

Dari Lukisan Gua hingga Proyeksi Cahaya, Bagaimana Seni Terus Berevolusi?

Dinia by Dinia
June 2, 2026
in Gaya Hidup
0
Dari Lukisan Gua hingga Proyeksi Cahaya, Bagaimana Seni Terus Berevolusi?

Beambike.art in Amsterdam (Youtube DotART)

2
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Kanal24, Malang – Jauh sebelum manusia mengenal layar digital, internet, atau kecerdasan buatan, nenek moyang kita sudah lebih dulu menggunakan gambar sebagai cara berkomunikasi. Dinding-dinding gua di berbagai belahan dunia menyimpan jejak bagaimana manusia purba merekam kehidupan, berburu, hingga menyampaikan gagasan melalui visual.

Ribuan tahun kemudian, cara manusia bercerita memang berubah. Namun kebutuhan untuk menyampaikan makna melalui gambar tetap sama. Yang berubah hanyalah medianya.

Hari ini, ketika sebuah gedung dapat berubah menjadi kanvas raksasa melalui video mapping atau ketika pengunjung museum dapat masuk ke dalam dunia visual yang bergerak dan interaktif, banyak orang menganggapnya sebagai sesuatu yang benar-benar baru. Padahal, apa yang kita kenal sebagai media art sesungguhnya merupakan bagian dari perjalanan panjang evolusi seni yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Seni selalu berkembang mengikuti peradaban manusia. Ketika cara hidup berubah, teknologi berkembang, dan masyarakat menemukan medium baru untuk berkomunikasi, seni ikut bertransformasi. Karena itu, untuk memahami media art, kita perlu melihat perjalanan panjang bagaimana manusia terus menemukan cara baru untuk bercerita.

Ketika Seni Hidup di Atas Kanvas

Dalam sejarah panjang peradaban manusia, seni lahir sebagai cara untuk merekam pengalaman dan menyampaikan pesan. Lukisan menjadi medium utama yang digunakan selama berabad-abad.

Dari lukisan gua di Lascaux hingga karya para maestro seperti Leonardo da Vinci dan Vincent van Gogh, seni berkembang sebagai representasi gagasan, emosi, dan cara manusia memahami dunia. Pada masa itu, kanvas, cat, batu, atau dinding menjadi ruang utama bagi para seniman untuk berkarya.

Aktivasi program DIPA Media Art di Kota Malang (Ist)

Pengalaman menikmati seni juga bersifat statis. Penonton datang ke galeri atau museum untuk melihat karya yang tidak bergerak. Interaksi terjadi antara manusia dan objek seni yang diam.

Namun perubahan besar mulai terjadi pada abad ke-19 ketika fotografi ditemukan.

Fotografi Mengubah Cara Melihat Dunia

Kehadiran fotografi membawa revolusi besar dalam dunia seni dan komunikasi. Untuk pertama kalinya, manusia dapat merekam realitas secara cepat dan akurat tanpa harus melukisnya terlebih dahulu.

Menurut The Metropolitan Museum of Art, perkembangan fotografi mengubah cara manusia mendokumentasikan kehidupan sekaligus mendorong lahirnya berbagai pendekatan baru dalam seni modern.

Pada masa itu, banyak pelukis menganggap kamera sebagai ancaman. Jika sebuah mesin dapat merekam kenyataan dengan akurat, lalu apa fungsi seni lukis?

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Fotografi mendorong para seniman mencari bentuk ekspresi baru yang tidak lagi sekadar meniru kenyataan. Dari situ lahir berbagai aliran seperti impresionisme, ekspresionisme, hingga seni abstrak.

Teknologi ternyata tidak membunuh seni. Teknologi justru mendorong seni menemukan bentuk baru.

Film Membuat Seni Bergerak

Jika fotografi berhasil membekukan momen, film kemudian membuat gambar menjadi hidup.

Pada akhir abad ke-19, perkembangan sinematografi memungkinkan manusia melihat gambar bergerak. Untuk pertama kalinya, cerita dapat disampaikan melalui kombinasi visual, gerak, suara, dan emosi secara bersamaan.

Menurut Encyclopaedia Britannica dalam sejarah perfilman modern, film berkembang menjadi salah satu medium komunikasi paling berpengaruh karena mampu menghadirkan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan manusia.

Perubahan ini penting karena memperlihatkan pergeseran besar dalam dunia seni. Dari yang semula hanya dilihat, seni mulai dapat dirasakan melalui pengalaman yang lebih kompleks.

Era Digital Menghapus Banyak Batas

Memasuki akhir abad ke-20, komputer mulai mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dunia seni.

Seniman tidak lagi hanya menggunakan kuas dan kanvas. Mereka mulai menggunakan perangkat lunak, animasi, grafis komputer, internet, hingga teknologi digital sebagai medium berkarya.

Lahir apa yang kemudian dikenal sebagai seni digital.

Menurut kajian MIT Press Reader tentang sejarah media art, perkembangan komputer dan internet membuka ruang baru bagi seniman untuk menciptakan karya yang tidak lagi bergantung pada medium fisik.

Karya seni kini dapat dibuat, disimpan, disebarluaskan, dan dinikmati secara global hanya dalam hitungan detik. Ruang pamer tidak lagi terbatas pada galeri atau museum. Dunia digital membuka kemungkinan baru yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Namun perkembangan teknologi tidak berhenti di sana.

Ketika Penonton Masuk ke Dalam Karya

Hari ini dunia memasuki fase baru yang dikenal sebagai media art. Dalam media art, karya tidak lagi hanya dilihat dari kejauhan. Penonton justru menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri.

Gedung dapat berubah menjadi layar raksasa melalui video mapping. Museum dapat menghadirkan ruang imersif yang membuat pengunjung merasa masuk ke dalam lukisan. Teknologi sensor memungkinkan karya merespons gerakan manusia secara langsung.

Fenomena ini terlihat jelas pada karya-karya kelompok seni digital Jepang teamLab yang menghadirkan pengalaman visual interaktif dan imersif sehingga pengunjung menjadi bagian dari karya yang mereka lihat.

Dalam perkembangannya, media art tidak lagi digunakan hanya untuk kebutuhan artistik. Banyak kota dunia mulai memanfaatkannya untuk pendidikan, pelestarian budaya, kampanye lingkungan, hingga pembangunan identitas kota.

Bahkan UNESCO melalui Creative Cities Network menempatkan Media Arts sebagai salah satu sektor strategis dalam pembangunan kota kreatif di berbagai negara.

Yang menarik, media art bukan pengganti seni tradisional. Media Arts adalah kelanjutan dari perjalanan panjang seni itu sendiri.

Jika lukisan mengajarkan manusia melihat, fotografi mengajarkan manusia merekam, film mengajarkan manusia merasakan cerita, maka media art mengajak manusia mengalami sebuah gagasan secara langsung.

Karena itu, media art tidak lahir untuk menghapus seni yang telah ada sebelumnya. Ia hadir sebagai babak baru dalam sejarah panjang kreativitas manusia.

Dan seperti setiap babak baru dalam sejarah seni, pertanyaan yang muncul bukan lagi apakah teknologi akan mengubah seni. Melainkan sejauh mana seni akan membantu manusia memahami dunia yang terus berubah.

(Bersambung)

Post Views: 17
Tags: creative cityEkonomi KreatifGenerasi ZGlobalizing UBimmersive experiencekota kreatifmedia artpendidikan masa depanSejarah Seniseni digitalteknologi dan seniub berdampakunesco creative cityvideo mappingvisual storytelling
Previous Post

Oleh-oleh Haji itu Bernama Perubahan (Ishlah)

Dinia

Dinia

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
oval layer

5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

August 25, 2024
ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

August 4, 2023
Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

February 22, 2025
Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

August 3, 2023
Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

39
Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

8
Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

7
Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

7
Dari Lukisan Gua hingga Proyeksi Cahaya, Bagaimana Seni Terus Berevolusi?

Dari Lukisan Gua hingga Proyeksi Cahaya, Bagaimana Seni Terus Berevolusi?

June 2, 2026
Oleh-oleh Haji itu Bernama Perubahan (Ishlah)

Oleh-oleh Haji itu Bernama Perubahan (Ishlah)

June 2, 2026
Influencer Tak Bisa Dapat PPh Final UMKM, Menkeu Sebut Bukan Lapangan Kerja

Influencer Tak Bisa Dapat PPh Final UMKM, Menkeu Sebut Bukan Lapangan Kerja

June 2, 2026
Harga Sawit Anjlok, Petani Swadaya Jadi Korban Utama Gejolak Tata Niaga

Harga Sawit Anjlok, Petani Swadaya Jadi Korban Utama Gejolak Tata Niaga

June 2, 2026

Popular Stories

  • oval layer

    5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AYAT-AYAT KREATIVITAS DAN INOVASI PELAYANAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
UB Radio 107.5 FM
107.5 FM
Tap to Play
  • Berita
  • Tentang Kanal24
  • Layanan
  • Pedoman Media Siber
Copyright Kanal24.com 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Berita Terkini‎
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan

Copyright Kanal24.com 2025