Kanal24, Malang – Di era digital yang dipenuhi persaingan bisnis dan banjir informasi, branding kini menjadi faktor penentu apakah sebuah bisnis mampu bertahan atau justru hilang di tengah pasar. Sayangnya, masih banyak pelaku usaha yang menganggap branding hanya sebatas logo, desain kemasan, atau tampilan media sosial yang menarik. Padahal, branding sejatinya adalah strategi membangun persepsi, emosi, dan kepercayaan konsumen terhadap sebuah bisnis.
Fenomena menjamurnya “pakar branding instan” di media sosial juga membuat edukasi branding kerap kehilangan fondasi ilmiah. Konten-konten motivasi bisnis sering kali viral, tetapi minim riset dan tidak memiliki strategi yang terukur. Kondisi ini membuat banyak UMKM hingga founder bisnis kesulitan membangun identitas brand yang benar-benar kuat dan relevan di pasar.
Baca juga:
Universitas Brawijaya Jadi Kunci Percepatan Ekosistem Halal Nasional

Branding Adalah Perang di Pikiran Konsumen
Menurut Erica, brand yang kuat bukanlah brand yang paling mahal, tetapi brand yang paling diingat dan dipercaya konsumen. Karena itu, branding harus dibangun melalui strategi yang konsisten, komunikasi yang tepat, dan pengalaman pelanggan yang kuat.
“Branding itu tidak hanya membuat bisnis terlihat bagus. Branding adalah perang di dalam pikiran konsumen. Siapa yang paling diingat, paling dipercaya, dan paling dipilih,” ungkap Erica.
Ketertarikannya terhadap dunia branding tumbuh sejak lama. Namun ketika menempuh pendidikan magister Manajemen Retail di Universitas Pelita Harapan Jakarta, pembahasan branding secara mendalam masih belum banyak disentuh dalam lingkungan akademik bisnis.
Hal itulah yang kemudian mendorong Erica untuk memperdalam branding secara lebih sistematis melalui riset, pengalaman mengajar, hingga praktik langsung di lapangan. Saat ini, ia juga tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) Digital Marketing di Universitas Brawijaya Malang.
Lahirkan Konsep “Branducator”
Berangkat dari pengalaman sebagai pengajar, Erica melihat bahwa banyak pelaku usaha kesulitan memahami branding karena materi yang terlalu teoritis atau justru terlalu dangkal di media sosial.
Dari situlah lahir identitas dirinya sebagai “Branducator”, gabungan antara educator dan branding strategist. Melalui konsep tersebut, Erica ingin menghadirkan edukasi branding berkualitas tinggi yang bisa diakses lebih luas oleh masyarakat, khususnya UMKM dan founder bisnis muda.
Ia percaya pendidikan tidak seharusnya menjadi sesuatu yang eksklusif. Karena itu, melalui platform digital dan media sosial, Erica aktif membagikan konten edukasi tentang “the science behind branding” dengan bahasa yang lebih sederhana, praktis, dan mudah dipahami.
Pendampingan UMKM dan Dunia Digital
Dalam perjalanannya, Erica aktif memberikan konsultasi, mentoring, hingga pendampingan kepada UMKM di Malang dan Jawa Timur. Fokusnya tidak hanya pada visual brand, tetapi juga strategi positioning, komunikasi pemasaran, hingga penguatan identitas bisnis di era digital.
Menurutnya, banyak UMKM sebenarnya memiliki produk yang bagus, tetapi gagal membangun persepsi pasar karena tidak memiliki branding yang kuat.
Selain mendalami branding, Erica juga mulai fokus pada pengembangan automation dan AI terapan untuk mendukung bisnis digital yang lebih fleksibel dan scalable. Ia menilai perkembangan teknologi harus dimanfaatkan pelaku usaha agar mampu bersaing di tengah perubahan perilaku konsumen yang sangat cepat.
Sukses Besar Lewat Chifest 2025
Salah satu pencapaian besar Erica adalah ketika dipercaya menjadi Ketua Pelaksana Chifest Chinese Indonesian Festival 2025 di Universitas Ma Chung.
Festival tersebut sukses menjadi salah satu perayaan budaya Tionghoa terbesar di Kota Malang dengan menghadirkan pengalaman branding yang kuat bagi pengunjung maupun institusi kampus.
Acara itu menghadirkan berbagai kegiatan mulai dari Museum Tionghoa, konser musik artis nasional HIVI!, bazar lebih dari 100 UMKM, pertunjukan budaya Tionghoa-Indonesia, hingga peresmian Chinese Corner Universitas Ma Chung.
Chifest 2025 juga mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata, Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok, serta Dinas Koperasi Jawa Timur dan berhasil menarik lebih dari 10 ribu pengunjung.
Bagi Erica, event sebagai acara seremonial dan bagian penting dari strategi branding dan membangun pengalaman emosional yang membekas di masyarakat.
Anak Muda Harus Adaptif dan Terus Upgrade Skill
Erica juga menyoroti pentingnya generasi muda untuk terus meningkatkan kemampuan diri di tengah persaingan era digital yang semakin keras.
Menurutnya, langkah pertama membangun karier adalah mengenali passion dan memahami alasan di balik ketertarikan tersebut. Setelah itu, seseorang harus terus belajar, membangun skill, dan tidak takut menghadapi perubahan zaman.
“Kalau kita tidak membangun diri sendiri, kita akan kalah dengan zaman,” katanya.
Ia percaya kesuksesan bukanlah tujuan akhir, melainkan proses bertumbuh tanpa henti untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Fokus Bangun Branding Consulting Firm
Saat ini, Erica tengah fokus membangun branding consulting firm miliknya sendiri sembari terus mengembangkan edukasi digital marketing berbasis riset.
Melalui visi besarnya, ia ingin membantu lebih banyak UMKM dan founder bisnis Indonesia memahami pentingnya branding sebagai investasi jangka panjang.
“Kemenangan itu direncanakan sejak awal, bukan kebetulan. Dunia tidak membatasimu, jadi jangan batasi dirimu dengan cara pandang yang mengecilkan dirimu sendiri,” pungkasnya. (nid)














