Kanal24, Malang – Di balik derasnya omzet yang terlihat “aman”, banyak pelaku UMKM justru menyimpan masalah serius: keuangan bisnis yang tak sehat. Fenomena ini mencuat dalam dalam acara Kelola Modal Cerdas Usaha Tancap Gas di Malang Creative Center, Kamis (23/4/2026), yang mengungkap kesalahan klasik namun fatal—mencampur uang pribadi dengan uang usaha. Praktik ini bukan sekadar kebiasaan buruk, tapi bisa jadi awal kehancuran bisnis tanpa disadari.
Baca juga :
Intip Strategi Dana Abadi UB, ITS Siap Rombak Tata Kelola
Perencana keuangan sekaligus Co-Founder temandiskusi.official, Nurfitria Pratiwi, menegaskan bahwa kesalahan tersebut masih sering terjadi dan berdampak langsung pada stabilitas usaha. “Kesalahan paling klasik adalah mencampur antara uang bisnis dengan uang pribadi itu banyak banget,” ujarnya.
Ia menjelaskan, praktik tersebut membuat pelaku usaha sulit mengetahui kondisi keuangan sebenarnya, apakah sedang untung atau hanya sekadar memutar uang. Menurutnya, pemisahan keuangan menjadi langkah dasar yang wajib dilakukan untuk membangun bisnis yang sehat.
Dalam pemaparannya, Nurfitria juga menyoroti pentingnya pengelolaan arus kas (cash flow) yang disiplin. Ia mengingatkan agar setiap pemasukan tidak langsung digunakan tanpa perencanaan yang jelas. “Setiap kali ada uang yang masuk itu jangan pernah langsung dipakai, harus dihitung dulu,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyarankan agar pelaku UMKM membagi keuangan ke dalam beberapa pos utama, seperti modal usaha, biaya operasional, keuntungan, dan dana cadangan. Dengan pembagian tersebut, pelaku usaha dapat mengontrol pengeluaran sekaligus menjaga keberlangsungan bisnis di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti.
Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua omzet dapat dianggap sebagai keuntungan pribadi. Kesalahan dalam memahami hal ini sering kali membuat pelaku UMKM kehilangan arah dalam mengelola keuangan. “Omzet itu dianggap sebagai milik pribadi, padahal enggak gitu,” tegasnya.
Selain itu, penting bagi pelaku usaha untuk memiliki cadangan dana sebagai antisipasi terhadap risiko tak terduga, seperti kenaikan harga bahan baku atau biaya operasional. Dengan adanya buffer cash, bisnis dinilai lebih siap menghadapi perubahan kondisi pasar.
Sebagai langkah praktis, Nurfitria menyarankan pemisahan rekening antara keuangan pribadi dan bisnis, serta melakukan evaluasi keuangan secara rutin setiap hari. “Sediakan waktu untuk ngecek uang hari ini, benar-benar profit atau hanya memutar uang saja,” katanya.
Melalui edukasi ini, diharapkan pelaku UMKM tidak hanya fokus pada peningkatan omzet, tetapi juga mampu mengelola keuangan secara bijak dan terstruktur. Dengan demikian, usaha yang dijalankan dapat tumbuh lebih stabil dan berkelanjutan. (qrn)














