Kanal24, Malang – Kekerasan seksual dan rendahnya pemahaman kesehatan seksual di kalangan remaja masih menjadi persoalan yang terus mengkhawatirkan. Minimnya edukasi yang tepat membuat banyak siswa belum memahami batas tubuh, hak perlindungan diri, hingga cara melapor ketika mengalami atau menyaksikan kekerasan seksual. Di tengah kondisi tersebut, ruang edukasi berbasis sekolah menjadi semakin penting untuk membangun kesadaran sejak dini.
Berangkat dari keresahan itu, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Brawijaya (HI UB) menghadirkan edukasi pencegahan kekerasan seksual dan kesehatan seksual berbasis pedoman World Health Organization (WHO) di SMAN 8 Malang, Jumat (22/5/2026). Tim Mahasiswa HI UB ini beranggotakan Andrew Elnathan, Refa Defanda Witanto, Shamfira Putri Salsabilla, Raki Narendri Rahmadani, Muhammad Rizky Asy Syafi’i Suwandi, dan Abdul Nurrafif Prayata yang dibimbing oleh Henny Rosalinda, SIP., MA., Ph.D. Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut menjadi bagian dari implementasi mata kuliah Kesehatan Global yang mendorong mahasiswa terlibat langsung dalam isu sosial dan kesehatan masyarakat.
Baca juga : Mahasiswa HI UB Gelar EcoFest 2026, Bahas AI hingga Krisis Lingkungan
Program tersebut digelar melalui sesi edukasi interaktif yang menyasar siswa-siswi aktif SMAN 8 Malang. Materi yang disampaikan mencakup definisi dan bentuk kekerasan seksual menurut standar WHO, hak kesehatan reproduksi remaja, cara melaporkan kekerasan seksual, hingga panduan menjaga kesehatan seksual secara bertanggung jawab.
Mahasiswa HI UB memilih menggunakan pedoman WHO karena dinilai memiliki standar ilmiah dan pendekatan berbasis hak asasi manusia yang diakui secara internasional. Dengan latar belakang studi hubungan internasional dan kebijakan global, mahasiswa mencoba menjembatani standar global tersebut dengan kondisi sosial dan budaya di Indonesia.
“Kami ingin memastikan bahwa informasi yang diterima para siswa tidak hanya relevan secara lokal, tetapi juga selaras dengan standar kesehatan global,” ujar Andrew Elnathan dalam keterangan kegiatan.
Sekolah Dinilai Punya Peran Penting
Guru SMAN 8 Malang, Nurul Ita Syamsiah, S.Pd., menilai edukasi seperti ini penting karena remaja saat ini menghadapi tantangan sosial yang semakin kompleks. Menurutnya, faktor keluarga dan lingkungan pergaulan menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya kerentanan remaja terhadap kekerasan seksual maupun pergaulan berisiko.
“Faktor utama yang paling sering saya lihat adalah keluarga yang tidak harmonis. Ketika orang tua bercerai atau tidak rukun, anak mencari pelarian di luar rumah, dan di situlah risiko pergaulan bebas itu muncul,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun lingkungan pertemanan yang sehat di kalangan remaja.
“Memilih teman itu sangat penting. Saya selalu analogikan begini kepada siswa, kalau kamu berteman dengan lima orang yang suka clubbing, kemungkinan besar salah satunya akan ikut,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menggunakan pendekatan yang lebih komunikatif melalui presentasi interaktif, sesi tanya jawab, hingga diskusi kelompok kecil. Pendekatan itu dipilih agar siswa lebih nyaman menyampaikan pandangan dan memahami materi yang disampaikan.
Edukasi Pencegahan Dinilai Harus Menjangkau Lebih Luas
Nurul juga menyoroti masih belum meratanya akses edukasi kesehatan seksual di berbagai daerah. Menurutnya, sekolah di perkotaan relatif lebih mudah mendapatkan sosialisasi dibanding daerah yang memiliki keterbatasan akses dan anggaran.
“Tantangan terbesar ada di daerah terpencil. Anak-anak di sana justru yang paling rentan karena paling sedikit mendapat informasi,” ujarnya.
Ia berharap sosialisasi tentang kekerasan seksual, perundungan, dan kesehatan remaja dapat dilakukan lebih luas melalui sekolah, media sosial, hingga kolaborasi dengan tenaga profesional seperti psikolog dan sosiolog.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa HI UB ingin mendorong tumbuhnya kesadaran remaja terhadap hak perlindungan diri dan pentingnya keberanian melapor ketika menghadapi kekerasan seksual. Dalam jangka panjang, edukasi semacam ini diharapkan dapat membantu menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman, sehat, dan suportif bagi generasi muda.(Din/Cay)














