Kanal24, Malang – Tim Sri Redjo dari Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) membawa inovasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), PhytoTracker, ke ajang 2026 ASEAN Regional Forum yang berlangsung di Taipei, Taiwan. Inovasi tersebut dirancang untuk mendukung pemantauan proses fitoremediasi lahan tercemar melalui pemanfaatan teknologi computer vision dan analisis berbasis AI.
Keikutsertaan tim dalam forum internasional tersebut menjadi kesempatan untuk mempresentasikan hasil riset mahasiswa FTAB UB di hadapan akademisi, peneliti, dan peserta dari berbagai negara ASEAN. Partisipasi ini sekaligus memperkuat kontribusi Universitas Brawijaya dalam mengembangkan inovasi teknologi yang menjawab tantangan pencemaran lingkungan serta membuka peluang kolaborasi riset di tingkat internasional.
Baca Juga:
FAST UB Hadirkan Terobosan Pengganti Antibiotik Pakan Ayam
Tim Sri Redjo Presentasikan Inovasi PhytoTracker
Tim Sri Redjo terdiri atas Faisal Adi Pambukotomo, M. Raihan Fithra Jannnatan, dan Egant Zanuar di bawah bimbingan dosen Aulia Nur M. Ketiganya mewakili FTAB UB dalam kompetisi riset internasional yang menjadi bagian dari 2026 ASEAN Regional Forum on Soil and Groundwater Challenges, Sustainable Remediation Strategies, and the Awards Ceremony for the Investigation and Remediation Research Competition.

Dalam forum tersebut, tim mempresentasikan inovasi bertajuk “PhytoTracker: AI-Based Monitoring of Sunflower Phytoremediation in Contaminated Brownfields.” Inovasi ini dikembangkan sebagai sistem pemantauan cerdas untuk mendukung proses fitoremediasi menggunakan tanaman bunga matahari pada lahan tercemar.
PhytoTracker mengintegrasikan pengambilan citra, teknologi computer vision, dan analisis berbasis AI untuk mengidentifikasi kondisi serta gejala stres tanaman secara lebih cepat, objektif, dan berkelanjutan. Pendekatan ini memungkinkan proses pemantauan dilakukan secara lebih efektif dibandingkan metode konvensional yang masih mengandalkan observasi visual.
Jawab Tantangan Pemantauan Lahan Tercemar
Pengembangan PhytoTracker dilatarbelakangi oleh berbagai keterbatasan metode pemantauan konvensional, mulai dari ketergantungan pada pengamatan visual, proses pengujian laboratorium yang membutuhkan waktu relatif lama, biaya operasional yang cukup tinggi, hingga belum tersedianya informasi secara real time.
Melalui sistem tersebut, kondisi tanaman dapat dipantau sebagai salah satu indikator pendukung dalam mengevaluasi proses pemulihan lahan tercemar. Data yang dihasilkan diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih cepat, objektif, dan berkelanjutan sehingga mendukung pengambilan keputusan dalam proses remediasi lingkungan.
Pemanfaatan teknologi AI juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi proses pemantauan sekaligus menghasilkan informasi yang lebih akurat mengenai perkembangan tanaman selama proses fitoremediasi berlangsung. Dengan demikian, evaluasi terhadap efektivitas pemulihan lahan dapat dilakukan secara lebih sistematis.
Forum ASEAN Perkuat Kolaborasi Riset
Forum yang diselenggarakan pada Sabtu (25/7/2026) di Songshan Cultural and Creative Park, Taipei City, Taiwan, mempertemukan para pakar, akademisi, peneliti, dan peserta dari Indonesia, Thailand, Vietnam, serta berbagai negara ASEAN lainnya. Mereka membahas tantangan pencemaran tanah dan air tanah sekaligus berbagai strategi remediasi berkelanjutan yang dapat diterapkan di masa mendatang.
Selain menjadi ajang kompetisi riset, forum ini juga menjadi wadah pertukaran gagasan mengenai perkembangan teknologi dan inovasi di bidang pengelolaan lingkungan. Melalui diskusi yang berlangsung, peserta memiliki kesempatan memperluas wawasan akademik sekaligus membangun jejaring penelitian lintas negara.
Keikutsertaan Tim Sri Redjo menjadi bagian dari upaya FTAB Universitas Brawijaya dalam mendorong mahasiswa menghasilkan inovasi yang relevan dengan persoalan lingkungan global. Melalui forum internasional ini, mahasiswa tidak hanya memperkenalkan hasil riset kepada komunitas akademik internasional, tetapi juga menunjukkan kontribusi Universitas Brawijaya dalam pengembangan solusi teknologi untuk mendukung pelestarian lingkungan. Partisipasi tersebut sekaligus memperkuat jejaring akademik dan membuka peluang kolaborasi penelitian di kawasan ASEAN. (gal)














