Kanal24, Malang – Tugas kuliah yang menumpuk, tekanan akademik, masalah pertemanan, konflik keluarga, hingga tuntutan untuk selalu terlihat “baik-baik saja” di media sosial membuat kesehatan mental mahasiswa semakin rentan terganggu. Di balik aktivitas kampus yang terlihat normal, banyak mahasiswa sebenarnya sedang berjuang menghadapi stres, burnout, kecemasan berlebih, bahkan gangguan psikologis yang kerap dipendam sendirian.
Fenomena meningkatnya tekanan mental di kalangan generasi muda inilah yang mendorong Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (FH UB) menggelar Workshop Agen Sehat Mental Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 6 Gedung A FH UB pada Kamis (21/5/2026) tersebut menjadi ruang edukasi sekaligus upaya membangun lingkungan kampus yang lebih peduli terhadap kesehatan mental mahasiswa.
Dalam workshop tersebut, mahasiswa tidak hanya diajak memahami pentingnya menjaga kondisi psikologis di tengah padatnya aktivitas akademik, tetapi juga dibekali kemampuan menjadi pendamping awal bagi teman-teman yang mengalami tekanan mental.
Baca juga:
FPIK UB Gaungkan Peduli Mental Health Mahasiswa

Mahasiswa Rentan Burnout di Tengah Tekanan Akademik dan Sosial
Workshop menghadirkan praktisi kesehatan mental, Wiwin Lukitohadi, S.Psi., S.H., CHRM., dari CV. Samasta Holistik Solusi Sejahtera sekaligus Koordinator DWP Sahabat Kampus UB. Dalam sesi materinya, peserta mendapatkan pemahaman mengenai burnout, teknik konseling dasar, hingga langkah sederhana menjaga kesehatan mental sehari-hari.
Wiwin menegaskan bahwa persoalan akademik sebenarnya bukan faktor terbesar penyebab stres mahasiswa. Menurutnya, tekanan terbesar justru sering berasal dari relasi sosial dan persoalan keluarga yang tidak terlihat dari luar.
“Masalah akademik itu hanya sekitar 30 persen. Sebagian besar justru berasal dari relasi dan keluarga,” ujarnya.
Ia menjelaskan banyak mahasiswa terlihat aktif dan produktif di lingkungan kampus, namun sebenarnya sedang mengalami tekanan emosional yang berat. Kondisi tersebut sering kali tidak disadari lingkungan sekitar karena mahasiswa cenderung menutupi masalahnya sendiri.
Menurutnya, ketika kondisi mental terus diabaikan, dampaknya bisa berkembang menjadi tindakan berbahaya seperti menyakiti diri sendiri hingga munculnya pemikiran untuk mengakhiri hidup.
Karena itu, ia menilai penting bagi mahasiswa memiliki lingkungan yang suportif dan tidak mudah menghakimi kondisi psikologis orang lain.
FH UB Bentuk Agen Sehat Mental di Lingkungan Kampus
Melalui workshop ini, mahasiswa FH UB juga dilatih menjadi agen sehat mental yang mampu menjadi teman pendamping awal di lingkungan kampus. Peserta diajak memahami cara mendengarkan keluhan tanpa menghakimi, membantu proses konseling sederhana, hingga mengarahkan teman untuk mencari bantuan profesional jika diperlukan.
Konsep agen sehat mental dinilai penting karena mahasiswa sering lebih nyaman bercerita kepada teman sebaya dibanding langsung menemui psikolog atau tenaga profesional.
Selain membangun kepedulian sosial, program ini juga diharapkan mampu menciptakan budaya kampus yang lebih aman secara emosional dan psikologis.
Mahasiswa diajak memahami bahwa menjaga kesehatan mental bukan tanda kelemahan, melainkan bagian penting untuk mempertahankan kualitas hidup dan produktivitas selama menjalani perkuliahan.
Media Sosial Dinilai Bisa Jadi Alat Kampanye Kesehatan Mental
Dalam workshop tersebut, Wiwin juga menyoroti peran media sosial yang memiliki dua sisi bagi kesehatan mental generasi muda. Di satu sisi dapat menjadi pemicu tekanan sosial, namun di sisi lain juga bisa dimanfaatkan sebagai media kampanye positif.
Menurutnya, mahasiswa memiliki pengaruh besar untuk membangun kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental melalui konten-konten edukatif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Media sosial bisa menjadi alat untuk menyebarkan pesan baik agar mahasiswa lebih peduli terhadap kesehatan mental,” katanya.
Ia berharap mahasiswa mulai berani membuka ruang diskusi yang sehat mengenai isu mental health agar stigma terhadap gangguan psikologis perlahan berkurang di lingkungan kampus.
Istirahat Bukan Tanda Menyerah
Wiwin juga mengingatkan pentingnya keberanian mengambil jeda ketika tekanan mulai terasa berlebihan. Ia menilai banyak mahasiswa merasa bersalah ketika beristirahat karena takut dianggap tidak produktif.
Padahal, menurutnya, beristirahat merupakan cara penting untuk memulihkan kondisi fisik dan emosional agar seseorang dapat kembali menjalani aktivitas dengan lebih sehat dan fokus.
Melalui workshop tersebut, FH UB berharap mahasiswa menjadi lebih peka terhadap kondisi diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Kampus pun diharapkan tidak hanya menjadi tempat mengejar prestasi akademik, tetapi juga ruang aman bagi mahasiswa untuk tumbuh secara emosional, sosial, dan mental.














