Kanal24, Malang – Komisi Informasi (KI) Jawa Timur mendorong Universitas Brawijaya (UB) menjadi contoh penerapan keterbukaan informasi publik bagi perguruan tinggi lain. Konsistensi UB meraih kategori informatif dinilai menjadi modal untuk memperluas praktik keterbukaan informasi, termasuk melalui mahasiswa hingga masyarakat desa.
Dorongan tersebut disampaikan dalam penandatanganan Nota Kesepahaman UB dengan KI Jawa Timur, Perjanjian Kerja Sama PPID UB dengan KI Jatim, serta Launching/Kick-Off Monitoring dan Evaluasi keterbukaan informasi publik di Auditorium Gedung A Lantai 2 Fakultas Ilmu Budaya UB, Rabu (26/8/2026).
Baca juga:
UB Tegaskan Jalur Masuk Kampus Tanpa Calo
UB Dinilai Konsisten dalam Keterbukaan Informasi
Ketua KI Provinsi Jawa Timur A. Nur Aminuddin mengatakan UB memiliki rekam jejak yang cukup kuat dalam penerapan keterbukaan informasi publik. UB disebut telah konsisten memperoleh kategori informatif selama tujuh tahun.

“Universitas Brawijaya ini termasuk kampus yang secara konstan atau secara simultan, istikamah dan seterusnya mendapatkan kategori informatif,” ujar Nur Aminuddin.
Menurutnya, capaian tersebut tidak semestinya berhenti sebagai prestasi internal kampus. Pengalaman UB justru dapat menjadi praktik baik yang dibagikan kepada perguruan tinggi lain di Jawa Timur, baik negeri maupun swasta.
KI Jatim melihat kerja sama dengan UB sebagai salah satu cara untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai hak atas informasi publik.
“Universitas Brawijaya ini menjadi salah satu kampus yang bisa kita jadikan sebagai model, sebagai contoh bagi kampus-kampus yang lain,” katanya.
Mahasiswa Didorong Jadi Agen Keterbukaan
KI Jatim juga menaruh perhatian pada keterlibatan mahasiswa dalam memperluas literasi keterbukaan informasi publik.
Mahasiswa dinilai memiliki posisi strategis karena tidak hanya berada di lingkungan akademik, tetapi juga berinteraksi langsung dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan pengabdian, termasuk Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Nur Aminuddin berharap mahasiswa dapat menjadi bagian dari gerakan yang membawa pemahaman tentang keterbukaan informasi keluar dari lingkungan kampus.
“Mahasiswa juga bisa diberdayakan untuk bagian dari yang akan menyosialisasikan keterbukaan informasi publik di seluruh masyarakat Jawa Timur khususnya,” jelasnya.
Menurutnya, kampus dapat menjadi laboratorium untuk membangun pemahaman mengenai keterbukaan informasi. Pengetahuan tersebut kemudian dapat dibawa mahasiswa ketika menjalankan kegiatan di tengah masyarakat.
Termasuk saat KKN, mahasiswa diharapkan dapat membantu masyarakat memahami hak mereka terhadap informasi publik serta mendorong penguatan layanan informasi di tingkat desa.
“Kita jadikan sebagai corong. Corong untuk melakukan perubahan. Saya katakan di kampus ini sebagai laboratorium keterbukaan informasi publik sekaligus sebagai literasi keterbukaan informasi publik,” ujar Nur Aminuddin.
Komitmen Pimpinan dan SDM Jadi Tantangan
Ketua Bidang Hubungan Kelembagaan dan Tata Kelola KI Jatim M. Sholahuddin menilai penguatan keterbukaan informasi di perguruan tinggi membutuhkan dua hal utama, yakni komitmen pimpinan dan kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, komitmen harus dibangun secara berjenjang, mulai dari pimpinan perguruan tinggi hingga fakultas dan program studi.
“Yang pertama menurut kami komitmen dari pimpinan badan publik kalau PTN ya Pak Rektor. Kemudian kalau di lingkup fakultas maka Pak Dekan juga harus berkomitmen di jurusan kaprodi. Nah, terus kemudian selanjutnya SDM,” kata Sholahuddin.
Selain komitmen, kemampuan SDM dalam mengikuti perkembangan teknologi juga menjadi faktor penting. Digitalisasi menuntut badan publik mampu menyediakan informasi secara cepat dan mudah diakses masyarakat.
“Kalau SDM-nya tidak unggul, tidak update terhadap tantangan zaman, digitalisasi dan lain sebagainya, maka publik pun tidak bisa mendapatkan akses informasi dengan cepat,” ujarnya.
Dalam monitoring dan evaluasi keterbukaan informasi, KI Jatim menilai sejumlah aspek, mulai dari jenis informasi, layanan informasi, komitmen digitalisasi, hingga sarana dan prasarana.
Sholahuddin berharap UB dapat mempertahankan praktik baik yang telah berjalan sekaligus menularkannya kepada perguruan tinggi lain.
“Universitas Brawijaya menjadi salah satu contoh baik bagi kampus-kampus negeri maupun swasta yang diharapkan menjadi, menularkan praktik baik ini kepada kampus-kampus yang lain,” tuturnya.
Ke depan, KI Jatim berharap kerja sama dengan UB tidak berhenti pada penandatanganan dokumen. Keterbukaan informasi diharapkan terus diperluas melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat.
Bagi KI Jatim, mahasiswa dapat menjadi salah satu penghubung penting untuk membawa literasi keterbukaan informasi dari kampus ke masyarakat. (ern)















Comments 1