Kanal24, Malang – Jauh sebelum manusia mengenal layar digital, internet, atau kecerdasan buatan, nenek moyang kita sudah lebih dulu menggunakan gambar sebagai cara berkomunikasi. Dinding-dinding gua di berbagai belahan dunia menyimpan jejak bagaimana manusia purba merekam kehidupan, berburu, hingga menyampaikan gagasan melalui visual.
Ribuan tahun kemudian, cara manusia bercerita memang berubah. Namun kebutuhan untuk menyampaikan makna melalui gambar tetap sama. Yang berubah hanyalah medianya.
Hari ini, ketika sebuah gedung dapat berubah menjadi kanvas raksasa melalui video mapping atau ketika pengunjung museum dapat masuk ke dalam dunia visual yang bergerak dan interaktif, banyak orang menganggapnya sebagai sesuatu yang benar-benar baru. Padahal, apa yang kita kenal sebagai media art sesungguhnya merupakan bagian dari perjalanan panjang evolusi seni yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Seni selalu berkembang mengikuti peradaban manusia. Ketika cara hidup berubah, teknologi berkembang, dan masyarakat menemukan medium baru untuk berkomunikasi, seni ikut bertransformasi. Karena itu, untuk memahami media art, kita perlu melihat perjalanan panjang bagaimana manusia terus menemukan cara baru untuk bercerita.
Ketika Seni Hidup di Atas Kanvas
Dalam sejarah panjang peradaban manusia, seni lahir sebagai cara untuk merekam pengalaman dan menyampaikan pesan. Lukisan menjadi medium utama yang digunakan selama berabad-abad.
Dari lukisan gua di Lascaux hingga karya para maestro seperti Leonardo da Vinci dan Vincent van Gogh, seni berkembang sebagai representasi gagasan, emosi, dan cara manusia memahami dunia. Pada masa itu, kanvas, cat, batu, atau dinding menjadi ruang utama bagi para seniman untuk berkarya.

Pengalaman menikmati seni juga bersifat statis. Penonton datang ke galeri atau museum untuk melihat karya yang tidak bergerak. Interaksi terjadi antara manusia dan objek seni yang diam.
Namun perubahan besar mulai terjadi pada abad ke-19 ketika fotografi ditemukan.
Fotografi Mengubah Cara Melihat Dunia
Kehadiran fotografi membawa revolusi besar dalam dunia seni dan komunikasi. Untuk pertama kalinya, manusia dapat merekam realitas secara cepat dan akurat tanpa harus melukisnya terlebih dahulu.
Menurut The Metropolitan Museum of Art, perkembangan fotografi mengubah cara manusia mendokumentasikan kehidupan sekaligus mendorong lahirnya berbagai pendekatan baru dalam seni modern.
Pada masa itu, banyak pelukis menganggap kamera sebagai ancaman. Jika sebuah mesin dapat merekam kenyataan dengan akurat, lalu apa fungsi seni lukis?
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Fotografi mendorong para seniman mencari bentuk ekspresi baru yang tidak lagi sekadar meniru kenyataan. Dari situ lahir berbagai aliran seperti impresionisme, ekspresionisme, hingga seni abstrak.
Teknologi ternyata tidak membunuh seni. Teknologi justru mendorong seni menemukan bentuk baru.
Film Membuat Seni Bergerak
Jika fotografi berhasil membekukan momen, film kemudian membuat gambar menjadi hidup.
Pada akhir abad ke-19, perkembangan sinematografi memungkinkan manusia melihat gambar bergerak. Untuk pertama kalinya, cerita dapat disampaikan melalui kombinasi visual, gerak, suara, dan emosi secara bersamaan.
Menurut Encyclopaedia Britannica dalam sejarah perfilman modern, film berkembang menjadi salah satu medium komunikasi paling berpengaruh karena mampu menghadirkan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan manusia.
Perubahan ini penting karena memperlihatkan pergeseran besar dalam dunia seni. Dari yang semula hanya dilihat, seni mulai dapat dirasakan melalui pengalaman yang lebih kompleks.
Era Digital Menghapus Banyak Batas
Memasuki akhir abad ke-20, komputer mulai mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dunia seni.
Seniman tidak lagi hanya menggunakan kuas dan kanvas. Mereka mulai menggunakan perangkat lunak, animasi, grafis komputer, internet, hingga teknologi digital sebagai medium berkarya.
Lahir apa yang kemudian dikenal sebagai seni digital.
Menurut kajian MIT Press Reader tentang sejarah media art, perkembangan komputer dan internet membuka ruang baru bagi seniman untuk menciptakan karya yang tidak lagi bergantung pada medium fisik.
Karya seni kini dapat dibuat, disimpan, disebarluaskan, dan dinikmati secara global hanya dalam hitungan detik. Ruang pamer tidak lagi terbatas pada galeri atau museum. Dunia digital membuka kemungkinan baru yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Namun perkembangan teknologi tidak berhenti di sana.
Ketika Penonton Masuk ke Dalam Karya
Hari ini dunia memasuki fase baru yang dikenal sebagai media art. Dalam media art, karya tidak lagi hanya dilihat dari kejauhan. Penonton justru menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri.
Gedung dapat berubah menjadi layar raksasa melalui video mapping. Museum dapat menghadirkan ruang imersif yang membuat pengunjung merasa masuk ke dalam lukisan. Teknologi sensor memungkinkan karya merespons gerakan manusia secara langsung.
Fenomena ini terlihat jelas pada karya-karya kelompok seni digital Jepang teamLab yang menghadirkan pengalaman visual interaktif dan imersif sehingga pengunjung menjadi bagian dari karya yang mereka lihat.
Dalam perkembangannya, media art tidak lagi digunakan hanya untuk kebutuhan artistik. Banyak kota dunia mulai memanfaatkannya untuk pendidikan, pelestarian budaya, kampanye lingkungan, hingga pembangunan identitas kota.
Bahkan UNESCO melalui Creative Cities Network menempatkan Media Arts sebagai salah satu sektor strategis dalam pembangunan kota kreatif di berbagai negara.
Yang menarik, media art bukan pengganti seni tradisional. Media Arts adalah kelanjutan dari perjalanan panjang seni itu sendiri.
Jika lukisan mengajarkan manusia melihat, fotografi mengajarkan manusia merekam, film mengajarkan manusia merasakan cerita, maka media art mengajak manusia mengalami sebuah gagasan secara langsung.
Karena itu, media art tidak lahir untuk menghapus seni yang telah ada sebelumnya. Ia hadir sebagai babak baru dalam sejarah panjang kreativitas manusia.
Dan seperti setiap babak baru dalam sejarah seni, pertanyaan yang muncul bukan lagi apakah teknologi akan mengubah seni. Melainkan sejauh mana seni akan membantu manusia memahami dunia yang terus berubah.
(Bersambung)













