Kanal24, Malang – Upaya memperkuat pengakuan terhadap aktivitas nonakademik mahasiswa terus dilakukan Universitas Brawijaya (UB) seiring meningkatnya kebutuhan dunia kerja terhadap lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki pengalaman organisasi, kepemimpinan, dan pengabdian masyarakat. Melalui sosialisasi Satuan Kegiatan Mahasiswa (SKM) yang digelar Direktorat Kemahasiswaan UB di Gedung Widyaloka, Jumat (5/6/2026), UB mulai memperkenalkan sistem rekognisi aktivitas mahasiswa yang akan terdokumentasi secara resmi sebagai bagian dari rekam jejak lulusan.
Program SKM hadir sebagai instrumen baru untuk mencatat dan mengukur keterlibatan mahasiswa dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan, mulai dari organisasi, prestasi, kepanitiaan, hingga aktivitas sosial dan pengembangan diri. Melalui sistem ini, pengalaman nonakademik mahasiswa diharapkan memiliki nilai tambah yang lebih terukur saat memasuki dunia profesional.
Baca juga:
CEO HMNS Bongkar Strategi Bisnis Anti Gagal

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa UB, Dr. Setiawan Noerdajasakti, S.H., M.H., menjelaskan bahwa SKM merupakan sistem yang dirancang untuk mendata berbagai aktivitas kemahasiswaan secara terintegrasi. Menurutnya, mahasiswa dapat mengumpulkan seluruh capaian dan keterlibatan mereka selama masa studi sehingga menjadi portofolio yang bernilai saat mencari pekerjaan.
“Selama studinya mereka melakukan kegiatan kemahasiswaan A, B, C, ditabung di dalam SKM. Setelah lulus, data itu akan sangat mendukung mereka melengkapi portofolio untuk mencari pekerjaan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Setiawan menilai kehadiran SKM tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa. Data yang terkumpul juga akan memperkuat sistem penilaian kemahasiswaan, mendukung indikator kinerja universitas, hingga meningkatkan posisi UB dalam berbagai pemeringkatan nasional maupun internasional.

Direktur Direktorat Kemahasiswaan UB, Dr. Sujarwo, S.P., M.P., menambahkan bahwa selama ini lulusan hanya dibekali ijazah, transkrip akademik, dan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). Ketiga dokumen tersebut lebih banyak menggambarkan kemampuan akademik atau hard skill mahasiswa. Karena itu, SKM hadir untuk mengisi ruang yang belum terdokumentasikan, yakni perkembangan soft skill mahasiswa.
“SKM ini merupakan rekam jejak mahasiswa yang memiliki nilai tambah ketika dia menghadapi dunia kerja. Jadi tidak hanya hard skill yang terlihat, tetapi juga soft skill development-nya,” jelasnya.
Program ini juga mendapat respons positif dari organisasi kemahasiswaan. Ketua Eksekutif Mahasiswa UB 2026, Muhammad Azhar Zidane, menilai SKM menjadi inovasi yang mampu memberikan pengakuan terhadap kontribusi mahasiswa aktif di berbagai bidang. Menurutnya, sistem tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan mahasiswa tidak hanya diukur melalui IPK maupun prestasi kompetisi semata.
“Yang paling menarik adalah tidak hanya prestasi yang dinilai, tetapi keaktifan dalam organisasi juga mendapatkan poin,” katanya.
Melalui implementasi SKM, UB berharap semakin banyak mahasiswa terdorong untuk aktif berorganisasi, mengembangkan kompetensi diri, dan membangun pengalaman di luar ruang kelas. Dengan begitu, lulusan UB tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan adaptasi dan kepemimpinan yang dibutuhkan dunia kerja masa depan. (cay)














