Kanal24, Malang – Arus dana asing di pasar saham Indonesia kembali menjadi sorotan dalam sepekan terakhir. Di tengah tekanan global, ketidakpastian geopolitik, hingga kekhawatiran perlambatan ekonomi domestik, investor asing tercatat masih agresif melakukan aksi jual saham atau net foreign sell di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Fenomena ini memunculkan pertanyaan baru di pasar: apakah investor global mulai kehilangan kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia, atau justru sedang melakukan reposisi portofolio jangka pendek di tengah volatilitas pasar dunia?
Data BEI menunjukkan tekanan asing masih terasa dalam perdagangan pekan pertama Mei 2026. CNBC Indonesia mencatat investor asing masih melakukan penjualan bersih Rp2,34 triliun di pasar saham Indonesia. Aksi jual tersebut terutama terjadi pada saham-saham sektor perbankan yang selama ini menjadi penopang utama IHSG.
Meski IHSG sempat menguat tipis dalam beberapa sesi perdagangan, tekanan dana asing dinilai masih menjadi faktor utama yang membayangi pasar domestik.
CNBC Indonesia melaporkan bahwa secara keseluruhan investor asing masih mencatat net foreign sell Rp482,1 miliar pada perdagangan 6 Mei 2026, meski beberapa saham tertentu mulai kembali dikoleksi menjelang evaluasi indeks MSCI.
Di sisi lain, data Bursa Efek Indonesia yang dikutip detikFinance menunjukkan sepanjang tahun 2026 investor asing masih membukukan net foreign sell hingga Rp37,61 triliun.
Tekanan ini muncul di tengah kombinasi berbagai sentimen global dan domestik. Dari sisi eksternal, tensi geopolitik Timur Tengah, penguatan dolar AS, hingga kekhawatiran suku bunga tinggi global membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Sementara dari dalam negeri, pasar mulai mencermati perlambatan manufaktur, pelemahan rupiah, hingga kekhawatiran terhadap stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional.
Kondisi tersebut membuat saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan, menjadi sasaran aksi ambil untung investor asing.
Namun demikian, pasar belum sepenuhnya kehilangan optimisme. Dalam beberapa perdagangan terakhir, investor asing juga tercatat mulai kembali masuk pada saham tertentu.
Data transaksi investor asing yang dirilis IDNFinancials menunjukkan pada perdagangan 7 Mei 2026 asing sempat membukukan net buy 1,80 miliar lembar saham. Saham teknologi GOTO menjadi salah satu yang paling banyak dikoleksi asing, disusul saham BBRI dan DMAS.
BEI bahkan mencatat pada penutupan perdagangan pekan 4–8 Mei 2026, investor asing membukukan nilai beli bersih harian sebesar Rp11,42 triliun. Meski demikian, secara tahunan arus modal asing masih berada di zona negatif.
Situasi ini menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia masih berada dalam fase tarik-menarik antara optimisme domestik dan tekanan global.
Analis pasar melihat pergerakan asing saat ini belum sepenuhnya mencerminkan keluarnya kepercayaan terhadap fundamental Indonesia. Sebagian investor dinilai masih memilih pendekatan defensif sambil menunggu kepastian arah suku bunga global dan stabilitas geopolitik internasional.
Namun jika tekanan dana asing terus berlanjut, dampaknya bisa meluas pada nilai tukar rupiah, volatilitas pasar saham, hingga persepsi risiko investasi Indonesia di mata global.
Di tengah kondisi tersebut, pasar kini menunggu bagaimana respons pemerintah, Bank Indonesia, serta kekuatan konsumsi dan ekonomi domestik dalam menjaga kepercayaan investor.
Sebab di pasar modal, sentimen sering bergerak lebih cepat dibanding data ekonomi itu sendiri.














