Kanal24, Malang – Upaya memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional mulai diarahkan pada sektor strategis: tebu. Di tengah tantangan produktivitas dan efisiensi industri gula, kolaborasi antara kampus dan industri menjadi kunci untuk mempercepat inovasi berbasis riset.
Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB) melalui Kelompok Kajian Gula (KKG) resmi menjalin kolaborasi riset dengan PG Kebun Tebu Mas (KTM) Lamongan, bagian dari grup Mitr Phol Thailand. Kerja sama ini difokuskan pada pengembangan teknologi, hilirisasi riset, serta peningkatan kesejahteraan petani tebu.
Pertemuan yang berlangsung pada Kamis (16/4/2026) tersebut menjadi ruang sinkronisasi antara kebutuhan industri dan pengembangan akademik. Kedua pihak memaparkan roadmap hilirisasi penelitian sekaligus membahas berbagai persoalan dalam rantai produksi gula nasional, mulai dari hulu hingga hilir.
Baca juga : FP UB Desak Transformasi Sistem Pangan: Dari Sawah ke Meja Makan, Masih Banyak Lubang
Ketua Kelompok Kajian Gula (KKG) FP UB, Prof. Dr. Ir. Sudiarso, M.S., menegaskan bahwa kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga keberlanjutan sistem pertanian tebu.

“Pendekatan pertanian berkelanjutan perlu menjadi fokus utama, termasuk melalui konsep regenerative agriculture untuk menjaga kesehatan tanah dan memastikan produksi tebu tetap berkelanjutan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya aspek sosial dalam pengembangan sektor ini, terutama dalam mendorong regenerasi petani.
“Alih teknologi kepada petani harus dilakukan dengan strategi yang tepat, sekaligus menumbuhkan minat generasi muda untuk terlibat di sektor tebu melalui penguasaan teknologi modern,” tambahnya.

Teknologi Presisi Jadi Kunci Efisiensi Industri Gula
Dari sisi industri, PG Kebun Tebu Mas menegaskan komitmennya dalam mengadopsi teknologi modern untuk meningkatkan efisiensi produksi. Sejumlah teknologi berbasis precision agriculture telah diterapkan, mulai dari penggunaan drone hingga rekayasa genetika untuk menghasilkan bibit unggul.
Perwakilan PG KTM Lamongan, Endri Novianto, menyebut kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi langkah strategis dalam memperkuat inovasi di sektor tebu.
“Kami melihat kolaborasi dengan perguruan tinggi seperti FP UB sangat penting untuk mengembangkan teknologi yang aplikatif, mulai dari monitoring lahan dengan drone hingga prediksi tanam dan panen yang lebih presisi,” ujarnya.
Menurutnya, integrasi riset dan praktik industri akan mempercepat peningkatan produktivitas sekaligus menjawab tantangan efisiensi di sektor gula nasional.
Bangun Ekosistem Riset hingga Hilirisasi
Kolaborasi ini juga mencakup pengembangan riset terapan, inovasi teknologi, serta program pengabdian kepada masyarakat berbasis sektor tebu. Fokus utamanya adalah meningkatkan pendapatan petani melalui penerapan teknologi tepat guna hasil penelitian kampus.
Selain itu, kerja sama ini membuka peluang penguatan program akademik, seperti magang mahasiswa, penelitian tugas akhir, hingga implementasi program Kampus Berdampak yang terintegrasi dengan kebutuhan industri.
Kolaborasi ini turut melibatkan tim lintas keahlian dari kedua pihak. Dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, tim Kelompok Kajian Gula dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Sudiarso, M.S., Guru Besar Departemen Budidaya Pertanian, bersama Dr. Ir. Cicik Udayana, M.Si., Dr. Silvana Maulidah, S.P., M.P., serta Adi Setiawan, M.P., Ph.D.
Sementara itu, dari PG Kebun Tebu Mas Lamongan, hadir Endri Novianto, Tonny Nugraha, Baktian Oktatianto, Satya Purba Wasesa, dan Fafitra Elif Normawan.
Dalam kunjungan tersebut, tim KKG FP UB juga meninjau langsung kebun Pendekar Tebu di Lamongan yang melibatkan mahasiswa dalam kegiatan riset dan praktik lapangan.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam membangun ekosistem agroindustri gula yang lebih adaptif, efisien, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan dan energi di masa depan.(Din)














