Kanal24, Malang – Setelah kekacauan besar dalam Spider-Man: No Way Home, Peter Parker akhirnya kembali tanpa harus membawa beban multiverse ke mana-mana. Namun, hidupnya justru tidak menjadi lebih ringan. Dalam Spider-Man: Brand New Day, Peter tampil sebagai sosok yang lebih dewasa, lebih kesepian, dan mulai berhadapan dengan pertanyaan yang jauh lebih manusiawi: siapa dirinya ketika kehidupan sebagai Peter Parker perlahan hilang?
Film arahan Destin Daniel Cretton ini kembali menghadirkan Tom Holland sebagai Peter Parker. Ceritanya mengambil konsekuensi dari keputusan Peter di film sebelumnya, ketika identitasnya terhapus dari ingatan orang-orang terdekat. Dari titik itu, Brand New Day mencoba membawa Spider-Man kembali ke persoalan yang sebenarnya sudah lama menjadi inti karakter ini: kehilangan, tanggung jawab, dan keinginan untuk tetap menjadi manusia di balik topeng pahlawan.
Baca juga:
Creative Book Fair 2026, Mahasiswa UB Bisa Borong Buku Mulai Rp20 Ribu
Peter Parker Tak Lagi Sekadar Anak Sekolah
Hal paling menarik dari Brand New Day justru bukan seberapa besar musuh yang harus dikalahkan Peter, melainkan bagaimana ia menghadapi kesepian.
Peter kini lebih banyak menjalani hidupnya sendiri. Ia tetap menjadi Spider-Man yang berkeliling New York, tetapi kehidupan personalnya jauh lebih kosong. Perubahan tersebut membuat karakter Tom Holland terasa berbeda dibandingkan film-film sebelumnya.
RogerEbert.com menilai Holland mampu membawa Peter ke fase emosional yang lebih matang. Peter tidak lagi sekadar belajar menjadi Spider-Man, tetapi harus memahami bagaimana kehilangan dan patah hati memengaruhi dirinya sebagai manusia.
Di titik ini, film terasa cukup dekat dengan kehidupan anak muda.
Menjadi dewasa ternyata tidak selalu berarti punya lebih banyak jawaban. Kadang justru berarti belajar menerima bahwa beberapa hal yang paling kita inginkan tidak bisa kembali seperti semula.
Saat Film Superhero Berhenti Mengejar Ledakan
Brand New Day tetap memiliki aksi khas Spider-Man. Adegan perkelahian, aksi bergelantungan di gedung, dan kekacauan di New York tetap menjadi bagian penting.
Daya tarik utama Spider-Man: Brand New Day justru hadir saat film ini memberi ruang bernapas bagi para karakternya. Ars Technica menyoroti bahwa kekuatan terbesar film ini terletak pada penokohan yang membumi serta perkembangan emosional Peter Parker, bukan sekadar pamerkan visual CGI.
Pendekatan ini menjadi sajian segar di tengah maraknya film pahlawan super yang berlomba memperluas skala cerita. Pasalnya, makin megah dunia yang dibangun, belum tentu makin dalam emosi yang terpancar.
Brand New Day justru tampil begitu kuat saat kamera fokus mengikuti pergulatan hidup Peter sebagai manusia biasa, ketimbang sekadar menampilkan Spider-Man yang sibuk menyelamatkan kota.
Marvel Masih Terjebak Formula Lama
Sayangnya, film ini belum sepenuhnya berhasil melepaskan diri dari formula Marvel.
Kehadiran sejumlah karakter dari dunia MCU membuat cerita terasa semakin luas, tetapi sekaligus berpotensi mengganggu fokus utama Peter. Ada Frank Castle atau The Punisher yang diperankan Jon Bernthal, Bruce Banner yang kembali dimainkan Mark Ruffalo, hingga karakter Sadie Sink yang menjadi salah satu bagian penting cerita.
Di sinilah pertanyaan menarik muncul: apakah setiap film Marvel memang harus selalu menyiapkan sesuatu untuk film berikutnya?
RogerEbert.com menilai Brand New Day masih memiliki masalah khas MCU, yakni kecenderungan terasa seperti persiapan menuju proyek berikutnya.
Padahal, sebuah film seharusnya tidak perlu meminta penonton mengerjakan “pekerjaan rumah” untuk menikmati ceritanya.
Kalau sebuah cerita sudah kuat, penonton semestinya bisa keluar dari bioskop dengan perasaan puas tanpa harus langsung memikirkan film berikutnya.
Lebih Menyentuh Secara Emosional, tetapi Minim Inovasi
Judul Brand New Day seolah menjanjikan lembaran yang sepenuhnya baru bagi Peter Parker. Namun, film ini nyatanya tidak benar-benar melakukan hard reset.
Elemen-elemen ikonisnya tetap dipertahankan—dinamika emosionalnya dengan MJ masih menjadi jangkar utama cerita, sementara status pahlawan super terus menyulitkannya menjalani hidup normal. Media Time Out bahkan menilai film ini tetap menghadirkan formula Spider-Man yang terbilang familiar, dengan performa Tom Holland dan Zendaya sebagai penggerak utama emosinya.
Meski begitu, pendekatan yang lebih manusiawi justru menjadi kekuatan terbesar film ini. Peter tak dilukiskan sebagai pahlawan serba bisa; ia rapuh, bisa kehilangan arah, dan kerap terdesak mengambil keputusan sulit. Namun, bukankah kelemahan-kelemahan itulah yang membuat kita jatuh cinta pada Spider-Man sejak awal?
Jadi, Layak Ditonton atau Tidak?
Spider-Man: Brand New Day mungkin bukan film yang sempurna. Ceritanya masih harus berbagi ruang dengan kebutuhan besar MCU, beberapa elemen terasa terlalu padat, dan sebagian aksi tidak selalu meninggalkan kesan kuat.
Namun, film ini berhasil menunjukkan satu hal penting: Spider-Man tetap menarik ketika cerita kembali memperhatikan Peter Parker.
Bukan kostumnya. Bukan jumlah musuhnya. Bukan seberapa besar ledakannya.
Melainkan manusia yang memakai topeng tersebut.
Pada akhirnya, Brand New Day bukan benar-benar tentang memulai semuanya dari nol. Film ini lebih cocok dibaca sebagai cerita tentang seseorang yang belajar menerima bahwa dirinya sudah berubah. (ern) (adr)













