Kanal24, Malang – Keamanan pangan di rumah tidak hanya bergantung pada kualitas bahan makanan, tetapi juga kebiasaan saat mengolahnya. Masih banyak risiko kontaminasi yang muncul akibat praktik sederhana yang sering diabaikan, mulai dari kebersihan tangan hingga penggunaan peralatan memasak yang kurang tepat. Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya memberikan edukasi kepada ibu-ibu PKK Kelurahan Ketawanggede agar mampu menerapkan keamanan pangan dalam kehidupan sehari-hari.
Edukasi tersebut merupakan bagian dari Program Mahasiswa Membangun Mitra (3M) dan Kampung Lingkar Kampus (KLK) yang digelar di Kantor Kelurahan Ketawanggede, Kota Malang, Senin (22/6/2026). Peserta mendapatkan materi mengenai personal hygiene, pencegahan kontaminasi silang (cross contamination), hingga penerapan sederhana Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) melalui studi kasus pengolahan ayam goreng dan sayur bayam.
Baca juga:
Mahasiswa FBD 13 Edukasi PKK Soal AI dan Hoaks
Keamanan Pangan Dimulai dari Kebiasaan Sederhana
Materi disampaikan oleh mahasiswa Kelompok 25 Program 3M FTAB UB, yakni Serli Ismawati, Wayan Aurea, dan Zevania Pricilla, di bawah pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan Dr. Retno Damayanti, S.TP., M.P.

Dalam pelatihan tersebut, peserta diajak memahami pentingnya menjaga kebersihan diri sebelum mengolah makanan, memilih bahan baku yang aman, menghindari kontaminasi silang antarbahan maupun peralatan, hingga mengenali titik-titik kritis yang berpotensi menurunkan kualitas pangan.
Serli mengatakan kebersihan diri merupakan langkah paling dasar dalam menjaga keamanan pangan, tetapi masih sering diabaikan masyarakat.
“Banyak yang belum sadar kalau kebiasaan sederhana, seperti mencuci tangan dengan benar sebelum mengolah makanan atau menjaga kebersihan kuku dan pakaian saat memasak, sangat berpengaruh terhadap keamanan pangan. Kalau personal hygiene sudah baik, risiko kontaminasi bisa ditekan sejak awal,” ujarnya.
Menurutnya, penerapan keamanan pangan tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit. Justru perubahan kebiasaan kecil di dapur dapat menjadi langkah awal untuk melindungi kesehatan keluarga.
Belajar Lewat Studi Kasus yang Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari
Berbeda dari penyuluhan pada umumnya, materi disampaikan melalui contoh kasus yang dekat dengan aktivitas peserta. Simulasi pengolahan ayam goreng dan sayur bayam digunakan agar ibu-ibu PKK lebih mudah memahami potensi kesalahan yang sering terjadi saat memasak.
Pendekatan tersebut membuat peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengetahui cara mencegah risiko kontaminasi pangan yang dapat diterapkan langsung di rumah.
Ketua Tim Penggerak PKK Kelurahan Ketawanggede, Esti Karuniawati, S.T., M.T., mengapresiasi kegiatan tersebut karena memberikan pengetahuan yang praktis bagi masyarakat.
“Sosialisasi ini memberikan pengetahuan sekaligus kebiasaan baik yang dapat langsung diterapkan oleh ibu-ibu di rumah. Kami berharap ilmu yang diperoleh hari ini terus dipraktikkan dan memberikan manfaat bagi kesehatan keluarga,” katanya.
Dorong Kesadaran Mewujudkan Dapur yang Lebih Sehat
Melalui kegiatan ini, mahasiswa FTAB UB berharap kesadaran masyarakat terhadap keamanan pangan semakin meningkat. Edukasi tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan mengolah makanan yang lebih higienis sekaligus mengurangi risiko penyakit akibat pangan.
Selain meningkatkan pengetahuan, kegiatan ini juga mendorong masyarakat menerapkan kebiasaan sederhana, seperti mencuci tangan sebelum memasak, memisahkan bahan mentah dan matang, serta menyimpan makanan sesuai prosedur. Dengan langkah-langkah tersebut, keluarga diharapkan dapat menikmati pangan yang lebih aman sekaligus menciptakan dapur rumah tangga yang lebih sehat. (ern)














