Kanal24, Malang – Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengancam keberlanjutan usaha peternakan dan ketahanan pangan nasional. Persoalan tersebut menjadi fokus dalam Ujian Akhir Disertasi bertajuk “Strategi Adaptasi dalam Menghadapi Perubahan Iklim terhadap Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Peternak Sapi Pedaging di Jawa Timur” yang digelar Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan Universitas Brawijaya (FAST UB) di Auditorium Lantai 5 Gedung Pascasarjana UB, Senin (29/6/2026). Penelitian ini menawarkan strategi adaptasi berbasis kondisi wilayah sebagai rekomendasi bagi pemerintah dan pelaku peternakan.
Adaptasi Jadi Kunci Keberlanjutan Peternakan
Co-promotor, Prof. Ir. Hari Dwi Utami, M.S., M.App.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., menilai penelitian tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini ketika perubahan iklim semakin memengaruhi sektor peternakan sapi pedaging.
Baca juga:
Ruang Belajar Aqil Gerakan Literasi untuk Masa Depan Anak
Menurutnya, perubahan pola musim berdampak langsung terhadap ketersediaan pakan ternak. Saat pakan sulit diperoleh, biaya produksi meningkat sehingga keuntungan peternak menurun. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi kesejahteraan peternak, tetapi juga dapat mengganggu ketahanan pangan nasional.

“Dengan adanya perubahan cuaca tadi, tentu akan sangat berpengaruh terhadap lingkungan, dan otomatis lingkungan sangat memengaruhi peternakan sapi potong. Karena sapi potong membutuhkan pakan sebagai kebutuhan utamanya,” jelas Prof. Hari Dwi Utami.
Ia menambahkan, penelitian tersebut menjadi penting karena menghasilkan rekomendasi strategi adaptasi yang dapat diterapkan untuk menjaga keberlanjutan usaha peternakan. Penguatan kelembagaan, kolaborasi antarlembaga, hingga inovasi menjadi bagian dari solusi yang diusulkan agar sektor peternakan mampu bertahan menghadapi perubahan iklim.
Strategi Disesuaikan Berdasarkan Karakteristik Wilayah
Promovenda Niche Permata Sari menjelaskan penelitian yang dilakukannya berfokus pada analisis strategi adaptasi perubahan iklim dari sisi on farm maupun off farm. Penelitian tersebut kemudian mengukur dampaknya terhadap ketahanan pangan sekaligus kesejahteraan peternak sapi pedaging.
Ia mengungkapkan bahwa perubahan iklim memengaruhi produktivitas ternak, mulai dari penurunan produksi, gangguan reproduksi, hingga perubahan kualitas dan ketersediaan pakan akibat perbedaan musim.
“Kami mengangkat tiga agroekologi, sehingga strategi harus dibedakan berdasarkan wilayahnya. Tidak hanya membuat suatu pelatihan saja, tetapi juga harus menyesuaikan dengan kondisi di lapangan,” ujar Niche Permata Sari.
Melalui pendekatan tersebut, hasil penelitian diharapkan mampu menjadi acuan bagi penyuluh maupun pemerintah dalam menyusun program pemberdayaan peternak yang lebih tepat sasaran sesuai karakteristik wilayah masing-masing.
Hasil Riset Didorong Berlanjut ke Implementasi

Prof. Hari Dwi Utami berharap hasil penelitian tidak berhenti pada tahap akademik, tetapi dapat diimplementasikan melalui publikasi ilmiah, pembinaan kelompok peternak, maupun kerja sama dengan berbagai lembaga terkait.
Sementara itu, Niche Permata Sari berharap temuannya dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan adaptasi perubahan iklim sehingga program yang dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan peternak di lapangan. Menurutnya, strategi yang disusun berdasarkan kondisi agroekologi akan lebih efektif meningkatkan kesejahteraan peternak sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Dengan meningkatnya ancaman perubahan iklim terhadap sektor pertanian dan peternakan, penelitian ini diharapkan menjadi salah satu referensi ilmiah yang mampu mendorong lahirnya kebijakan adaptif demi menjaga keberlanjutan produksi pangan Indonesia.














