Kanal24, Pasuruan – Tingginya biaya pakan ikan menjadi salah satu tantangan yang dapat menekan keberlanjutan usaha budidaya masyarakat. Di saat yang sama, kelestarian sungai dan keberadaan ikan lokal juga menghadapi tekanan akibat praktik penangkapan yang tidak ramah lingkungan. Tantangan tersebut membutuhkan solusi yang tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi mampu menghubungkan aspek ekonomi, pangan, dan lingkungan dalam satu sistem.
Menjawab kebutuhan tersebut, Universitas Brawijaya (UB) melalui program Doktor Mengabdi skema Living Lab SDGs mendampingi Kelompok Masyarakat Peduli Sungai (KMPS) di Dusun Sumbersari, Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Tim mengembangkan sistem pertanian terpadu (integrated farming system) yang memadukan sektor perikanan, pertanian, dan peternakan sekaligus memperkuat upaya konservasi Sungai Dem.
Baca juga : Limbah Tahu Tak Lagi Jadi Ancaman, Tim UB Tawarkan Solusi Ekonomi Sirkular untuk Warga Pakiskembar

Program yang diketuai Dr. Asus Maizar Suryanto H., S.Pi., M.P. dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UB ini melibatkan dosen lintas disiplin, yakni Dr. Kasyful Amron, S.T., M.Sc. (FILKOM), Dr. Euis Elih Nurlaelih, S.P., M.P. (FBiPK), dan Lia Nihlah Najwah, S.IP., M.Si. (FISIP). Program juga didukung mahasiswa KKN Tematik Living Lab serta Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian Kabupaten Pasuruan, Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan (LKIL) Umbulan, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, hingga Tim PKK.
Dari Pakan Mahal Menuju Kemandirian Budidaya
Rangkaian kegiatan mencakup penyuluhan dan demplot budidaya ikan nila sistem bioflok, pelatihan pembuatan pakan ikan mandiri berbasis potensi lokal, pelepasan 6.000 benih ikan wader dan tawes di Sungai Dem, serta penyerahan hibah dua unit kolam bioflok lengkap dengan 3.000 benih ikan nila, aerator, pompa, dan peralatan produksi pakan bagi kelompok masyarakat.
Persoalan biaya produksi dijawab melalui edukasi dan pelatihan pembuatan pakan alami dengan memanfaatkan bahan yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar. Pendekatan tersebut diharapkan membuat pakan lebih ekonomis, ramah lingkungan, dan mudah diterapkan masyarakat. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif dalam diskusi dan praktik pembuatan pakan hingga selesai.

Ketua Tim Pengabdian, Dr. Asus Maizar Suryanto, menjelaskan bahwa program tersebut berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat.
“Kelompok masyarakat di Dusun Sumbersari sebenarnya telah memiliki peternakan domba, pengolahan limbah ternak, serta budidaya sayuran. Namun, mereka belum mengembangkan sektor perikanan. Karena itu kami memperkenalkan budidaya ikan nila sistem bioflok sebagai bagian dari konsep integrated farming system sehingga sektor peternakan, pertanian, dan perikanan saling terhubung. Air budidaya ikan juga dapat dimanfaatkan untuk menyiram dan menyuburkan tanaman sehingga lebih efisien serta mendukung peningkatan gizi keluarga sebagai upaya pencegahan stunting,” jelasnya.
Bioflok Tekan Pakan, Sungai Kembali Diisi Ikan Lokal
Teknologi bioflok dipilih karena menawarkan efisiensi dalam budidaya ikan. Menurut Dr. Asus, penggunaan pakan dapat ditekan hingga 20–30 persen, sementara keuntungan finansial diperkirakan sekitar 30–50 persen lebih tinggi. Sistem ini juga memungkinkan padat tebar ikan lebih tinggi pada luas kolam yang sama sehingga produktivitas dapat meningkat.
“Penggunaan pakan dapat ditekan hingga 20–30 persen karena sisa pakan dan feses ikan diolah oleh bakteri menjadi flok yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai pakan alami. Pertumbuhan ikan juga lebih cepat, lebih tahan terhadap penyakit karena bakteri baik mampu menekan bakteri patogen, serta memberikan keuntungan finansial sekitar 30–50 persen lebih tinggi. Dengan luas kolam yang sama, padat tebar ikan pun bisa lebih tinggi sehingga produktivitas meningkat,” paparnya.

Pendekatan program tidak berhenti pada peningkatan produktivitas budidaya. Aspek konservasi juga menjadi bagian penting melalui pelepasan 6.000 benih ikan endemik wader dan tawes di Sungai Dem. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya memulihkan populasi ikan lokal yang terus menurun akibat praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan.
“Kami ingin mengembalikan fungsi Sungai Dem sebagai habitat ikan lokal. Yang menggembirakan, setelah kegiatan ini Kelompok Masyarakat Peduli Sungai berkomitmen menjaga sungai dari praktik penangkapan ikan menggunakan racun maupun cara-cara yang merusak ekosistem,” ujarnya.
Living Lab Dorong Masyarakat Jadi Penggerak
Melalui pendekatan Living Lab, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga berperan sebagai pelaku utama dalam mengembangkan inovasi berdasarkan kebutuhan lapangan. Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi fondasi keberlanjutan program.
“Kami berharap sinergi antara Universitas Brawijaya, pemerintah daerah, dan masyarakat terus berkembang. Tim DRPM UB menghadirkan inovasi, teknologi, dan pendampingan berbasis riset, pemerintah memberikan dukungan kebijakan dan pembinaan, sedangkan masyarakat menjadi penggerak utama dalam menjaga sumber daya sungai secara bijaksana. Dengan kolaborasi ini, integrated farming system dapat terus berkembang, konservasi sungai tetap terjaga, dan kesejahteraan masyarakat meningkat melalui budidaya ikan yang ramah lingkungan serta produksi pakan ikan mandiri,” pungkas Dr. Asus.

Program Doktor Mengabdi ini sekaligus menjadi implementasi kontribusi Universitas Brawijaya dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Melalui model ini, inovasi berbasis riset diarahkan tidak berhenti pada penerapan teknologi, tetapi menghasilkan keterhubungan antara produksi pangan, efisiensi biaya, kemandirian pakan, konservasi sungai, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.(Din)














