Kanal24, Malang – Limbah cair industri tahu masih menjadi persoalan lingkungan di banyak daerah, termasuk di Dusun Tegalpasangan, Desa Pakiskembar, Kabupaten Malang. Pembuangan limbah ke saluran irigasi tidak hanya berpotensi mencemari kualitas air sungai, tetapi juga mengganggu lingkungan sekitar apabila tidak dikelola secara berkelanjutan. Di sisi lain, limbah hasil produksi tahu sebenarnya masih menyimpan potensi ekonomi apabila diolah dengan teknologi yang tepat.
Berangkat dari tantangan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Living Lab Universitas Brawijaya menghadirkan pendekatan berbasis ekonomi sirkular melalui Focus Group Discussion (FGD) dan demonstrasi pengolahan limbah tahu menjadi produk bernilai guna. Program ini melibatkan dosen dari tiga fakultas, yaitu Prof. Dr. Ir. Nur Hidayat, M.P. dari Fakultas Teknologi Pertanian dan Agroindustri (FTAB) sebagai ketua tim, Dr. Asus Maizar Suryanto H., S.Pi., M.P. dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), serta Lia Nihlah Najwah, S.IP., M.Si. dari FISIP Universitas Brawijaya, bersama sembilan mahasiswa KKN lintas disiplin.

FGD Satukan Pemahaman Pengelolaan Limbah
FGD yang dilaksanakan pada 29 Juni 2026 menjadi ruang dialog antara Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang, 23 kelompok pengusaha tahu, Pemerintah Desa Pakiskembar, PT Beiersdorf Indonesia, pemerintah kecamatan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Forum tersebut bertujuan membangun pemahaman bersama mengenai pemanfaatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal hasil program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Beiersdorf sekaligus menjadi wadah bagi pelaku usaha untuk menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi dalam pengelolaan limbah produksi tahu.
Kesamaan persepsi mengenai pentingnya menjaga kualitas aliran sungai diharapkan menjadi fondasi bagi pengelolaan limbah yang lebih efektif sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat dalam memanfaatkan fasilitas IPAL yang telah tersedia.
Dari Limbah Menjadi Produk Bernilai Ekonomi
Sebagai tindak lanjut, pada 30 Juni 2026 tim PKM Living Lab Universitas Brawijaya menyelenggarakan demonstrasi tiga inovasi pengolahan limbah tahu, yaitu pembuatan pupuk organik cair (POC) dari limbah cair tahu, budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) menggunakan ampas tahu, serta produksi pelet ikan berbahan campuran tepung maggot, ampas tahu, dan bahan bernutrisi lainnya. Demonstrasi tersebut menjadi bagian dari rangkaian program KKN yang bertujuan menghadirkan solusi alternatif terhadap pencemaran air sungai akibat limbah cair tahu.
Pada sesi pertama, masyarakat diperkenalkan cara mengolah limbah cair tahu menjadi pupuk organik cair melalui proses fermentasi sekitar 14 hari menggunakan EM4 dan molase. Hasil fermentasi kemudian dapat dimanfaatkan sebagai pupuk setelah diencerkan sesuai dosis penggunaan.

Tim juga mendemonstrasikan budidaya maggot sebagai alternatif pemanfaatan ampas tahu. Larva Black Soldier Fly (BSF) memiliki kandungan protein tinggi dan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun ikan. Selain bernilai ekonomi, budidaya maggot juga memanfaatkan limbah organik rumah tangga sehingga biaya produksinya relatif rendah.
Inovasi ketiga berupa pembuatan pelet ikan secara mandiri menggunakan campuran tepung maggot, tepung ampas tahu, tepung ikan, MBM, dedak, tepung tapioka, vitamin ikan, dan bahan pendukung lainnya. Melalui proses pencampuran dan pencetakan menggunakan mesin pelet, masyarakat diperkenalkan alternatif pakan ikan yang lebih ekonomis.
Pengabdian yang Berorientasi Keberlanjutan
Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang demonstrasi berlangsung. Warga aktif mengikuti praktik, berdiskusi, dan berharap solusi yang diperkenalkan mampu membantu mengurangi pencemaran sungai sekaligus membuka peluang ekonomi baru. Sebagai bentuk keberlanjutan program, tim PKM Living Lab Universitas Brawijaya menyerahkan alat, bahan, dan modul panduan agar masyarakat dapat mempraktikkan seluruh inovasi secara mandiri setelah kegiatan berakhir.
Melalui pendekatan ini, Universitas Brawijaya tidak hanya menawarkan solusi terhadap persoalan lingkungan, tetapi juga mendorong lahirnya model ekonomi sirkular berbasis masyarakat. Pemanfaatan limbah tahu menjadi pupuk organik, maggot, dan pelet ikan diharapkan mampu mengurangi beban pencemaran sekaligus menciptakan nilai tambah bagi pelaku usaha dan masyarakat di sekitar sentra industri tahu.
Program ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) melalui pengurangan pencemaran air, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemanfaatan kembali limbah menjadi produk bernilai ekonomi, serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan membuka peluang usaha berbasis ekonomi sirkular.(Din)














