Kanal24, Malang – Komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan tidak cukup berhenti pada slogan. Di tengah meningkatnya tuntutan transparansi dan akuntabilitas, Universitas Brawijaya (UB) mulai membangun sistem untuk mengukur sejauh mana prinsip Sustainable Development Goals (SDGs) benar-benar dijalankan di lingkungan kampus. Melalui peluncuran Dashboard SDGs, UB berupaya memastikan bahwa setiap inisiatif keberlanjutan dapat dipantau, dievaluasi, dan terus ditingkatkan berdasarkan data.
Kepala UB SDGs Center, Dr. Novia Lusiana, S.T.P., M.Si., Ph.D., mengatakan pendekatan berbasis data menjadi penting agar implementasi SDGs tidak berhenti pada deklarasi komitmen semata.
“Untuk memperkuat komitmen tersebut, kami mengembangkan Dashboard SDGs yang memungkinkan universitas mengukur, memantau, dan mengevaluasi capaian SDGs secara sistematis. Platform ini membantu memastikan bahwa berbagai inisiatif keberlanjutan yang dilakukan bersifat berbasis bukti, terukur, dan terus mengalami perbaikan,” ujarnya dalam ICSDGs 2026.
Melalui dashboard tersebut, UB dapat memetakan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, mulai dari pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga tata kelola institusi.
Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya UB memperkuat posisinya dalam berbagai pemeringkatan internasional yang menilai kontribusi perguruan tinggi terhadap keberlanjutan.
Novia menjelaskan, berdasarkan Times Higher Education (THE) Impact Rankings 2024, Universitas Brawijaya berada pada kelompok peringkat 400–600 dunia. Sementara pada QS Sustainability Rankings, UB mencatatkan peningkatan dari peringkat 653 menjadi 623.

Capaian tersebut, menurutnya, tidak lepas dari upaya kampus untuk membangun budaya keberlanjutan yang melibatkan seluruh unit kerja.
“Kami meyakini bahwa keberlanjutan bukan tanggung jawab satu unit tertentu. Seluruh fakultas, departemen, hingga sivitas akademika memiliki peran untuk memastikan prinsip-prinsip SDGs benar-benar dijalankan,” katanya.
Karena itu, sejak tahun lalu UB mulai melibatkan seluruh fakultas untuk melaporkan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan SDGs. Data tersebut kemudian dihimpun dan menjadi bagian dari sistem pemantauan universitas.
Tak hanya menjadi instrumen evaluasi, UB juga memperkenalkan Faculty SDGs Performance Ranking, yaitu pemeringkatan kinerja fakultas berdasarkan kontribusinya terhadap pencapaian SDGs.
Menurut Novia, mekanisme ini bukan untuk menciptakan kompetisi semata, melainkan menjadi sarana refleksi dan motivasi agar setiap fakultas terus meningkatkan dampak keberlanjutannya.
“Pemeringkatan ini tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga menjadi sumber motivasi dan inspirasi untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Selain mengembangkan sistem pengukuran, UB juga menjalankan berbagai inisiatif pendukung, seperti UB Green Campus Initiative dan Program Kampung Lingkar Kampus, yang mendorong praktik keberlanjutan di lingkungan kampus sekaligus memperkuat kolaborasi dengan masyarakat sekitar.
Berdasarkan hasil pemetaan kinerja SDGs, Universitas Brawijaya juga mengidentifikasi sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan yang menjadi kekuatan strategis institusi. Fokus tersebut meliputi pengentasan kemiskinan, kesehatan dan kesejahteraan, pendidikan berkualitas, kesetaraan gender, air bersih dan sanitasi layak, energi bersih dan terjangkau, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta industri, inovasi, dan infrastruktur.
Bagi Novia, tantangan terbesar dalam mewujudkan kampus berkelanjutan bukan sekadar mengejar posisi dalam pemeringkatan internasional, melainkan memastikan nilai-nilai keberlanjutan tertanam dalam setiap proses pengambilan keputusan.
“Keberlanjutan bukan sekadar target yang harus dicapai, tetapi cara pandang yang seharusnya menjadi dasar dalam setiap keputusan yang kita ambil,” tegasnya.
Ke depan, UB SDGs Center berkomitmen untuk terus memperkuat integrasi prinsip-prinsip SDGs dalam seluruh aktivitas universitas, mulai dari pembelajaran, riset, pengabdian kepada masyarakat, hingga tata kelola institusi.
Sebab, di tengah berbagai tantangan global yang terus berubah, keberlanjutan tidak lagi cukup dimaknai sebagai serangkaian program. Ia membutuhkan sistem yang mampu mengukur dampak, mengidentifikasi kekurangan, serta memastikan setiap langkah yang diambil benar-benar membawa perubahan.
Sejalan dengan tagline UB SDGs Center, “Innovation Today, Sustaining Tomorrow,” inovasi yang dilakukan hari ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.(Din/Qrn)













