Kanal24, Malang –Tidak semua monster datang dengan wajah menyeramkan. Ada yang lahir dari perasaan paling manusiawi: cinta. Ketika rasa memiliki tumbuh tanpa batas, kasih sayang dapat berubah menjadi obsesi yang perlahan menghancurkan siapa pun yang terlibat. Gagasan itulah yang menjadi napas utama Obsession, sebuah horor psikologis yang memilih mengusik emosi ketimbang sekadar mengagetkan penonton.
Film garapan sutradara Curry Barker ini mengisahkan Bear (Michael Johnston), pria yang menggunakan benda mistis One Wish Willow untuk membuat Nikki (Inde Navarrette) mencintainya. Alih-alih menghadirkan akhir bahagia, keinginan tersebut justru berubah menjadi kutukan yang menyeret keduanya ke dalam teror psikologis yang mencekam.
Baca juga:
BTS Ramaikan Halftime Show Piala Dunia 2026
Saat Cinta Berubah Menjadi Kutukan
Film ini mengikuti kisah Bear (Michael Johnston), seorang pria yang telah lama memendam perasaan kepada sahabat sekaligus rekan kerjanya, Nikki (Inde Navarrette). Karena takut ditolak, Bear menggunakan One Wish Willow, benda mistis yang dipercaya mampu mengabulkan satu permintaan agar Nikki mencintainya.

Keinginan itu ternyata berubah menjadi petaka. Cinta Nikki berkembang menjadi obsesi yang menghilangkan kebebasan berpikir dan bertindak. Dari sinilah Curry Barker mengubah premis romantis menjadi horor psikologis yang menyoroti sisi gelap manusia ketika rasa memiliki berubah menjadi keinginan untuk mengendalikan orang lain. Ceritanya memang berjalan perlahan, tetapi ritme tersebut memberi ruang bagi penonton untuk menyelami perubahan psikologis setiap karakter.
Horor Psikologis yang Mengusik Emosi
Kekuatan utama Obsession terletak pada atmosfernya. Barker memanfaatkan pencahayaan redup, komposisi gambar yang sederhana, dan desain suara yang minim untuk menciptakan rasa tidak nyaman. Ketegangan lahir bukan dari kemunculan sosok menyeramkan, melainkan dari perubahan perilaku para tokohnya yang semakin sulit diprediksi.
Akting Michael Johnston dan Inde Navarrette menjadi penopang utama cerita. Johnston berhasil menampilkan Bear sebagai sosok yang rapuh sekaligus egois, sementara Navarrette meyakinkan dalam memerankan Nikki yang perlahan kehilangan kendali atas dirinya. Chemistry keduanya membuat konflik emosional terasa nyata dan menjadi daya tarik terbesar film ini.
Layakkah Masuk Daftar Tontonan?
Di balik kisah supranaturalnya, Obsession membawa kritik mengenai hubungan yang tidak sehat. Film ini menunjukkan bahwa cinta tidak pernah bisa dijadikan alasan untuk menguasai kehidupan orang lain. Pesan tersebut terasa relevan dengan fenomena toxic relationship yang masih sering ditemui saat ini.
Sejumlah kritikus memuji kemampuan Curry Barker membangun horor psikologis yang konsisten tanpa bergantung pada jump scare, sekaligus mengapresiasi penampilan para pemeran utamanya. Meski demikian, ritme cerita pada babak awal dinilai cukup lambat dan elemen supranaturalnya masih menyisakan beberapa pertanyaan.
Terlepas dari kekurangan tersebut, Obsession tetap menawarkan pengalaman menonton yang berbeda dari horor konvensional. Bagi pencinta horor psikologis, film ini layak masuk daftar tontonan karena berhasil membuktikan bahwa monster paling mengerikan tidak selalu berasal dari dunia gaib, tetapi bisa lahir dari obsesi manusia yang kehilangan batas.(ffn)













