Kanal24, Malang – Ajang Putra Putri Siswa Jawa Timur (PPSJT) 2026 tidak berhenti pada malam penganugerahan juara. Para finalis justru akan mendapatkan berbagai fasilitas pengembangan diri, mulai dari beasiswa kuliah, pelatihan public speaking, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), hingga pendampingan menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan UTBK.
Komitmen tersebut disampaikan Regional Director Putra Putri Siswa Jawa Timur, Naufal Yuan Nabila, usai Grand Final PPSJT 2026 yang digelar di Hall UB TV, Gedung Rektorat Universitas Brawijaya, Sabtu (27/6/2026).
Menurut Naufal, penyelenggara ingin memastikan bahwa seluruh peserta memperoleh manfaat jangka panjang, bukan hanya pengalaman mengikuti kompetisi.
Baca juga:
Bukan Ajang Adu Cantik, Putra Putri Siswa Jawa Timur 2026 Cetak Pelajar Berkarakter dan Berdampak
“Harapan kami ajang ini tidak hanya selesai pada saat grand final saja, tetapi terus berlanjut untuk perkembangan potensi masing-masing siswa di Jawa Timur,” ujarnya.
Gandeng Kampus Berikan Beasiswa 100 Persen
Sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan, penyelenggara menjalin kerja sama dengan Universitas Bakti Hasta Mulia Kota Madiun untuk menyediakan beasiswa pendidikan hingga 100 persen pada dua program studi.
Kesempatan tersebut diperuntukkan bagi para pemenang utama dan juga terbuka bagi seluruh finalis yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Naufal mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen penyelenggara dalam membuka akses pendidikan bagi pelajar berprestasi di Jawa Timur.
“Kami ingin ajang ini benar-benar menjadi jembatan bagi para siswa untuk mengembangkan masa depan mereka melalui pendidikan,” katanya.
Finalis Dibekali Public Speaking hingga Artificial Intelligence
Selain beasiswa, Putra Putri Siswa Jawa Timur 2026 juga menggandeng Mentor Tunity, sebuah platform pembelajaran daring yang berfokus pada pengembangan kompetensi nonakademik.
Melalui kerja sama tersebut, para finalis akan mendapatkan pembinaan dalam berbagai bidang, seperti public speaking, karya tulis ilmiah (KTI), Artificial Intelligence (AI), hingga berbagai keterampilan lain yang relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini.
Menurut Naufal, kemampuan nonakademik menjadi bekal penting bagi pelajar untuk menghadapi tantangan di masa depan.
“Kami ingin para finalis memiliki kemampuan yang lebih luas, baik dari sisi akademik maupun keterampilan yang dibutuhkan di era digital,” jelasnya.
Persiapan Hadapi TKA dan UTBK
Penyelenggara juga bekerja sama dengan Bimbel Scover Malang untuk memberikan pendampingan kepada peserta dalam menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).
Program tersebut diharapkan dapat membantu para finalis mempersiapkan diri memasuki perguruan tinggi negeri maupun swasta sesuai dengan cita-cita mereka.
Dengan demikian, ajang Putra Putri Siswa Jawa Timur menjadi ruang pengembangan karakter, dan juga mendukung peningkatan kualitas akademik para peserta.
Seleksi Ketat Libatkan Akademisi
Pada penyelenggaraan perdana tahun 2026, Putra Putri Siswa Jawa Timur berhasil menarik minat hampir 100 pelajar dari berbagai daerah.
Dari jumlah tersebut, panitia menetapkan 38 finalis terbaik, terdiri atas 23 peserta kategori SMP dan 15 peserta kategori SMA, untuk mengikuti tahapan grand final.
Proses seleksi dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari seleksi administrasi, tes tulis, wawancara, pembuatan video profil, hingga kemampuan public speaking.
Seluruh proses penilaian melibatkan akademisi dari Universitas Negeri Malang guna memastikan objektivitas dalam menentukan finalis maupun pemenang.
Jadi Wadah Pengembangan Potensi Pelajar
Bagi Naufal, Putra Putri Siswa Jawa Timur bukan sekadar ajang mencari pemenang, melainkan sebuah wadah pembinaan berkelanjutan bagi pelajar yang memiliki potensi di berbagai bidang.
Melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, lembaga bimbingan belajar, hingga platform pengembangan keterampilan, ia berharap seluruh finalis mampu meningkatkan kapasitas diri dan menjadi generasi muda yang siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
“Kami ingin seluruh peserta terus berkembang setelah kompetisi berakhir. Grand final hanyalah awal dari perjalanan mereka untuk menjadi pelajar yang berprestasi, berkarakter, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat,” pungkasnya. (nid)














