Kanal24, Malang – Ketergantungan Indonesia terhadap impor susu masih menjadi tantangan besar bagi sektor peternakan nasional. Salah satu penyebabnya adalah terbatasnya populasi sapi perah betina yang menjadi penghasil susu. Berangkat dari persoalan tersebut, penelitian doktor Universitas Brawijaya (UB) menghadirkan solusi melalui teknologi Semen Sexing X yang terbukti mampu meningkatkan peluang kelahiran pedet betina hingga sekitar 70 persen.
Hasil penelitian tersebut dipaparkan dalam Ujian Disertasi bertajuk Validasi Efektivitas Teknologi Semen Sexing X pada Sapi Friesian Holstein Berdasarkan Proporsi Spermatozoa Hasil Sexing, Kualitas, Fertilitas, dan Akurasi Jenis Kelamin Kelahiran di Auditorium 1 Lantai 5 Gedung 6 Pascasarjana Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan Universitas Brawijaya, Senin (20/7/2026). Disertasi dipresentasikan oleh Putri Utami, S.Pt., M.Pt., di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Trinil Susilawati, M.S., IPU., ASEAN Eng.
Baca juga:
Disertasi FH UB Usulkan Aturan untuk Homeless Media
Semen Sexing X Dinilai Mampu Menjawab Kebutuhan Nasional
Promotor disertasi, Prof. Trinil Susilawati, mengatakan penelitian ini tidak hanya berhenti pada pengembangan teknologi di laboratorium, tetapi juga membuktikan efektivitasnya di lapangan. Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi nilai lebih karena memberikan gambaran nyata mengenai penerapan teknologi bagi peternak.

“Penelitian ini sangat bagus karena dimulai dari laboratorium sampai ke lapangan. Ini menarik karena membantu menyelesaikan masalah nasional, yaitu kekurangan susu di Indonesia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, teknologi Semen Sexing X memungkinkan peluang kelahiran pedet betina lebih tinggi dibandingkan metode konvensional. Hal tersebut penting karena hanya sapi betina yang dapat dipelihara sebagai sapi perah penghasil susu.
Selain itu, penelitian juga membuktikan teknologi tersebut dapat diproduksi di dalam negeri. Namun, penerapannya tetap harus mengikuti standar operasional sesuai kondisi masing-masing wilayah agar hasilnya optimal.
Prof. Trinil menyebut tingkat akurasi kelahiran pedet betina mencapai sekitar 70 persen pada sapi yang berhasil bunting.
“Kalau berhasil bunting dengan baik, hasilnya bisa sesuai harapan, yaitu sekitar 70 persen pedet betina,” katanya.
Pedet Betina Jadi Kunci Peningkatan Produksi Susu
Promovenda Putri Utami menjelaskan penelitian ini berangkat dari rendahnya angka kelahiran pedet betina di sentra-sentra peternakan sapi perah. Kondisi tersebut berdampak pada terbatasnya populasi sapi perah dan rendahnya produksi susu dalam negeri.

Melalui penelitian ini, Putri menguji penggunaan Semen Sexing X dengan dosis ganda sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan kelahiran pedet betina.
“Hasil penelitian menunjukkan penggunaan semen sexing dengan dosis ganda efektif meningkatkan kelahiran pedet betina,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan jumlah pedet betina akan memberikan manfaat langsung bagi peternak. Semakin banyak sapi perah yang dimiliki, semakin besar pula potensi produksi susu dan pendapatan yang diperoleh.
Ia berharap hasil penelitian tersebut dapat mendukung upaya pemerintah mengurangi ketergantungan impor susu sekaligus memperkuat kemandirian sektor peternakan nasional.
Siap Diterapkan Lebih Luas di Jawa Timur
Meski menunjukkan hasil yang menjanjikan, Prof. Trinil menilai penelitian ini masih perlu dikembangkan dengan jumlah sampel yang lebih besar agar tingkat akurasinya semakin kuat.
“Penelitian ini masih perlu diperbanyak jumlahnya sehingga hasilnya semakin akurat,” ujarnya.
Ia menambahkan, teknologi Semen Sexing X kini telah diproduksi oleh Balai Inseminasi Buatan Singosari dan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Karena itu, peluang penerapannya di tingkat peternak dinilai semakin terbuka.
Sementara itu, Putri berharap hasil penelitiannya tidak berhenti sebagai karya akademik. Ia ingin teknologi tersebut dapat diadopsi oleh peternak sapi perah dan diterapkan lebih luas, khususnya di berbagai daerah di Jawa Timur.
“Target kami, hasil penelitian ini dapat diadopsi peternak dan dihilirisasi lebih luas sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan di lapangan,” ujarnya.
Apabila implementasinya berjalan secara luas, teknologi Semen Sexing X berpotensi meningkatkan populasi sapi perah betina, memperkuat produksi susu nasional, sekaligus membantu mewujudkan kemandirian sektor peternakan Indonesia.(ern)














