Kanal24, Malang – Program bimbingan belajar di Desa Langlang, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, mendapat penguatan dari mahasiswa Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya (UB). Melalui Rumah Belajar Langlang, sebanyak 39 anak sekolah dasar mendapatkan pendampingan belajar selama enam pertemuan pada Juli hingga Agustus 2026.
Program tersebut tidak hanya menghadirkan kegiatan belajar tambahan bagi anak-anak. Mahasiswa MMD UB Kelompok 20 juga menyiapkan sistem pembelajaran dan modul yang dapat digunakan Karang Taruna Rellasi Langlang untuk melanjutkan kegiatan setelah masa MMD berakhir.
Kegiatan dilaksanakan di Balai Desa Langlang dua kali dalam sepekan dengan melibatkan mahasiswa, Karang Taruna, dan perangkat desa. Program ini didanai Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) UB di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapang Rizky Fadilla Agustin Rangkuti, S.Pi., M.Si.
Baca juga:
MMD UB Dukung Kreativitas Anak dan Inklusivitas

Perkuat Bimbingan Belajar yang Sudah Berjalan
Rumah Belajar Langlang tidak sepenuhnya dibangun dari awal. Sebelum program MMD berlangsung, Karang Taruna Rellasi Langlang telah memiliki kegiatan bimbingan belajar bagi anak-anak di desa.
Mahasiswa MMD UB Kelompok 20 kemudian berkoordinasi dengan perangkat desa dan Karang Taruna untuk memperkuat kegiatan tersebut. Penguatan dilakukan melalui penambahan tenaga pendamping, variasi metode pembelajaran, serta sistem evaluasi yang lebih terstruktur.
Penjaringan peserta dilakukan melalui koordinasi dengan perangkat desa, posyandu, serta informasi dari orang tua dan siswa. Kegiatan kemudian dilaksanakan secara rutin di Balai Desa Langlang.
Materi yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan anak, mulai dari pendampingan tugas sekolah, membaca-menulis-berhitung (calistung), permainan edukatif, literasi digital, hingga motivasi belajar.
Pendekatan tersebut membuat kegiatan belajar tidak hanya berfokus pada penyelesaian tugas sekolah, tetapi juga memberikan ruang bagi anak untuk belajar melalui aktivitas yang lebih interaktif.
Antusiasme Anak dan Respons Orang Tua Positif
Pelaksanaan Rumah Belajar Langlang menunjukkan respons positif dari peserta maupun orang tua. Dari 39 peserta yang terdaftar, evaluasi terhadap 21 orang tua menunjukkan sebanyak 13 anak dinilai sangat semangat mengikuti kegiatan, sementara delapan lainnya dinilai semangat.
Perubahan kebiasaan belajar di rumah juga mulai terlihat. Sebanyak 11 anak dinilai mengalami perubahan yang sangat terlihat, tujuh anak mulai menunjukkan perubahan, sedangkan tiga anak belum memperlihatkan perubahan signifikan.
Matematika menjadi mata pelajaran yang paling banyak dirasakan manfaatnya oleh orang tua, dengan 14 sebutan. Selanjutnya Bahasa Inggris disebut enam kali, Bahasa Indonesia empat kali, dan Bahasa Jawa tiga kali.
Penanggung jawab Rumah Belajar Langlang, Ahmad Ahza Aunirrahman, mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer UB, mengatakan program tersebut mengalami peningkatan antusiasme dari pertemuan ke pertemuan.

“Alhamdulillah berjalan dengan baik. Program ini dimulai dari koordinasi dengan Karang Taruna. Walaupun sempat ada miskomunikasi di awal, tren antusiasme para siswa di Desa Langlang mengalami peningkatan dari tiap pertemuannya,” ujarnya.
Menurut Ahmad, keberadaan Rumah Belajar diharapkan dapat memberikan manfaat yang tetap dirasakan anak-anak dan orang tua meskipun kegiatan MMD telah selesai.
Ia menilai pendidikan menjadi salah satu bentuk kontribusi yang dapat diberikan mahasiswa kepada masyarakat.
“Tiada lain yang bisa kami berikan selain sarana pendidikan yang baik, karena warisan terbaik adalah pendidikan,” katanya.
Respons orang tua juga terlihat dari hasil evaluasi program. Penilaian terhadap kegiatan mencapai rata-rata 4,67 dari skala 5, dengan 14 orang tua memberikan nilai sempurna.
Seluruh responden juga menyatakan setuju apabila kegiatan Rumah Belajar dilanjutkan oleh Karang Taruna Rellasi Langlang. Sebanyak 14 orang tua menyatakan setuju dan tujuh lainnya menyatakan sangat setuju.
Orang tua berharap kegiatan belajar tetap dikembangkan dengan metode yang kreatif dan menyenangkan. Mereka juga mendorong agar sosialisasi diperluas sehingga semakin banyak anak di Desa Langlang dapat mengikuti program.
Baca juga: MMD UB Serukan Belajar Menabung di SDN 1 Karangnongko
Tinggalkan Modul agar Program Berlanjut
Keberlanjutan menjadi salah satu fokus utama Rumah Belajar Langlang. Pada pertemuan terakhir, MMD UB Kelompok 20 menyerahkan tiga modul pembelajaran kepada Karang Taruna Rellasi Langlang.
Ketiga modul tersebut terdiri atas modul pembelajaran tingkat bawah untuk TK hingga kelas 2, modul latihan soal kelas 3–6, serta modul calistung A–Z berbasis Kurikulum Merdeka.
Modul tersebut disiapkan agar Karang Taruna dapat melanjutkan kegiatan bimbingan belajar secara mandiri setelah mahasiswa MMD UB meninggalkan Desa Langlang.
Selain modul, mahasiswa juga menyerahkan buku presensi dan catatan perkembangan peserta kepada perwakilan Karang Taruna. Data tersebut dapat menjadi bahan evaluasi ketika kegiatan Rumah Belajar kembali dilaksanakan.
Mahasiswa juga memberikan reward kepada siswa teraktif sebagai bentuk apresiasi sekaligus motivasi agar anak-anak tetap memiliki semangat mengikuti kegiatan belajar.
Melalui pola tersebut, program MMD tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan selama mahasiswa berada di desa. Pengetahuan, modul, dan sistem evaluasi yang ditinggalkan diharapkan menjadi modal bagi masyarakat untuk meneruskan kegiatan secara mandiri.
Rumah Belajar Langlang sekaligus menjadi bagian dari kontribusi MMD UB terhadap SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui penguatan akses pendidikan nonformal bagi anak-anak. Kolaborasi mahasiswa, Karang Taruna, dan perangkat desa juga sejalan dengan SDGs 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Dengan melibatkan masyarakat sejak tahap pelaksanaan hingga keberlanjutan, Rumah Belajar Langlang diharapkan tidak sekadar menjadi program MMD yang berlangsung sementara, tetapi berkembang menjadi ruang belajar yang terus hadir bagi anak-anak Desa Langlang. (nsy)














