Kanal24, Malang – Musim kemarau mulai terasa bukan hanya dari tanah yang mengering, tetapi juga dari sumber air yang semakin sulit diandalkan. Bagi warga di sejumlah wilayah Kabupaten Malang, kebutuhan air bersih kini harus dipenuhi dengan menunggu pasokan datang ke titik-titik distribusi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mencatat distribusi air bersih telah menembus 1.001.300 liter sejak masa tanggap darurat kekeringan dimulai pada 8 Agustus hingga 2 September 2026. Bantuan tersebut diberikan kepada sekitar 2.657 kepala keluarga atau 8.479 jiwa yang terdampak kekeringan. Pada Rabu (2/9/2026), BPBD kembali menyalurkan 35 ribu liter air menggunakan dua armada dengan tujuh rit pengiriman ke Desa Sitiarjo dan Kedungbanteng, Kecamatan Sumbermanjing Wetan.
Baca Juga:
8.957 Warga Terdampak Kekeringan, BPBD Malang Salurkan 824 Ribu Liter Air
Kebutuhan Air Terus Bertambah
Distribusi lebih dari satu juta liter dalam kurun kurang dari satu bulan menunjukkan bahwa persoalan air bersih di Kabupaten Malang tidak berhenti pada satu kali bantuan. Pasokan harus dikirim secara bertahap menyesuaikan kondisi sumber air dan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.
Sejumlah desa di empat kecamatan tercatat masuk dalam penanganan kekeringan, yakni Sumbermanjing Wetan, Gedangan, Sumberpucung, dan Donomulyo. Kawasan Sumbermanjing Wetan menjadi salah satu titik dengan cakupan wilayah terdampak cukup besar, termasuk Desa Sumberagung, Sitiarjo, dan Kedungbanteng.
Distribusi juga menyasar Desa Tumpakrejo di Kecamatan Gedangan, Desa Karangkates di Kecamatan Sumberpucung, serta Desa Sumberoto di Kecamatan Donomulyo. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan air bersih selama kemarau tidak hanya muncul di satu kawasan, tetapi tersebar di beberapa wilayah Kabupaten Malang.
Perbedaan volume distribusi di setiap wilayah juga cukup mencolok. Desa Karangkates tercatat menerima 259.800 liter air bersih sejak penyaluran dimulai. Sementara Desa Sumberagung menerima 170 ribu liter, Tumpakrejo 155 ribu liter, Kedungbanteng 75 ribu liter, dan Sumberoto 69.600 liter.
Karangkates Jadi Penerima Terbesar
Besarnya distribusi ke Karangkates menjadi salah satu gambaran bagaimana kebutuhan air dapat berbeda antarwilayah. Ketika sumber air lokal tidak lagi mencukupi, pasokan dari luar menjadi penopang bagi aktivitas warga.
Kondisi tersebut membuat distribusi air bersih menjadi pekerjaan yang membutuhkan koordinasi. Bukan hanya soal ketersediaan air, tetapi juga bagaimana air dapat dikirim tepat ke lokasi yang membutuhkan dengan armada dan rit pengiriman yang tersedia.
Pada penyaluran 2 September, misalnya, BPBD mengirimkan 20 ribu liter air ke Desa Sitiarjo dan 15 ribu liter ke Desa Kedungbanteng. Pengiriman dilakukan menggunakan dua armada dengan total tujuh rit.
Angka tersebut menambah total distribusi yang sebelumnya telah mencapai 966.300 liter. Dengan tambahan 35 ribu liter, akumulasi distribusi sejak 8 Agustus menjadi 1.001.300 liter. Artinya, kebutuhan air bersih masyarakat terus menuntut respons selama kondisi kemarau masih berlangsung.
Distribusi Darurat Belum Menjawab Persoalan Air
BPBD Kabupaten Malang masih melakukan pemantauan terhadap wilayah yang mengalami keterbatasan air. Penanganan melibatkan sejumlah unsur, mulai dari PMI Kabupaten Malang, Dinas Pemadam Kebakaran, Perumda Tirta Kanjuruhan, PJT I Karangkates, pemerintah desa, puskesmas, hingga relawan.
Koordinasi tersebut penting karena distribusi air bersih bersifat responsif. Ketika sumber air warga kembali mencukupi, kebutuhan tangki dapat berkurang. Sebaliknya, jika kemarau berlangsung lebih panjang, distribusi harus kembali dilakukan.
Data terbaru juga menunjukkan perubahan jumlah warga terdampak dibandingkan pendataan sehari sebelumnya. Pada 1 September, BPBD mencatat 2.857 KK atau 8.957 jiwa terdampak, dengan distribusi mencapai 824.400 liter. Sehari kemudian, total penerima yang tercatat menjadi 2.657 KK atau 8.479 jiwa, sementara distribusi telah melewati satu juta liter.
Perubahan angka tersebut menunjukkan bahwa data kekeringan terus diperbarui mengikuti kondisi lapangan. Namun, satu hal yang tetap terlihat adalah kebutuhan air bersih belum selesai hanya dengan satu kali pengiriman.
Selama sumber air belum kembali normal dan musim kemarau masih berlangsung, distribusi tangki menjadi salah satu tumpuan warga. Di sisi lain, kondisi ini juga memperlihatkan pentingnya kesiapan sumber dan infrastruktur air agar masyarakat di wilayah rawan kekeringan tidak selalu berada dalam posisi menunggu bantuan ketika musim kemarau datang. (ndr)














