Kanal24, Malang – Krisis lingkungan global terus menjadi perhatian berbagai kalangan, mulai dari akademisi, komunitas, hingga generasi muda. Isu perubahan iklim, deforestasi, dan sampah makanan kini tidak lagi dipandang sebagai persoalan masa depan, melainkan tantangan nyata yang sudah dirasakan saat ini. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya menggelar webinar Politik Lingkungan Global sebagai puncak rangkaian EcoFest 2026 pada Sabtu (24/05/2026) di Kota Malang.
EcoFest 2026 menjadi ruang edukasi dan diskusi interaktif yang mempertemukan akademisi, praktisi, mahasiswa, hingga masyarakat umum untuk membahas berbagai isu lingkungan kontemporer. Kegiatan ini merupakan bagian dari praktikum mata kuliah Politik Lingkungan Global yang dirancang untuk menjembatani pembelajaran akademik dengan realitas sosial dan ekologis di lapangan.
Baca juga:
Kampus Wajib Tanggap! Kesehatan Mental Jadi Fondasi Cegah Kekerasan
Rangkaian kegiatan EcoFest 2026 juga melibatkan berbagai mitra strategis dari komunitas lingkungan, media, organisasi masyarakat sipil, hingga gerakan akar rumput. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan membutuhkan kerja bersama lintas sektor untuk menghadirkan solusi yang lebih luas dan berkelanjutan.

AI dan Perubahan Iklim Jadi Sorotan
Salah satu pembahasan utama dalam webinar EcoFest 2026 adalah hubungan antara Artificial Intelligence dan krisis iklim. Panel pertama menghadirkan Dr. (cand.) Taufik Iqbal Ramdhani, S.Kom., M.Sc. dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Hanna Farah Vania dari Katadata Green, serta mahasiswa Hubungan Internasional UB, Bintang Corvi Diphda.
Diskusi menyoroti bagaimana AI memiliki dua sisi dalam konteks lingkungan. Di satu sisi, AI dinilai mampu membantu mitigasi perubahan iklim melalui pemodelan data, pemetaan risiko bencana, efisiensi energi, smart city, hingga konservasi lingkungan. Teknologi ini juga dapat mendukung pengambilan keputusan berbasis data untuk menghadapi ancaman ekologis.
Namun di sisi lain, penggunaan AI juga membutuhkan infrastruktur digital besar seperti data center yang mengonsumsi listrik dan air dalam jumlah tinggi. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan baru mengenai jejak karbon teknologi digital di tengah upaya global mengurangi emisi.
Para pembicara menekankan pentingnya penggunaan AI secara kritis dan proporsional. Teknologi dipandang hanya sebagai alat bantu, sementara tanggung jawab akhir tetap berada di tangan manusia. Literasi publik terkait dampak ekologis teknologi digital juga dianggap penting agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memahami konsekuensi lingkungannya.
Deforestasi dan Relasi Kuasa Lingkungan
Panel kedua membahas relasi kuasa di balik deforestasi dan tata kelola hutan. Diskusi menghadirkan Founder Perkumpulan Wonosantri, Gus Fatkhul Ulum, M.Pd., bersama mahasiswa Hubungan Internasional UB, Andrew Elnathan.
Pembahasan menyoroti bahwa persoalan penebangan pohon dan kerusakan hutan tidak dapat dipahami semata sebagai persoalan alam. Di balik deforestasi terdapat kepentingan ekonomi, tata kelola lahan, relasi kuasa, hingga kesenjangan pengetahuan yang turut memengaruhi kondisi lingkungan.
Gus Fatkhul Ulum menjelaskan praktik perhutanan sosial yang dilakukan Perkumpulan Wonosantri dalam mengelola 133 hektare hutan lindung di kawasan hulu Gunung Arjuno, Singosari. Melalui skema tersebut, masyarakat lokal diberikan akses legal untuk menjaga hutan sekaligus mengembangkan ekonomi berbasis agroforestry seperti kopi, alpukat, madu hutan, dan bambu.
Sementara itu, Andrew Elnathan menyoroti minimnya kajian akademik mengenai illegal logging di Indonesia. Menurutnya, kurangnya penelitian empiris dapat memperkuat praktik mafia lahan dan pembungkaman isu lingkungan. Ia menilai pendekatan ekonomi-ekologi dan riset berbasis kearifan lokal perlu diperkuat untuk memahami persoalan lingkungan secara lebih menyeluruh.
Food Waste dan Ancaman Ekologis
Panel ketiga bertajuk āFrom Waste to Worthā membahas persoalan food waste atau sampah makanan di Indonesia. Sesi ini menghadirkan Co-Founder Garda Pangan, Dedhy Bharoto Trunoyudho, bersama mahasiswa HI UB, Amelia Santika.
Dalam diskusi tersebut dijelaskan bahwa sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih banyak menggunakan pola ākumpul, angkut, buangā tanpa pemilahan dari sumbernya. Akibatnya, sampah makanan menjadi salah satu penyumbang terbesar di tempat pembuangan akhir.
Food waste dinilai bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi juga masalah ekologis dan ekonomi. Sampah organik yang menumpuk dapat menghasilkan gas metana, memicu kebakaran, dan meningkatkan risiko longsor sampah. Selain itu, makanan yang terbuang juga berarti terbuangnya energi, air, lahan, dan tenaga kerja yang digunakan selama proses produksi pangan.
Melalui konsep Food Recovery Hierarchy, Garda Pangan mendorong langkah pencegahan sampah makanan melalui penyelamatan makanan berlebih, donasi pangan, pengomposan, hingga pemanfaatan maggot BSF. Amelia Santika juga menekankan pentingnya perubahan kebiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari, termasuk memilah sampah dari rumah.
Dalam sambutannya, dosen pengampu mata kuliah Politik Lingkungan Global, Kanyadibya Cendana Prasetyo, S.IP., M.DevSt., berharap kegiatan ini tidak berhenti pada ruang diskusi semata. Ia mendorong mahasiswa dan peserta untuk menerjemahkan pengetahuan menjadi aksi nyata yang mampu memberikan dampak lebih luas bagi lingkungan dan masyarakat.
EcoFest 2026 menjadi pengingat bahwa krisis lingkungan tidak hanya membutuhkan pemahaman akademik, tetapi juga keberanian untuk bertindak. Kolaborasi antara mahasiswa, akademisi, praktisi, dan komunitas dinilai menjadi langkah penting untuk menghadirkan solusi konkret menghadapi tantangan lingkungan global. (nid)














