Kanal24, Malang – Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) selama ini masih kerap dipandang sebatas aturan yang harus dipatuhi atau persyaratan administrasi. Padahal, di lingkungan perguruan tinggi, budaya K3 menjadi fondasi penting agar seluruh aktivitas akademik dapat berlangsung aman, produktif, dan siap menghadapi berbagai kondisi darurat.
Komitmen itulah yang terus dibangun Universitas Brawijaya (UB) melalui Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan (K3L) dan Tanggap Darurat bagi Tenaga Kependidikan Tahun 2026 Batch 3 di Gedung Samantha Krida, Rabu (16/7/2026). Bagi UB, K3 bukan lagi sekadar memenuhi kewajiban, melainkan budaya yang harus tumbuh dalam keseharian seluruh sivitas akademika.
Pelatihan ini membekali tenaga kependidikan dengan kemampuan dasar K3, pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), hingga kesiapsiagaan menghadapi berbagai kondisi darurat sebagai bagian dari upaya mewujudkan Kampus Tangguh K3.
Baca Juga:
AI Bisa Jadi Teman Belajar, Asal Guru Tahu Cara Memanfaatkannya
UB Ingin Ubah Cara Pandang tentang K3
Kepala Divisi K3L Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Qomariyatus Sholihah, S.T., M.Kes., IPU., ASEAN Eng., mengatakan pelatihan kali ini mengangkat tiga materi utama, yakni dasar-dasar K3, pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), serta penanganan keadaan darurat yang dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar).

Menurutnya, setiap aktivitas kerja memiliki potensi bahaya sehingga seluruh tenaga kependidikan perlu memahami cara mengidentifikasi, mengendalikan, dan meminimalkan risiko agar mampu bekerja sesuai standar operasional prosedur (SOP).
“Setiap aktivitas memiliki risiko dan bahayanya sehingga kita dapat mengendalikan serta meminimalkan risiko tersebut. Dengan begitu, ketika bekerja kita mengetahui standar operasional prosedur (SOP) yang harus dilakukan. Dari situlah nantinya akan terwujud budaya K3 dalam perilaku sehari-hari,” ujar Prof. Qomariyatus.
Ia menjelaskan, materi pelatihan tidak hanya membahas penanganan keadaan darurat, tetapi juga penerapan ergonomi di lingkungan kerja, housekeeping untuk menciptakan ruang kerja yang aman dan nyaman, sistem Lock Out Tag Out (LOTO), hingga strategi membangun budaya K3 melalui berbagai media edukasi.
“K3 bukan lagi sebuah paksaan, tetapi sudah menjadi kebutuhan bahwa setiap aktivitas harus berbudaya K3,” tegasnya.
Tenaga Kependidikan Jadi Garda Terdepan Kampus Tangguh
Prof. Qomariyatus menegaskan keberhasilan penerapan K3 tidak hanya bergantung pada satu unit kerja. Seluruh sivitas akademika, termasuk tenaga kependidikan, memiliki peran penting dalam menjaga keselamatan di lingkungan kampus.
Menurutnya, tenaga kependidikan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh proses akademik sehingga pemahaman terhadap K3 harus dimiliki oleh setiap individu.
“Tenaga kependidikan merupakan bagian dari seluruh stakeholder. Dosen tanpa tenaga kependidikan tidak akan berjalan. Mahasiswa tanpa tenaga kependidikan juga tidak akan berjalan,” katanya.
Ia berharap budaya keselamatan tidak berhenti pada ruang pelatihan, tetapi benar-benar menjadi kebiasaan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari di lingkungan Universitas Brawijaya.
Batch 3 Perkuat Pemerataan Kompetensi K3
Sementara itu, Sekretaris Universitas Brawijaya, Dr. Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.Si., menjelaskan pelaksanaan Batch 3 merupakan bagian dari pemerataan kompetensi dasar K3 bagi tenaga kependidikan, khususnya yang banyak beraktivitas di lapangan.
Seluruh peserta memperoleh materi yang sama dengan batch sebelumnya agar memiliki standar kemampuan yang setara dalam menghadapi berbagai kondisi darurat.
“Tujuannya memberikan pembekalan kemampuan dasar terkait kegawatdaruratan. Kemudian apabila terjadi kejadian seperti kebakaran, kecelakaan, dan sebagainya, teman-teman sudah memiliki kesiapsiagaan,” jelasnya.
Menurut Tri Wahyu, penerapan K3 kini telah menjadi salah satu aspek penting dalam tata kelola perguruan tinggi modern, sekaligus mendukung pemenuhan berbagai standar mutu dan akreditasi institusi.
“K3 merupakan bagian penting dalam sebuah organisasi, termasuk organisasi di lingkungan kampus. Keselamatan kerja sudah menjadi kebutuhan bagi kita semua,” ujarnya.

Budaya Keselamatan Jadi Komitmen Jangka Panjang UB
Pelatihan yang dilaksanakan secara bertahap ini menjadi bagian dari komitmen Universitas Brawijaya untuk memperkuat budaya keselamatan di seluruh unit kerja. Tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis dalam menghadapi keadaan darurat, program ini juga bertujuan membangun kesadaran bahwa setiap aktivitas memiliki risiko yang perlu dikelola bersama.
Dengan budaya K3 yang semakin kuat, UB berharap seluruh sivitas akademika mampu menciptakan lingkungan kampus yang lebih aman, sehat, dan tangguh. Bagi Universitas Brawijaya, keselamatan bukan sekadar prosedur yang dijalankan ketika terjadi keadaan darurat, melainkan nilai yang harus menjadi bagian dari budaya kerja setiap hari. (gal)














