Kanal24, Malang – Nilai tukar rupiah kembali mencetak rekor terburuk sepanjang sejarah setelah menyentuh level Rp18.019 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Pelemahan tajam ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global yang belum mereda.
Tekanan terhadap rupiah disebut dipengaruhi kombinasi penguatan dolar AS, ketidakpastian geopolitik Timur Tengah, hingga sentimen pasar global yang mendorong investor memburu aset aman. Dalam beberapa pekan terakhir, rupiah memang terus bergerak melemah dan berulang kali mencetak rekor terendah baru.
Dolar AS Menguat, Rupiah Tertekan
Kenaikan indeks dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Pergantian kepemimpinan bank sentral AS dan ekspektasi suku bunga tinggi membuat arus modal global cenderung kembali ke aset berbasis dolar.
Baca juga:
Harga Sawit Anjlok, Petani Swadaya Jadi Korban Utama Gejolak Tata Niaga
Di sisi lain, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah juga memperbesar ketidakpastian pasar. Kondisi tersebut membuat investor global menghindari risiko dan memperkuat permintaan terhadap dolar AS sebagai safe haven.
Analis pasar memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut apabila sentimen global belum membaik. Bahkan sebelumnya sejumlah pengamat telah memprediksi level Rp18.000 per dolar AS berpotensi ditembus tahun ini.
Dampak Pelemahan Rupiah ke Masyarakat
Pelemahan rupiah bukan sekadar angka di pasar keuangan. Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga barang impor, bahan baku industri, hingga biaya produksi berbagai sektor usaha.
Industri yang bergantung pada impor diperkirakan menghadapi tekanan lebih besar akibat lonjakan biaya. Sebaliknya, sektor berbasis ekspor berpotensi memperoleh keuntungan jangka pendek karena nilai pendapatan dalam dolar meningkat. Namun ekonom mengingatkan dunia usaha tetap lebih membutuhkan stabilitas kurs dibanding pelemahan rupiah yang terlalu tajam.
Pelemahan kurs juga dapat berdampak pada harga BBM, tarif logistik, hingga inflasi domestik jika berlangsung berkepanjangan. Situasi tersebut membuat daya beli masyarakat berisiko ikut tertekan.
Pemerintah dan BI Diminta Bergerak Cepat
Bank Indonesia dan pemerintah kini berada dalam sorotan publik untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Sejumlah langkah intervensi diyakini akan terus dilakukan guna meredam volatilitas rupiah.
Meski demikian, pemerintah menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda dengan krisis moneter 1998. Fundamental ekonomi nasional dinilai masih relatif kuat dengan cadangan devisa yang terjaga serta sektor perbankan yang lebih stabil.
Namun, tekanan eksternal yang terus meningkat membuat pasar masih menunggu langkah konkret pemerintah dalam menjaga kepercayaan investor sekaligus menahan gejolak nilai tukar agar tidak semakin dalam.
Kekhawatiran Baru Dunia Usaha
Pelemahan rupiah hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS mulai memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha. Dunia industri dinilai berpotensi masuk ke fase survival mode apabila pelemahan kurs berlangsung lama.
Kondisi tersebut terutama dirasakan sektor yang memiliki utang luar negeri atau ketergantungan impor tinggi. Sementara masyarakat diperkirakan mulai menghadapi kenaikan harga pada sejumlah produk berbasis impor dalam beberapa waktu ke depan.
Dengan tekanan global yang belum sepenuhnya reda, arah rupiah dalam beberapa pekan mendatang diperkirakan masih sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik dunia dan kebijakan ekonomi Amerika Serikat.














