Kanal24, Malang – Isu kesehatan mental tidak selalu mudah disampaikan melalui bahasa ilmiah yang kaku. Pengalaman, cerita, dan refleksi personal justru dapat menjadi pintu masuk untuk membantu masyarakat memahami persoalan kesehatan mental secara lebih dekat. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Brawijaya Writers Club menggelar diskusi kepenulisan untuk proyek buku digital dalam rangka kampanye Kesehatan Mental dan Stop Kekerasan di Gedung C 7.2 FISIP UB, Rabu (19/8/2026).
Diskusi tersebut menjadi bagian dari proses pendampingan penulis dalam menyusun buku digital berbentuk esai naratif reflektif berbasis kisah nyata. Kegiatan tidak hanya membahas cara merangkai tulisan, tetapi juga memastikan gagasan yang disampaikan memiliki struktur logis, informasi yang akurat, serta tetap sesuai dengan tujuan kampanye. Pendampingan melibatkan Suci Purnama Sari, S.Pi., Penjaga Api Literasi Brawijaya Writers Club, dan Dewi Puri Astiti, S.Fil., M.Si., Dosen Psikologi FISIP UB.
Baca Juga:
Apatte 62 UB Kembangkan Mobil Hybrid Hidrogen
Struktur Jadi Fondasi Menulis
Suci menjelaskan, salah satu fokus utama mentoring adalah membantu penulis membangun struktur yang kuat sebelum mengembangkan tulisan. Struktur dinilai penting karena menjadi dasar agar ide dan gagasan dapat tersampaikan secara runtut, terutama bagi penulis yang memiliki latar belakang berbeda dan belum terbiasa menulis populer ilmiah.

“Ketika ide atau gagasan itu disampaikan secara logis, itu akan membuat pembaca lebih mudah untuk mengikuti,” ujar Suci.
Menurutnya, penggunaan struktur yang sama juga membantu menyamakan kualitas naskah. Dengan demikian, tulisan yang dihasilkan tetap dapat dinikmati pembaca awam meskipun para penulis memiliki pengalaman dan gaya penulisan yang berbeda.
Format esai naratif reflektif berbasis kisah nyata memungkinkan pengalaman personal dipadukan dengan informasi pendukung. Namun, penulis tetap perlu menentukan bagian yang paling relevan agar cerita tidak kehilangan fokus dan pesan utama buku.
Menjaga Akurasi Isu Kesehatan Mental
Dewi mengatakan, proses mentoring juga diperlukan untuk memastikan isi tulisan tetap akurat dan sejalan dengan tujuan buku. Hal tersebut menjadi penting karena tema yang diangkat berkaitan dengan kesehatan mental yang membutuhkan kehati-hatian dalam penyampaian informasi.
Dalam proses peninjauan sejumlah draf, ditemukan tantangan dalam menentukan proporsi antara cerita, bukti, dan insight. Beberapa tulisan masih memiliki bagian tertentu yang terlalu dominan sehingga perlu diseimbangkan melalui proses revisi.

“Tidak semua data sains atau tidak semua gagasan itu dimasukkan. Tapi penulis dengan struktur ini seharusnya harapannya terbantu untuk memilih mana yang jadi prioritas untuk disampaikan kepada pembaca,” jelas Dewi.
Ia menambahkan, sebagian naskah yang ditinjau masih berupa draf awal. Karena itu, revisi menjadi tahapan penting untuk memperbaiki struktur, tata bahasa, sekaligus memastikan alur berpikir dalam tulisan tetap logis.
Membaca dan Menulis Harus Berjalan Bersama
Selain memahami struktur, kemampuan menulis juga perlu dibangun melalui kebiasaan membaca. Suci mendorong penulis memperbanyak referensi dengan mempelajari karya-karya populer, termasuk buku pengembangan diri, untuk melihat bagaimana seorang penulis menyampaikan gagasan kepada pembaca.
Ia mencontohkan sejumlah buku populer seperti Atomic Habits dan karya Mark Manson yang dapat menjadi referensi dalam mempelajari penyusunan gagasan dan narasi.
“Selain banyak membaca juga praktik menulis. Jadi semakin banyak menulis semakin tahu bagaimana menyampaikan ide dan gagasan sesuai dengan strukturnya,” kata Suci.
Menurutnya, kemampuan tersebut tidak dapat terbentuk hanya melalui satu kali pendampingan. Penulis perlu terus membaca, menulis, dan melakukan revisi agar semakin terbiasa mengolah pengalaman menjadi tulisan yang komunikatif.
Melalui proyek buku digital ini, Brawijaya Writers Club dan FISIP UB berupaya menjadikan literasi sebagai salah satu medium untuk menyampaikan pesan tentang kesehatan mental dan Stop Kekerasan. Pengalaman nyata yang diolah menjadi tulisan diharapkan dapat menghadirkan pesan yang lebih dekat dengan pembaca sekaligus memperluas jangkauan kampanye melalui karya digital. (ndr)














