Kanal24, Malang – Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Namun di balik melimpahnya perkebunan sawit, terdapat satu potensi yang selama ini nyaris belum dimanfaatkan, yakni serbuk sari kelapa sawit. Melalui riset doktoral di Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan (FAST) Universitas Brawijaya (UB), bahan yang selama ini terabaikan tersebut berhasil dikembangkan menjadi pakan fungsional bagi lebah madu yang berpotensi mendukung industri perlebahan nasional sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Inovasi tersebut dipresentasikan oleh Eggi Pur Pinandita dalam Ujian Akhir Disertasi FAST UB, Jumat (17/7/2026). Penelitian berjudul “Produksi dan Karakterisasi Serbuk Sari Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Fermentasi sebagai Pakan Fungsional Lebah Madu (Apis mellifera) melalui Pendekatan In Vitro, In Vivo, dan In Silico” menawarkan solusi atas persoalan ketersediaan sumber protein lebah yang selama ini bergantung pada serbuk sari alami.
Baca juga:
FTAB UB dan Bank Indonesia Ubah Limbah Jadi Media Tanam

Menurut Eggi, Indonesia memiliki ketersediaan serbuk sari sawit yang sangat melimpah, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal sebagai bahan pakan lebah.
“Potensinya sangat besar karena selama ini belum banyak dimanfaatkan. Padahal dapat menjadi bahan pakan fungsional bagi lebah madu,” ujarnya.
Diuji dari Laboratorium hingga Respons Lebah
Untuk memastikan efektivitasnya, penelitian dilakukan melalui tiga pendekatan ilmiah sekaligus.
Pendekatan in vitro digunakan untuk mengkaji kandungan nutrisi serbuk sari kelapa sawit yang telah difermentasi. Selanjutnya, in vivo dilakukan dengan mengamati respons biologis lebah madu setelah mengonsumsi pakan tersebut. Sementara pendekatan in silico dimanfaatkan untuk memvalidasi senyawa bioaktif yang terkandung di dalam serbuk sari.
Seluruh rangkaian penelitian tersebut diselesaikan dalam waktu sekitar enam bulan.
Hasilnya menunjukkan bahwa proses fermentasi mampu meningkatkan potensi pemanfaatan serbuk sari sawit sebagai sumber nutrisi bagi lebah madu.
Jawaban atas Krisis Ketersediaan Pakan Lebah
Promotor disertasi, Dr. Ir. Sri Minarti, MP., IPM., ASEAN Eng., mengatakan penelitian ini menjawab persoalan yang selama ini dihadapi para peternak lebah.
Menurutnya, lebah membutuhkan serbuk sari sebagai sumber protein utama sepanjang tahun. Namun ketersediaan serbuk sari alami sangat bergantung pada musim sehingga sering kali tidak mampu memenuhi kebutuhan koloni.
Di sisi lain, serbuk sari kelapa sawit sebenarnya tersedia dalam jumlah melimpah di Indonesia, tetapi belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena memiliki dinding sel yang sulit dicerna lebah.
“Melalui teknologi fermentasi, dinding sel tersebut dapat dipecah sehingga nutrisi di dalamnya lebih mudah dimanfaatkan oleh lebah. Dengan begitu, serbuk sari sawit memiliki peluang besar menjadi sumber pakan alternatif sepanjang tahun,” jelasnya.
Ia menilai penelitian tersebut memiliki nilai strategis karena menggabungkan potensi besar sektor perkebunan sawit dengan kebutuhan industri perlebahan yang terus berkembang.
Berpeluang Menjadi Komoditas Bernilai Ekonomi
Tak hanya bermanfaat bagi peternak lebah, hasil riset ini juga dinilai membuka peluang usaha baru.
Serbuk sari sawit yang selama ini belum memiliki nilai ekonomi berpotensi menjadi komoditas yang dapat dipasarkan kepada peternak lebah sebagai bahan pakan lokal.
“Ke depan, ini bisa menjadi solusi bagi peternak dalam memenuhi kebutuhan pakan sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru melalui pemanfaatan serbuk sari kelapa sawit yang selama ini belum dimanfaatkan,” kata Eggi.
Apabila dikembangkan secara lebih luas, inovasi tersebut diyakini mampu mengurangi ketergantungan terhadap sumber serbuk sari musiman sekaligus meningkatkan produktivitas budidaya lebah madu di Indonesia.

Riset Masih Terus Dikembangkan
Meski hasil penelitian telah menunjukkan potensi yang menjanjikan, Sri Minarti menegaskan bahwa riset lanjutan tetap diperlukan untuk mengoptimalkan penerapannya di lapangan.
Salah satu aspek yang masih akan dikaji adalah pengaruh konsumsi serbuk sari fermentasi terhadap performa individu lebah, termasuk bobot tubuh dan produktivitasnya.
“Penelitian tidak pernah berhenti. Selalu ada ruang penyempurnaan agar manfaatnya semakin besar bagi peternak maupun industri perlebahan,” ujarnya.
Melalui penelitian ini, FAST Universitas Brawijaya tidak hanya menghadirkan inovasi berbasis sumber daya lokal, tetapi juga menawarkan solusi berkelanjutan yang menghubungkan sektor perkebunan, peternakan, dan industri. Jika berhasil dihilirisasikan, serbuk sari kelapa sawit yang selama ini dipandang sebagai hasil samping berpotensi berubah menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi bagi pengembangan perlebahan nasional. (nid)














