Kanal24, Malang – Regenerasi petani di pedesaan mulai menghadapi tantangan serius. Di Desa Ngebruk, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, semakin banyak generasi muda yang memilih bekerja di sektor industri dibanding melanjutkan profesi sebagai petani. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi keberlanjutan ketahanan pangan desa apabila tidak segera diantisipasi.
Temuan tersebut mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan Penguatan Ketahanan Pangan Lokal melalui Pendekatan Global Citizenship Education (GCED) yang digelar Tim Pengabdian Masyarakat Strategis Universitas Brawijaya (UB), Minggu (19/7/2026). Program ini merupakan bagian dari Hibah Pengabdian Strategis Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) UB.
Ketua Tim Pengabdian, Abdullah, S.Sos., M.Hub.Int., mengatakan ketahanan pangan bukan semata menjadi tanggung jawab petani atau pemerintah desa, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
Baca juga:
Sekali Klik Bisa Jadi Pintu Masuk Radikalisme, Ini Peringatan Polisi

“Ketahanan pangan harus dibangun bersama. Pemerintah desa, petani, keluarga, pemuda, hingga masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menjaga keberlanjutan sistem pangan,” ujarnya.
Anak Muda Tinggalkan Pertanian
Dalam sesi diskusi partisipatif yang dipandu Dano Purba, S.Sos., M.Sos., warga memetakan berbagai tantangan yang dihadapi sektor pertanian di Desa Ngebruk.
Salah satu persoalan utama yang muncul adalah menurunnya minat generasi muda untuk bekerja di sektor pertanian. Peserta menyebut pekerjaan di sektor industri dianggap lebih menjanjikan dibanding bertani yang membutuhkan modal cukup besar, sementara harga hasil panen cenderung fluktuatif dan pendapatan petani belum stabil.
Akibatnya, sebagian besar pelaku pertanian di desa saat ini berasal dari kelompok usia yang lebih tua.
Selain persoalan regenerasi, masyarakat juga menilai praktik pertanian yang berkembang masih banyak mengandalkan pengalaman turun-temurun. Padahal, penerapan teknologi, inovasi budidaya, hingga pengembangan model bisnis dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menarik minat generasi muda untuk kembali mengembangkan sektor pertanian.
Punya Potensi Besar Bangun Kemandirian Pangan
Di balik tantangan tersebut, Desa Ngebruk dinilai memiliki modal besar untuk memperkuat ketahanan pangan.
Hasil pemetaan warga menunjukkan desa memiliki peluang mengembangkan lumbung pangan desa, memperkuat distribusi hasil pertanian melalui jaringan pedagang sayur keliling (mlijo), serta mengoptimalkan berbagai komoditas lokal yang selama ini menjadi andalan masyarakat.
Temuan menarik lainnya, Desa Ngebruk tercatat memiliki 22 sumber air, namun baru dua sumber yang telah dimanfaatkan secara optimal. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi kekuatan utama dalam mendukung produktivitas pertanian apabila dikelola secara berkelanjutan.
Karena itu, peserta menilai diperlukan pendampingan yang berkelanjutan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan perguruan tinggi agar potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Pendekatan GCED Bangun Kepedulian Warga
Dalam kegiatan tersebut, Tim Pengabdian UB memperkenalkan pendekatan Global Citizenship Education (GCED) sebagai metode untuk membangun kepedulian masyarakat terhadap persoalan pangan.
Melalui pendekatan ini, warga diajak memahami persoalan secara kritis, menghargai keberagaman kebutuhan masyarakat, memperkuat semangat gotong royong, hingga mendorong lahirnya aksi nyata yang dimulai dari lingkungan sekitar.
Sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan ketahanan pangan desa, Tim Pengabdian Strategis UB juga menyerahkan buku mengenai kehidupan petani gurem dan peta ketahanan pangan Desa Ngebruk kepada Pemerintah Desa Ngebruk.
Peta tersebut diharapkan menjadi dasar penyusunan program lanjutan, mulai dari pemetaan potensi pangan lokal, identifikasi tantangan, hingga penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan perguruan tinggi, UB berharap Desa Ngebruk mampu membangun sistem pangan yang lebih mandiri, inklusif, dan berkelanjutan sekaligus menarik kembali minat generasi muda untuk melihat sektor pertanian sebagai peluang ekonomi yang menjanjikan. (nid)














