Kanal24, Malang – Di era ketika hoaks menyebar lebih cepat daripada fakta dan kecerdasan buatan (AI) makin sulit dibedakan dari realitas, ancaman manipulasi informasi kini tak lagi sekadar isu dunia maya. Mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terjebak dalam perang opini, rekayasa psikologis, hingga serangan informasi digital yang memengaruhi cara berpikir dan mengambil keputusan.
Kondisi tersebut mendorong Departemen Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) menggelar Kuliah Tamu Psikologi bertajuk Cognitive Hacking di Auditorium Nuswantara Lantai 7 Gedung B FISIP UB, Jumat (22/5/2026). Kegiatan ini mengajak mahasiswa memahami bagaimana pola pikir manusia dapat dipengaruhi, dimanipulasi, bahkan “diretas” melalui arus informasi digital yang semakin masif.
Cognitive Hacking Jadi Ancaman di Era Arus Informasi Cepat
Ketua Departemen Psikologi UB, Dr. Sumi Lestari menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program three in one Departemen Psikologi UB untuk mata kuliah Psikologi Sosial dan Psikologi Digital. Peserta kuliah tamu tidak hanya berasal dari mahasiswa Magister Sains Psikologi, tetapi juga mahasiswa S1 yang mengambil mata kuliah Literasi, Teknologi, dan Informasi.
Baca Juga :
Workshop ZI Jadi Langkah Baru Reformasi Kampus UB

“Percepatan arus informasi itu semakin banyak, mudah diakses, tetapi dengan banyak ragam penggunanya mulai dari lansia, anak-anak, remaja, dewasa, bagaimanapun yang namanya manusia tentunya memiliki pola kognitif yang berbeda-beda,” ujar Sumi.
Menurutnya, fenomena cognitive hacking perlu dipahami mahasiswa psikologi karena mereka diharapkan menjadi akademisi yang menyampaikan informasi secara bertanggung jawab. Ia juga menyoroti kondisi kelelahan mental yang membuat seseorang lebih mudah termakan hoaks maupun scam digital.
“Mahasiswa itu nantinya diharapkan menjadi akademisi dan tentunya apapun yang mereka sampaikan diharapkan dapat dipercaya,” katanya.
Literasi Digital Dinilai Bukan Lagi Sekadar Keterampilan Tambahan
Sekretaris Departemen Psikologi UB, Dita Rachmayani mengatakan kuliah tamu ini merupakan bagian dari hibah three in one program prioritas Rektor Universitas Brawijaya yang menghadirkan dosen praktisi dan dosen asing dalam mata kuliah Psikologi Digital.

Menurut Dita, mahasiswa saat ini sangat bergantung pada internet dan AI dalam aktivitas akademik sehingga kemampuan menyaring informasi menjadi kebutuhan utama. “Ketika informasi di dunia digital ini sudah banyak, ini membuat secara kognitif kita itu kelelahan mental. Nah, ketika kita mengalami kelelahan mental akibatnya kita tidak bisa menyaring informasi secara kritis,” jelasnya.
Ia menambahkan, kampus memiliki peran penting membangun kesadaran mahasiswa agar lebih bijak dalam penggunaan teknologi digital. Selain melalui kuliah tamu, penguatan literasi digital juga dilakukan melalui berbagai pengayaan dalam proses pembelajaran di UB.
“Mahasiswa ini sekarang mengandalkan informasi itu semuanya dari internet. Mau cari jurnal ilmiah, mau update terkait fenomena-fenomena sosial itu kan semua didapatkan dari internet,” ujar Dita.
Scam Digital dan Manipulasi Emosi Banyak Mengincar Mahasiswa
Sementara itu, pemateri kuliah tamu, Cahya Suryani menyoroti bahwa ancaman terbesar yang kini banyak menyerang mahasiswa justru berasal dari scam digital dibanding sekadar hoaks biasa.
“Kalau untuk cognitive hacking yang sering menyerang mahasiswa itu sebenarnya lebih ke scam ya daripada misinformasi,” ujar Cahya.

Ia menjelaskan, mahasiswa rentan menjadi target modus seperti love scam hingga penipuan berkedok keuntungan finansial cepat karena faktor kebutuhan ekonomi dan manipulasi emosional. Menurutnya, semua manusia tetap memiliki bias dan emosi yang dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan digital.
Dalam sesi penutup, Cahya membagikan langkah sederhana menghadapi informasi mencurigakan di media sosial. “3 detik pertama untuk bernapas, 3 menit kedua kita mulai mengaktifkan berpikir kita, cek fakta, terus 3 menit ketiga kita akan mengambil keputusan,” katanya.
Melalui kegiatan ini, Departemen Psikologi UB berharap mahasiswa tidak hanya mampu melindungi diri dari hoaks dan scam digital, tetapi juga dapat menjadi agen edukasi literasi digital di masyarakat. (ger)














