Kanal24, Malang – Momentum Bulan Sura yang identik dengan tradisi refleksi, penyucian diri, dan pelestarian nilai-nilai budaya kembali dimaknai secara istimewa di Kabupaten Malang. Pemerintah Desa Tumpang bersama Desa Budaya Tumpang akan menggelar Peringatan Bulan Sura Be 1960/Muharam 1448 Hijriah melalui rangkaian doa bersama dan pagelaran wayang kulit yang mengangkat kisah “Kunjarakarna Ruwat”, sebuah lakon yang terinspirasi dari Relief Candi Jago. Kegiatan tersebut akan berlangsung pada 9-10 Juli 2026 di Gedung Rakyat Tumpang, Kabupaten Malang.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Doa Bersama pada Kamis (9/7/2026) pukul 19.00 WIB. Selanjutnya, masyarakat akan disuguhkan Pagelaran Wayang Kulit Gagrak Malangan dengan lakon Kunjarakarna Ruwat pada Jumat (10/7/2026) pukul 19.00 WIB. Seluruh kegiatan berlangsung di Gedung Rakyat Tumpang dan terbuka secara gratis untuk masyarakat.
Baca juga:
Artmeru Gallery Hadir di Malang, Jadi Rumah Baru Seniman Lintas Generasi
Wayang Kulit Angkat Kisah Relief Candi Jago
Pagelaran budaya tersebut akan dibawakan oleh Ki Soleh Adi Pramono, seorang dalang ruwatan yang dikenal konsisten melestarikan tradisi wayang sebagai media pendidikan budaya sekaligus spiritual masyarakat.
Keistimewaan pertunjukan ini terletak pada pemilihan lakon “Kunjarakarna Ruwat” yang terinspirasi dari Relief Kunjarakarna di Candi Jago, salah satu situs warisan budaya penting yang berada di Desa Tumpang.
Relief tersebut mengisahkan perjalanan Kunjarakarna, sosok yaksa yang berusaha memperbaiki diri melalui laku kebajikan demi mencapai pembebasan dari penderitaan. Nilai-nilai pertobatan, penyucian diri, welas asih, dan kemenangan atas kebajikan dinilai sangat relevan dengan makna Bulan Sura yang selama ini menjadi momentum introspeksi dan ruwatan kehidupan.
Menghidupkan Warisan Budaya Lewat Pertunjukan
Melalui lakon tersebut, Desa Tumpang menghadirkan hiburan budaya dan juga berupaya menghidupkan kembali narasi sejarah yang terpahat pada Relief Candi Jago agar lebih mudah dipahami masyarakat melalui media wayang kulit yang masih hidup di tengah masyarakat.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjadikan warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber nilai yang tetap relevan bagi kehidupan masa kini sekaligus memperkuat identitas budaya lokal.

Perkuat Identitas Desa Budaya Tumpang
Peringatan Bulan Sura 2026 juga menjadi bagian dari penguatan identitas Desa Tumpang sebagai Desa Pemajuan Kebudayaan. Tahun 2026 menjadi tahun ketiga desa tersebut menjalankan Program Nasional Desa Pemajuan Kebudayaan yang berfokus pada pelestarian warisan budaya, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan ekonomi kreatif berbasis kebudayaan.
Melalui kegiatan ini, Desa Tumpang ingin menegaskan bahwa kebudayaan untuk dikenang dan harus terus dirawat, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya melalui partisipasi aktif masyarakat.
Panitia mengundang seluruh masyarakat untuk hadir dan menyaksikan rangkaian Peringatan Bulan Sura 2026. Selain menjadi ruang refleksi spiritual, kegiatan ini diharapkan menjadi momentum bersama dalam menjaga denyut kebudayaan Nusantara agar tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.














