Kanal24, Malang – Rendahnya nilai matematika dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) kembali memunculkan alarm lama tentang kualitas numerasi siswa Indonesia. Persoalan ini bukan sekadar soal kemampuan berhitung, melainkan berkaitan dengan budaya belajar, metode pengajaran, hingga kesiapan sumber daya manusia Indonesia menghadapi era teknologi dan ekonomi digital.
Di banyak sekolah, matematika masih menjadi pelajaran yang paling ditakuti siswa. Rasa cemas ketika menghadapi angka, takut salah menjawab soal, hingga anggapan bahwa matematika hanya untuk “anak pintar” telah menjadi pengalaman umum di ruang-ruang kelas. Situasi tersebut dinilai turut memengaruhi rendahnya kemampuan numerasi pelajar Indonesia dalam berbagai asesmen pendidikan.
Baca juga:
BPJS Ketenagakerjaan Bidik UB Jadi Role Model Perlindungan Jaminan Sosial di Kampus
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kemampuan matematika siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Kondisi ini kembali menjadi sorotan setelah hasil TKA memperlihatkan banyak siswa mengalami kesulitan menyelesaikan soal matematika dasar maupun berbasis penalaran.
Matematika Sudah Dianggap Sulit Sejak Dini
Banyak anak mulai memandang matematika sebagai pelajaran menakutkan sejak jenjang sekolah dasar. Tidak sedikit siswa tumbuh dengan stigma bahwa matematika adalah pelajaran paling sulit dan penuh tekanan.
Budaya takut salah dalam proses belajar dinilai menjadi salah satu penyebab utama. Di ruang kelas, siswa sering kali lebih fokus mencari jawaban benar dibanding memahami proses berpikir di balik sebuah soal. Akibatnya, matematika dipahami sebagai kumpulan rumus yang harus dihafal, bukan alat untuk melatih logika dan pemecahan masalah.
Fenomena tersebut diperparah dengan tekanan akademik yang masih menempatkan nilai sebagai tujuan utama pembelajaran. Banyak siswa akhirnya belajar matematika demi mengerjakan ujian, bukan memahami konsep secara mendalam.
Di sisi lain, tidak sedikit orang tua secara tidak sadar ikut membangun ketakutan terhadap matematika. Kalimat seperti “dari dulu matematika memang susah” atau “ayah dulu juga tidak bisa matematika” kerap terdengar dalam keseharian dan memengaruhi kepercayaan diri anak.
Belajar Rumus, Bukan Cara Bernalar
Rendahnya kemampuan numerasi juga dinilai berkaitan dengan metode pembelajaran yang terlalu berorientasi pada hafalan. Siswa terbiasa mengikuti contoh soal yang sama persis dengan penjelasan guru, tetapi kesulitan ketika konteks soal sedikit diubah.
Dalam banyak kasus, siswa mampu mengerjakan soal rutin, namun mengalami kesulitan saat dihadapkan pada soal berbasis penalaran atau problem solving. Padahal, kemampuan berpikir logis dan analitis menjadi inti utama pembelajaran matematika modern.
Kondisi ini terlihat dalam berbagai asesmen internasional yang menilai kemampuan siswa memahami persoalan sehari-hari menggunakan pendekatan matematika. Ketika soal tidak lagi berbentuk hafalan rumus, banyak siswa kehilangan arah dalam mencari solusi.
Kemampuan berpikir kritis tersebut sebenarnya semakin penting di tengah perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), hingga ekonomi digital yang menuntut kemampuan analisis dan penyelesaian masalah.
Guru dan Kurikulum Sama-Sama Tertekan
Persoalan numerasi tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada siswa. Guru juga menghadapi tantangan besar dalam proses pembelajaran matematika di sekolah.
Perubahan kurikulum yang terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir membuat banyak guru harus beradaptasi dengan cepat. Di sisi lain, target materi yang padat sering kali membuat pembelajaran lebih berfokus pada penyelesaian silabus dibanding pendalaman konsep.
Jumlah siswa yang besar di dalam kelas turut menyulitkan guru memberikan perhatian personal kepada murid yang tertinggal. Akibatnya, siswa yang sejak awal kesulitan memahami matematika semakin kehilangan rasa percaya diri.
Selain itu, beban administrasi yang tinggi membuat sebagian tenaga pendidik kesulitan mengembangkan metode belajar yang lebih kreatif dan interaktif. Pembelajaran akhirnya kembali pada pola lama: ceramah, contoh soal, lalu latihan berulang.
Ketimpangan Pendidikan Perparah Krisis Numerasi
Masalah numerasi di Indonesia juga tidak lepas dari ketimpangan kualitas pendidikan antarwilayah. Akses terhadap guru berkualitas, fasilitas belajar, internet, hingga pendampingan belajar tambahan masih belum merata.
Siswa di daerah perkotaan umumnya memiliki akses lebih besar terhadap les privat, bimbingan belajar, maupun platform pembelajaran digital. Sementara di banyak daerah lain, keterbatasan fasilitas pendidikan membuat proses belajar matematika berjalan jauh lebih sulit.
Kondisi tersebut menyebabkan kemampuan numerasi siswa sangat dipengaruhi latar belakang ekonomi keluarga dan lingkungan belajar. Akibatnya, kesenjangan pendidikan semakin melebar.
Alarm untuk Masa Depan SDM Indonesia
Rendahnya kemampuan matematika tidak hanya berdampak pada dunia pendidikan, tetapi juga berpotensi mempengaruhi daya saing Indonesia di masa depan. Di tengah ambisi memperkuat sektor teknologi, industri digital, dan pengembangan SDM berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), kemampuan numerasi menjadi fondasi penting yang tidak bisa diabaikan.
Ketika negara-negara lain berlomba memperkuat pendidikan sains dan matematika, lemahnya numerasi dapat menjadi hambatan serius bagi Indonesia dalam menghadapi persaingan global.
Karena itu, pembelajaran matematika dinilai perlu diarahkan kembali sebagai alat untuk melatih logika, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar pelajaran menghafal rumus demi mengejar nilai ujian. (nid)













