Kanal24, Malang – Menulis bagi Brawijaya Writers Club (BWC) bukan sekadar aktivitas menghasilkan naskah. Komunitas alumni Universitas Brawijaya (UB) tersebut mendorong anggotanya mengembangkan karya yang tidak hanya berkualitas dan layak terbit, tetapi juga mampu memiliki nilai jual dengan mengangkat kekayaan budaya lokal.
Gagasan tersebut menjadi salah satu arah pengembangan BWC melalui konsep writerpreneur berbasis kearifan lokal. Konsep ini sebelumnya digagas dan ditanamkan oleh almarhumah Kirana Kejora, alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UB yang dikenal sebagai sastrawan, novelis, penulis skenario, dan produser film sekaligus pendiri komunitas penulis Elang Nuswantara.
Hal tersebut disampaikan Suci Purnama Sari, S.Pi., dari Brawijaya Writers Club dalam Podcast “Last Talk” yang diselenggarakan UBTV di Ruang Podcast UBTV, Lantai 2 Gedung Direktorat UB, Selasa (18/8/2026).
BWC sendiri merupakan komunitas alumni UB yang bergerak di bidang literasi dan berada di bawah Kompartemen Kebudayaan IKA UB.
Baca juga:
Apatte 62 UB Kembangkan Mobil Hybrid Hidrogen
BWC Jadi Ruang Alumni Bertumbuh dalam Literasi
Brawijaya Writers Club dibangun sebagai ruang bagi alumni UB yang memiliki minat dan kepedulian terhadap dunia literasi. Komunitas ini tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga wadah untuk bertukar gagasan, belajar menulis, hingga mengembangkan karya bersama.
Suci menjelaskan, proses pengembangan kemampuan anggota dilakukan melalui berbagai kegiatan, salah satunya diskusi. Para anggota dapat membicarakan berbagai isu dan gagasan yang kemudian dikembangkan menjadi ide tulisan.
“Untuk mengembangkan kemampuan menulis alumni-alumni BWC yang tergabung di dalam BWC ini, kami ada beberapa kegiatan. Kegiatannya antara lain adalah kami saling diskusi,” ujar Suci.
Dari diskusi tersebut, ide yang dinilai menarik kemudian dapat dikembangkan menjadi karya. BWC juga menggelar workshop penulisan dan mentoring dengan materi yang beragam, mulai dari fiksi filmis, cerpen filmis, buku anak, hingga tulisan ilmiah populer.
Proses belajar juga dilanjutkan melalui review karya. Anggota dapat memberikan masukan terhadap tulisan satu sama lain, baik melalui grup komunitas maupun secara personal.
Dengan pola tersebut, anggota tidak hanya belajar menghasilkan tulisan, tetapi juga memahami bagaimana sebuah karya dikembangkan melalui proses penyuntingan dan masukan dari sesama penulis.
Dari Diskusi hingga Melahirkan Buku
Produktivitas komunitas kemudian diwujudkan melalui penerbitan buku karya bersama. BWC menargetkan setidaknya satu karya kolaboratif dapat dilahirkan setiap tahun.
“Di Brawijaya Writers Club itu kami ada kegiatan setidaknya atau seminimnya setahun sekali itu kami melahirkan buku karya bersama,” kata Suci.
Sejumlah karya telah lahir dari proses tersebut. Di antaranya Ode Kasih Arunika, Pesan yang Masih Tersimpan yang terbit pada 2024 dan telah terjual lebih dari 1.000 eksemplar.
BWC juga menerbitkan buku anak Elang Jagoan 1: Aku Kecil Tetapi Bisa Jadi Pahlawan yang terjual sekitar 400 eksemplar dan diluncurkan di Perpustakaan Nasional RI pada Oktober 2024.
Karya berikutnya, Elang Jagoan 2: Aku Pengembara Cilik Nuswantara, terjual sekitar 550 eksemplar. Buku tersebut merupakan hasil kolaborasi BWC dengan mahasiswa Vokasi FISIP UB.
Selain menerbitkan buku, BWC memiliki program Elang Brawijaya Talk Show yang menjadi ruang untuk memperbincangkan karya sekaligus mempertemukan penulis dengan pembaca.
Bagi BWC, penerbitan buku bukan menjadi akhir dari proses kreatif. Karya perlu terus diperkenalkan dan dibicarakan agar memiliki ruang untuk menjangkau pembaca yang lebih luas.
Semangat tersebut juga berkaitan dengan pesan yang diwariskan Kirana Kejora melalui gagasan “terbang bersama”. Para penulis BWC kemudian dikenal sebagai Elang Brawijaya yang menjadi bagian dari semangat Elang Nuswantara.
Di tengah perkembangan media sosial dan kecerdasan buatan (AI), Suci menilai minat masyarakat untuk menulis sebenarnya masih cukup besar. Tantangannya adalah menemukan ruang belajar dan lingkungan yang dapat membantu seseorang mengembangkan kemampuan tersebut.
Karena itu, BWC membawa semangat tumbuh bersama, berkembang bersama, dan maju bersama.
“Di BWC ini kami mengusung tema tersebut, tumbuh bersama, berkembang bersama, maju bersama,” ungkapnya.
Writerpreneur Berbasis Kearifan Lokal
Ke depan, BWC ingin memperkuat kualitas karya sekaligus membangun kemampuan anggota agar dapat melihat tulisan sebagai produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi.
Konsep writerpreneur menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan. Melalui konsep tersebut, penulis tidak hanya dituntut mampu menghasilkan karya, tetapi juga memahami bagaimana karya dapat memiliki nilai, menemukan pembacanya, dan dikembangkan menjadi produk yang layak dipasarkan.
“Target untuk ke depan harapannya kami bisa terus menyalakan api literasi, menghasilkan karya-karya yang berkualitas, yang layak dibaca, yang layak dimiliki oleh para pembacanya, kemudian layak jual,” jelas Suci.
Yang menjadi pembeda, konsep writerpreneur di BWC diarahkan untuk tetap mengangkat kearifan lokal.
“Jadi salah satu yang unik di BWC adalah tadi konsep writerpreneur mengangkat kearifan lokal,” ujarnya.
Pengangkatan kearifan lokal diharapkan membuat karya yang dihasilkan tidak hanya menarik dari sisi cerita, tetapi juga membawa kekayaan budaya dan pengalaman masyarakat lokal kepada pembaca.
Di sisi lain, BWC mempertahankan semangat kerelawanan dalam menjalankan berbagai kegiatannya. Para alumni terlibat karena memiliki kepedulian terhadap literasi dan keinginan untuk menghasilkan karya yang bermanfaat.
Melalui ekosistem tersebut, BWC ingin alumni UB memiliki ruang untuk terus belajar, menghasilkan karya, sekaligus mengembangkan potensi menulis menjadi aktivitas kreatif yang bernilai.
Semangat writerpreneur berbasis kearifan lokal pun menjadi arah yang terus dikembangkan agar karya para “Elang Brawijaya” tidak hanya terbang lebih jauh, tetapi tetap membawa cerita, budaya, dan kekayaan lokal kepada pembacanya. (ern)














