Kanal24, Malang – Produk agribisnis tidak cukup hanya memiliki kualitas, tetapi juga perlu dikomunikasikan dengan cara yang mampu menarik perhatian pasar. Perkembangan media digital membuat kemampuan menyusun pesan, mengenalkan produk, hingga membangun hubungan dengan konsumen menjadi bagian penting dalam pengembangan bisnis pertanian.
Perspektif tersebut dibawa CEO Jagoan Indonesia, Puspita Wikanandha Putri, MBA, saat memberikan kuliah tamu kepada mahasiswa Program Studi Agribisnis Universitas Brawijaya (UB), Jumat (5/6/2026). Kegiatan berlangsung di Main Hall Gedung Sosial Ekonomi Pertanian (Sosek) Lantai 3, Fakultas Pertanian UB, sebagai bagian dari Program 3in1 UB 2026 pada mata kuliah Komunikasi Agribisnis (PTE62104).
Baca Juga:
Mentoring Penulis Perkuat Pesan Kesehatan Mental dalam Buku Digital
Dua Sesi Bahas Pemasaran dan Startup Agribisnis
Kuliah tamu terbagi dalam dua sesi; Sesi pertama mengangkat tema Komunikasi Pemasaran Digital Produk Agribisnis, sedangkan sesi kedua membahas Strategi Komunikasi Startup Agribisnis.
Dua tema tersebut mempertemukan materi perkuliahan dengan persoalan yang dihadapi pelaku usaha ketika memasarkan produk di ruang digital. Mahasiswa diajak melihat komunikasi bukan sekadar aktivitas menyampaikan informasi, tetapi menjadi bagian dari proses memperkenalkan produk dan membangun hubungan dengan pasar.
Kegiatan diikuti seluruh mahasiswa semester 2 yang memprogram mata kuliah Komunikasi Agribisnis. Mereka terbagi dalam 11 kelas, dengan kelas A dan C mengikuti kegiatan secara langsung di Main Hall Sosek Lantai 3. Sementara itu, mahasiswa dari kelas lainnya mengikuti kegiatan secara daring maupun melalui siaran langsung YouTube yang disiapkan panitia.
Kegiatan ini menjadi salah satu implementasi Program 3in1 UB 2026 yang menggabungkan tiga sumber pembelajaran, yakni dosen pengampu, dosen asing, dan praktisi industri. Program yang diusulkan Dr. Mas Ayu Ambayoen, SP., M.Si., dari Program Studi Agribisnis UB tersebut juga melibatkan Dr. Sheena Binti Bidin, Senior Lecturer dari Universiti Putra Malaysia (UPM), sebagai dosen asing.
Pengalaman Praktisi Dekat dengan Pengembangan UMKM
Kehadiran Puspita memberikan perspektif industri dalam pembelajaran komunikasi agribisnis. Sejak Juli 2025, ia memimpin Jagoan Indonesia, creative consultant yang berfokus pada pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk pelaku usaha di sektor pertanian.
Jagoan Indonesia memiliki program Jagoan Tani dan Jagoan Bisnis yang mendampingi pelaku usaha dalam pengembangan inovasi produk dan kapasitas bisnis. Pengalaman tersebut menjadi relevan dengan materi komunikasi pemasaran karena sektor agribisnis juga menghadapi kebutuhan untuk memperkenalkan produk kepada konsumen melalui kanal yang semakin beragam.
Sebelum memimpin Jagoan Indonesia, Puspita memiliki pengalaman hampir enam tahun di majoo Indonesia, perusahaan teknologi bisnis. Ia menjalankan peran yang berkaitan dengan strategi komunikasi internal dan eksternal perusahaan, mulai dari Talent Acquisition Business Partner hingga People Culture Manager.
Puspita menyelesaikan pendidikan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Human Resources Management dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM).
Bekali Mahasiswa Hadapi Ekosistem Bisnis Digital
Pembahasan komunikasi pemasaran digital menjadi relevan bagi mahasiswa Agribisnis karena perkembangan sektor pertanian juga berjalan beriringan dengan perubahan perilaku konsumen. Produk pertanian kini dapat diperkenalkan melalui berbagai platform digital, sehingga pelaku usaha perlu memahami bagaimana menyampaikan informasi produk secara tepat kepada target pasar.
Sementara itu, materi mengenai strategi komunikasi startup agribisnis memperluas pembelajaran mahasiswa pada konteks bisnis yang lebih dinamis. Tidak hanya produk dan teknologi yang menjadi perhatian, tetapi juga cara membangun komunikasi dengan konsumen, mitra, maupun pemangku kepentingan dalam ekosistem usaha.
Melalui Program 3in1, pengalaman belajar mahasiswa tidak berhenti pada perspektif akademik. Kehadiran praktisi industri dan dosen asing membuka ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh sudut pandang yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja sekaligus perkembangan agribisnis di tingkat global.
Bagi mahasiswa Agribisnis, kemampuan komunikasi tersebut dapat menjadi bekal ketika mereka nantinya terlibat dalam pengembangan usaha, pemasaran produk, maupun membangun bisnis di sektor pertanian. Dengan demikian, pembelajaran komunikasi agribisnis tidak hanya membahas bagaimana menyampaikan pesan, tetapi juga bagaimana komunikasi dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan usaha. (ndr/nid)














