Kanal24, Malang – Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB) kembali menggelar Uji Kompetensi Periode 2 Semester Genap di Ruang Sidang Utama Lantai 6 Gedung 5 Fapet UB, Jumat (8/5/2026). Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi persaingan kerja yang semakin ketat. Selain itu, mahasiswa juga memperoleh sertifikasi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Pada batch kedua ini, sebanyak 80 mahasiswa mengikuti uji kompetensi dengan empat skema berbeda, yaitu operator farm broiler, supervisor pemasaran, analis quality control (QC), dan formulator pakan. Selain itu, jumlah skema bertambah dibanding periode sebelumnya. Dengan demikian, mahasiswa dapat menyesuaikan kompetensi dengan minat dan rencana karier mereka setelah lulus.
Baca juga:
Fapet UB Turun ke Lapang, Peternak Lamongan Didorong Naik Kelas

Ketua penyelenggara, Dr. Jaisy Aghniarahim Putritamara, S.Pt., M.P., menjelaskan bahwa sertifikasi kompetensi sangat penting bagi mahasiswa. Menurutnya, sertifikat ini menjadi bekal sebelum memasuki dunia kerja. Saat ini, persaingan tidak hanya terjadi antar lulusan perguruan tinggi. Namun, lulusan vokasi dan SMK juga menjadi pesaing kuat karena telah memiliki keterampilan spesifik.
“Mahasiswa dapat bersaing dengan lulusan universitas lain. Oleh karena itu, sertifikasi dari BNSP menjadi bekal penting untuk menghadapi dunia kerja,” ujarnya.
Selain itu, ia menambahkan bahwa skema pada batch kedua lebih variatif. Dengan begitu, mahasiswa memiliki peluang lebih besar untuk memilih bidang yang sesuai dengan tujuan pekerjaan mereka.
Menurut Jaisy, tingginya jumlah lulusan membuat persaingan semakin ketat. Oleh sebab itu, sertifikasi kompetensi menjadi kebutuhan penting. Ia mengibaratkan mahasiswa seperti berada di “laut lepas” yang harus mampu bertahan. Dengan sertifikasi, peluang untuk survive akan semakin besar.
Sementara itu, Asesor Kompetensi dari STP Bagian Mutu LSP Pertanian Nasional, Diah Purnamasari, menjelaskan bahwa penilaian dilakukan melalui tiga aspek utama, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja. Pengetahuan diuji melalui tes tulis dan lisan. Kemudian, keterampilan diuji melalui observasi langsung sesuai skema yang diikuti peserta.
Menurut Diah, mahasiswa perlu meningkatkan kemampuan praktis. Sebab, lulusan SMK sering kali lebih unggul dalam keterampilan teknis. “Mahasiswa juga harus memiliki uji kompetensi seperti yang dilakukan di TUK Fakultas Peternakan ini,” ungkapnya.
Selain itu, asesor lainnya, Bagus Krisna Heri Widodo, menilai sertifikasi kompetensi sebagai nilai tambah penting. Banyak perusahaan kini lebih mempertimbangkan kandidat yang sudah memiliki sertifikat kompetensi. “Perusahaan cenderung memilih calon pekerja yang sudah memiliki sertifikasi karena dianggap lebih siap bekerja,” jelasnya.
Melalui program ini, Fapet UB berharap mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik. Namun, mereka juga memiliki pengakuan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri. Ke depan, program ini diharapkan terus berkembang dengan lebih banyak skema. Dengan demikian, lulusan akan semakin siap memasuki dunia kerja profesional. (cay)














