Kanal24, Malang – Ketika seorang mahasiswa tiba-tiba pingsan di tengah aktivitas kampus, kebakaran kecil terjadi di sudut gedung, atau kecelakaan menimpa sivitas akademika, siapa orang pertama yang kemungkinan besar berada di lokasi? Bukan dokter. Bukan dosen. Bukan pula pimpinan kampus. Mereka adalah satpam, petugas parkir, dan tenaga kebersihan.
Menyadari peran penting tersebut, Universitas Brawijaya (UB) membekali sekitar 100 tenaga lapangan yaitu satpam, petugas parkir, dan tenaga kebersihan, melalui Pelatihan K3L dan Tanggap Darurat Tenaga Kependidikan UB 2026 Batch 1 yang digelar di Gedung Samantha Krida UB, Senin (15/6/2026).
Baca juga:
Inovasi Mahasiswa UB Warnai Pameran SDGs dengan Energi Bersih
Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya kampus membangun budaya keselamatan sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi berbagai kondisi darurat di lingkungan perguruan tinggi.
Sekretaris Universitas Brawijaya, Dr. Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.Si., mengatakan program tersebut merupakan bagian dari prioritas kampus dalam mewujudkan Kampus Tangguh K3.

“Ini bagian dari mandatori yang diberikan kepada Divisi K3 untuk meningkatkan kapasitas petugas yang ada di Universitas Brawijaya, mulai dari penanganan kegawatdaruratan, pemadam kebakaran, sampai pertolongan pertama pada kecelakaan,” ujarnya.
Menurut Dr. Tri Wahyu, kualitas sumber daya manusia menjadi kunci dalam membangun sistem keselamatan yang kuat. Sebab, petugas lapangan merupakan pihak yang paling mungkin memberikan respons pertama sebelum bantuan lanjutan datang.
Ketika Menit Pertama Menentukan
Dr. Tri Wahyu menegaskan, UB menargetkan terciptanya lingkungan kampus dengan tingkat kecelakaan seminimal mungkin atau zero accident.
“Target kita adalah zero accident. Kita tentu tidak menginginkan adanya kejadian apa pun. Kalaupun terjadi, kita harus mampu menanggulangi dan memitigasi segala risiko yang muncul,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya prosedur yang sederhana dan respons yang cepat ketika situasi darurat terjadi.
“Kalau ada birokrasi yang menghambat, hapus. Ini urusannya nyawa. Jangan sampai ada korban karena ambulans terlambat datang beberapa menit. SOP harus efektif dan efisien agar petugas di lapangan memiliki pedoman yang jelas saat mengambil tindakan,” tegasnya.
Menurutnya, budaya keselamatan tidak cukup berhenti pada aturan dan pelatihan, tetapi harus menjadi refleks bersama.
“Kita ingin membangun budaya. Kalau terjadi kecelakaan jangan ambil ponsel dulu untuk merekam. Yang utama adalah membantu dan melakukan tindakan yang tepat,” ujarnya.
Satpam Bukan Sekadar Penjaga Gerbang
Kepala Divisi K3L Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Qomariyatus Sholihah, ST., M.Kes., IPU., ASEAN Eng., menjelaskan peserta batch pertama difokuskan pada petugas keamanan karena mereka menjadi pihak yang paling sering berinteraksi langsung dengan aktivitas kampus.
Mereka bukan hanya bertugas menjaga gerbang atau mengatur lalu lintas kendaraan, tetapi juga berpotensi menjadi garda terdepan saat keadaan darurat terjadi.
“Harapannya risiko dan bahaya dari seluruh aktivitas yang dilakukan di lingkungan kampus bisa diminimalkan sehingga kampus tangguh dan zero accident dapat terwujud,” katanya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi dasar keselamatan dan kesehatan kerja (K3), manajemen risiko, pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), hingga penanganan kebakaran.
Kemampuan pertolongan pertama dinilai penting mengingat tingginya mobilitas di lingkungan kampus yang dapat memunculkan berbagai kondisi darurat, mulai dari mahasiswa pingsan, luka akibat kecelakaan ringan, hingga insiden yang membutuhkan evakuasi cepat.
“Ketika terjadi accident, seluruh satpam bisa langsung bergerak cepat membantu evakuasi dan memberikan pertolongan pertama sesuai prosedur,” jelasnya.
Selain itu, peserta juga dibekali keterampilan menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) serta mengikuti simulasi penanganan kebakaran bersama petugas pemadam kebakaran.
Berlanjut Hingga Agustus
Ketua pelaksana kegiatan, Amelia Ayu Paramitha, S.H., M.H., mengatakan pelatihan tahun ini akan dilaksanakan dalam tiga gelombang.
“Setiap batch diikuti sekitar 100 peserta. Batch kedua direncanakan akhir Juni atau awal Juli, sedangkan batch ketiga akan berlangsung pada awal Agustus,” ujarnya.
Ia menjelaskan seluruh peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga praktik lapangan agar kemampuan yang diperoleh dapat diterapkan secara langsung ketika menghadapi situasi darurat.
Materi yang diberikan meliputi keselamatan dan kesehatan kerja, kebakaran, tanggap darurat, hingga P3K. Setelah pelatihan selesai, Divisi K3L juga akan melakukan monitoring agar kompetensi yang diperoleh peserta dapat terus diterapkan secara berkelanjutan.
Ke depan, program serupa tidak hanya menyasar tenaga lapangan, tetapi juga akan diperluas kepada sivitas akademika lainnya di lingkungan Universitas Brawijaya.
Sebab, kampus yang aman bukan hanya ditentukan oleh fasilitas yang dimiliki, melainkan oleh orang-orang yang siap bergerak ketika detik-detik paling menentukan itu datang. Dan sering kali, mereka adalah orang-orang yang setiap hari kita jumpai, tetapi jarang kita sadari perannya. (qrn/nid/din)














